Pendidikan Gaya “Bank”: Sebuah Alat Penindasan dan Hilangnya Pemikiran Kritis

Opini140 Views

Penulis: Akhmad Sayyid Sabiq | Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Dirasat Islamiyah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Hubungan antara guru dan murid di dalam kelas sejatinya memperlihatkan watak naratif yang sangat mendasar. Dalam relasi ini, guru diposisikan sebagai subjek pencerita, sementara murid menjadi objek yang mendengarkan. Guru berbicara tentang realitas seolah-olah ia sesuatu yang beku, final, dan mudah diprediksi.

Tugas pendidikan lalu direduksi menjadi sekadar “mengisi” murid dengan rangkaian narasi—narasi yang sering kali terlepas dari realitas hidup murid dan tercerabut dari keseluruhan pengalaman yang memberi makna pada pengetahuan itu sendiri. Kata-kata pun menjadi kosong, asing, dan kehilangan daya hidupnya.

Ciri utama pendidikan naratif bukan terletak pada daya transformasinya, melainkan pada keindahan dan kerapian kata-kata yang disampaikan guru. “Empat kali empat adalah enam belas, ibu kota Indonesia adalah Jakarta.” Kalimat-kalimat itu dihafal, disimpan, dan diulang, tanpa benar-benar dipahami.

Murid dapat mengucapkannya dengan lancar, namun tak pernah diajak menyelami makna di balik “empat kali empat”, atau menyadari konteks historis, sosial, dan politis mengapa Jakarta menjadi ibu kota Indonesia.

Narasi yang disampaikan guru akhirnya hanya melatih murid untuk menghafal cerita. Lebih jauh lagi, metode ini menjelma menjadi praktik dehumanisasi: murid diperlakukan sebagai “wadah” kosong yang harus “diisi”.

Semakin banyak guru mengisi, semakin dianggap berhasil perannya; semakin penuh wadah itu, semakin dinilai baik muridnya.

Pada titik inilah pendidikan berubah menjadi aktivitas menyerupai kegiatan menabung. Murid berperan sebagai tempat penyimpanan, sementara guru bertindak sebagai penabung. Guru tidak lagi berdialog, melainkan membuat pernyataan-pernyataan sepihak, dan murid dilatih untuk sabar menerima.

Inilah yang dikenal sebagai pendidikan gaya “bank”: sebuah sistem di mana tujuan murid hanyalah menerima, mengatur, dan menyimpan apa yang disampaikan guru.

Pengetahuan dipahami sebagai hadiah dari mereka yang merasa berilmu kepada mereka yang dianggap tidak tahu. Di baliknya tersembunyi ideologi penindasan yang memandang pendidikan bukan sebagai proses pencarian bersama, melainkan sebagai mekanisme pengendalian.

Dalam konsep pendidikan gaya bank, manusia dipandang sebagai makhluk yang mudah disesuaikan dan diatur. Semakin banyak masukan yang diterima murid tanpa proses kritis, semakin kecil peluang mereka mengembangkan kesadaran sebagai subjek yang mampu mengubah dunia.

Kepasifan menjadi kebajikan, sementara dunia diterima apa adanya, terpisah dari realitas yang sejatinya bisa dipersoalkan dan diubah.

Pemadaman kreativitas dan kepercayaan diri murid justru menjadi tujuan terselubung sistem ini—sebuah kondisi yang menguntungkan kaum penindas, yang tidak menghendaki dunia dipertanyakan, apalagi diubah.

Kaum penindas, pada dasarnya, tidak ingin mengubah situasi yang menindas, melainkan mengubah kesadaran mereka yang tertindas. Semakin mudah murid menyesuaikan diri dengan sistem yang ada, semakin mudah pula mereka dikuasai.

Karena itulah, segala bentuk pendidikan yang mendorong kreativitas, keberanian bertanya, dan kesadaran kritis kerap dicurigai. Kesadaran murid dipandang sebagai ancaman.

Ironisnya, banyak guru—baik sadar maupun tidak—tidak menyadari bahwa pengetahuan yang mereka ajarkan sering kali bertentangan dengan kenyataan hidup murid.

Pendidikan gaya bank menciptakan dikotomi tajam antara manusia dan dunia: manusia hadir di dunia, tetapi tidak terlibat di dalamnya; ia menjadi penonton, bukan pencipta ulang realitas.

Manusia dipandang bukan sebagai makhluk yang sadar, melainkan sebagai makhluk yang “memiliki kesadaran” dalam arti pasif—sebuah jiwa kosong yang siap menerima apa pun dari luar.

Dengan pemahaman semacam ini, peran pendidik direduksi menjadi pengatur lalu lintas informasi agar dunia “masuk” ke dalam diri murid. Proses belajar dipersempit menjadi aktivitas menerima.

Akibatnya, pendidikan justru melahirkan manusia-manusia yang pasif, patuh, dan mudah menyesuaikan diri. Manusia terdidik adalah manusia yang “tersetel” dengan baik pada dunia yang dibangun oleh kaum penindas—dan tidak banyak bertanya tentangnya.

Pendidikan gaya bank menjadikan murid sekadar penerima pesan, tanpa dorongan untuk menggali makna yang lebih dalam. Sikap ini pada hakikatnya adalah bentuk penindasan intelektual.

Murid terkurung dalam cara berpikir yang sempit, kehilangan daya kritis yang justru sangat dibutuhkan untuk memahami dunia dan menyelesaikan persoalan secara bermakna.

Berpikir kritis sejatinya adalah kemampuan merefleksikan pikiran dan memecahkan masalah. Kemampuan ini bertumpu pada sejumlah kebiasaan penting.

Pertama, keingintahuan. Rasa ingin tahu mendorong seseorang untuk terus bertanya dan tidak pernah puas pada jawaban permukaan. Namun dalam pendidikan gaya bank, murid dipaksa menerima informasi secara instan, sehingga keingintahuan perlahan padam.

Kedua, skeptisisme. Sikap ini menuntut keberanian untuk tidak langsung percaya, untuk selalu mencari bukti dan alasan. Pendidikan gaya bank justru melatih murid untuk patuh tanpa curiga, karena sikap kritis dianggap berbahaya bagi tatanan yang mapan.

Ketiga, logika. Rasionalitas membantu manusia menilai apakah suatu argumen masuk akal atau tidak. Dalam sistem pendidikan yang menekankan hafalan, akal kehilangan fungsinya; murid menerima pengetahuan secara mentah, tanpa proses nalar.

Keempat, kreativitas. Kemampuan menghubungkan ide-ide baru sering lahir dari rasa ingin tahu dan kebebasan berpikir. Ketika kedua hal itu dimatikan, kreativitas pun ikut terkubur.

Kelima, empati. Melihat persoalan dari sudut pandang orang lain memperkaya pemahaman dan membuka kemungkinan solusi baru. Namun ketika nalar dan kesadaran kritis melemah, empati pun perlahan menghilang.

Kebiasaan-kebiasaan inilah yang terkikis dalam pendidikan gaya bank. Murid dipaksa kehilangan rasa ingin tahu, dimatikan daya nalarnya, dibatasi kreativitasnya, dan dijauhkan dari empati.

Hilangnya sifat-sifat ini bukan sekadar kegagalan pedagogis, melainkan kondisi yang sangat menguntungkan bagi kaum penindas—karena tanpa pemikiran kritis, penindasan dapat berlangsung dengan tenang dan nyaris tanpa perlawanan.[]

Comment