by

Pendidikan Antara Kurikulum Industri Kapitalisme Dan Kurikulum Islam

-Opini-37 views

 

 

Oleh : Dian Sefianingrum, Mahasiswi Al Azhar, Fakultas Psikologi Dan Pendidikan

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Dunia pendidikan semakin berorientasi pada industrialisasi. Hal ini seperti diungkapkan Jokowi yang meminta perguruan tinggi untuk memberi ruang lebih besar bagi dunia industri. Dengan demikian, mahasiswa bisa belajar dari lapangan dan mempersiapkan diri untuk masa depan.

Dilansir detik.com (27/07/2021) Presiden Jokowi mengemukakan, teknologi saat ini telah menjadi master disrupsi berbagai sektor telah beralih dan menyesuaikan terhadap perkembangan teknologi. Lembaga pendidikan tinggi mau tidak mau harus memperkuat posisinya sebagai edutech institution. Terlebih adanya pandemi covid-19 yang menjadi rangkaian serial disrupsi menambah disrupsi sebelumnya yang dipicu revolusi industri 4.0

Dengan demikian, Jokowi meminta agar kurikulum kampus memberi bobot SKS yang jauh lebih besar bagi mahasiswa untuk belajar dari para praktisi dan industri. Exposure mahasiswa dan dosen kepada industri teknologi masa depan harus ditingkatkan.

Pengajar dan mentor dari perilaku industri, magang mahasiswa ke dunia industri dan bahkan industri sebagai tenant di dalam kampus harus ditambah. Termasuk organisasi praktisi lainnya harus diajak berkolaborasi.

Melalui skema socio-techno innopreneur dalam kampus merdeka dan merdeka belajar, arah dunia pendidikan harus mefasilitasi mahasiswanya agar mampu bersaing di pasar kerja yang makin terbuka. Sehingga nantinya mereka dapat menjadi industri yang menciptakan lapangan kerja, meningkatkan status sosial, dan membuat diri maupun UMKM Indonesia naik kelas.

Kelemahan Kurikulum Industri

Kenyataan bahwa pendidikan saat ini digunakan sebagai penggerak mesin industri kapitalis memang benar adanya. Bahkan paradigma ini dibangun dan ditanamkan ke dalam benak generasi sekarang.

Belajar bukan lagi mencari ilmu agar menjadi manusia cerdas dan bermanfaat untuk umat manusia melainkan untuk mendapatkan ijazah, sehingga setelah lulus langsung mendapatkan pekerjaan.

Alasan ini pun semakin logis didukung fakta bahwa menuntut ilmu dalam satu tingkatan pendidikan saat ini sangat erat Dengan biaya tinggi. Semakin tinggi jenjang pendidikan, biaya yang dikeluarkan juga semakin besar.

Maka tak heran jika muncul pemikiran dan semangat mengembalikan modal yang pernah dikeluarkan semasa belajar tersebut dengan harapan besar bisa bekerja dan atau mendapat posisi dalam sebuah instansi perkantoran menjadi motivasi tersendiri. Inilah sebuah produk pendidikan yang mengadopsi model pendidikan berbasis pada pemikiran materialisme kapitalistik.

Dalam konteks kapitalisme, pendidikan menjadi sebuah institusi absurd yang bersifat komersil. Besaran budgeting menjadi faktor penentu terhadap kualitas sebuah pendidikan yang didapat.

Kurikulum yang menjadi acuan pendidikan kapitalistik ini berbasis pada knowledge Based Economy dengan model pendidikan ‘Triple Helix’ yaitu Academic, Business, Government, yang memiliki link and match terhadap industri dalam upaya memanen tenaga kerja terdidik.

World Bank merumuskan 4 pilar untuk menumbuh- kembangkan Knowledge Based Economy yaitu;

Pertama, memiliki kebijakan dan regulasi untuk menstimulasi dan melindungi pertumbuhan ekonomi/industri dalam negeri

Kedua, memiliki sistem pendidikan dan pelatihan nasional yang unggul untuk menghasilkan manusia yang berkompetensi untuk bekerja atau menciptakan nilai tambah ekonomi dalam negeri.

Ketiga, memiliki strategi dan sistem inovasi nasional berbasis riset dan pengembangan.

Keempat, memiliki teknologi informasi dan computer (TIK) yang mampu memfasilitasi proses penyimpanan, penyebaran, dan pemanfaatan pengetahuan/informasi kepada seluruh masyarakat di wilayah negaranya.

Adapun model ‘Triple Helix’ yakni Academic-Business-Government industri berperan sebagai rumah produksi, pemerintah sebagai regulator dan fasilitator, dan universitas sebagai katalisator.

Sinergitas 3 sektor ini makin mengukuhkan transformasi pendidikan berbasis kapitalisasi pengetahuan yaitu melahirkan SDM dalam inovasi, daya saing, dan skill siap kerja.

Diharapkan semua lulusan mempunyai bekal menghadapi dunia kerja. Andai kata tidak terserap sebagai tenaga kerja, setidaknya mereka mampu berwirausaha.

Perkawinan pendidikan dengan dunia industri sejatinya mendeskripsikan sebuah keinginan poltik (political will) pemerintah yang nihil. Negara tidak mampu berdikari dan membangun pendidikan secara integral karena masih memiliki ketergantungan yang kuat terhadap dunia industri. Sementara perkawinan pendidikan dan industri ini hanya memposisikan produk di etalase karyawan atau pekerja di bawah kendali kapitalis bukan sebaga pelopor peradaban dan intelektual.

Lihatlah model pendidikan yang disodorkan islam. Pendidikan dalam Islam diatur sedemikian rupa hingga melahirkan produk pemikiran di bidang ilmu pengetahuan, kedokteran dan teknologi.

Dalam islam, industri dikelola mandiri oleh negara yang meliputi kemampuan untuk menguasai, mengendalikan, dan menjamin keamanan pasokan aspek-aspek penting industri seperti; bahan baku, teknologi, rancang bangun, finansial, kemampuan untuk membangun mata rantai industri yang lengkap, kebijakan serta sumber daya manusia. SDM ini dihasilkan dari sistem pendidikan Islam yang berbasis aqidah Islam dan ilmu pengetahuan.

Visi pendidikan Islam tidak berorientasi pada man power belaka tapi lebih kepada asas fundamental yang merujuk pada wahyu Allah.

Oleh karena itu, kurikulum pendidikan Islam tidak akan berubah-ubah meskipun berganti menteri. Hal ini disebabkan model pendidikan islam ini sudah terintegrasikan secara menyeluruh (integrated model.

Tujuan pendidikan islam adalah menghasilkan generasi yang memiliki kepribadian Islam dengan pola pikir dan pola sikap Islam. Faqih fiddin (penguasaan terhadap ilmu agama), faqih finnas (terdepan dalam sains dan teknologi serta kreatif dan inovatif dalam konstruksi teknologi) dan memiliki jiwa kepemimpinan (leadership).

Alhasil, output pendidikan Islam menghasilkan generasi yang jauh dari persaingan duniawi dan individualisme karena orientasi mereka adalah kemaslahatan umat manusia dan memberikan kebaikan bagi dunia sebagai perwujudan rahmatan lil aalamin.

Semangat kolaborasi dan persatuan atas dasar Islamic brotherhood, ukhuwwah islamiyyah mengiasi karya-karya mereka sebagai investasi dan jariyah  terbaik bagi kehidupan akhirat nantinya.

Inilah sistem pendidikan Islam yang terbukti menghasilkan generasi ulung yang karyanya abadi sepanjang masa seperti ahli bedah al Zahrawi; ahli mekanika al Jazari, ahli historiografi, sosiologi dan ekonomi, Ibnu Khaldun; ahli optik Ibnu Haitham; mujahid sekaligus mujtahid mahzab, yakni Imam Syafi’I  dan masih banyak lagi.

Semua ini bisa diraih dan dirasakan keberkahannya jika Islam dijadikan sebagai aturan sistem kehidupan bukan semata agama spiritual. Wallahua’lam.[]

Comment

Rekomendasi Berita