Pergeseran Kekuasaan Negara Adidaya dan Prediksi Bangkitnya Peradaban Islam

Opini1459 Views

Penulis: Puput Hariyani, S.Si | Womanpreneur

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Hingga saat ini, Amerika Serikat (AS) masih menempati posisi sebagai negara adidaya yang belum tergantikan. Dominasi peradaban yang dipimpinnya menjadikan AS tampil sebagai kekuatan global yang seolah tak tersentuh. Namun, dalam hukum sejarah, setiap peradaban memiliki siklus: lahir, berkembang, lalu mengalami kemunduran.

Sejarah mencatat bahwa pergeseran kekuatan global merupakan fenomena yang terus berulang.

Pertama, Kekaisaran Romawi pernah mengalami kekalahan besar dari Kekaisaran Parthia dalam Pertempuran Carrhae (53 SM), serta konflik panjang dengan Kekaisaran Sassaniyah.

Kedua, Kekaisaran Persia akhirnya ditaklukkan oleh Kekhilafahan Islam, terutama melalui kemenangan penting di Qadisiyah dan Nahavand (642 M) pada masa Khalifah Umar bin Khattab.

Ketiga, setelah masa keemasan peradaban Islam—yang oleh Eropa disebut sebagai “abad kegelapan”—Imperium Britania bangkit menjadi kekuatan global pasca Revolusi Industri. Keempat, dominasi Inggris kemudian bergeser ke Amerika Serikat setelah Perang Dunia II, menjadikan AS sebagai kekuatan utama dunia dalam bidang ekonomi, militer, dan politik.

Memasuki 2026, dinamika geopolitik kembali menunjukkan potensi pergeseran. Konflik yang memanas antara Iran dan koalisi AS-Israel dinilai oleh sebagian analis sebagai indikator melemahnya dominasi Barat.

Eskalasi ini tidak hanya memicu krisis energi global dan gangguan rantai pasok, tetapi juga memperlihatkan risiko kebijakan luar negeri AS yang agresif.

Tanda-Tanda Melemahnya Dominasi Barat

Peradaban Barat yang bertumpu pada kapitalisme dinilai semakin menghadapi tantangan serius. Konflik berkepanjangan membawa beban ekonomi yang besar. Sejumlah analisis menyebut biaya perang dapat menembus US$1 triliun atau sekitar Rp17.000 triliun.

Di sisi lain, kondisi fiskal AS juga tertekan. Utang nasional pada Maret 2026 disebut telah mencapai sekitar US$39 triliun. Beban ini secara tidak langsung ditanggung oleh warga negara, memperlihatkan tekanan ekonomi yang kian nyata.

Gelombang protes besar pun terjadi di berbagai wilayah AS dengan tajuk “No Kings” pada akhir Maret 2026. Aksi ini melibatkan jutaan massa di ribuan titik, sebagai bentuk kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat.

Tak hanya di dalam negeri, gelombang protes juga meluas ke berbagai kota di Eropa dan Australia. Demonstrasi ini menyoroti kekhawatiran global terhadap arah kebijakan luar negeri AS, termasuk konflik di Timur Tengah serta isu demokrasi.

Sejumlah pengamat internasional turut mengkritik kebijakan tersebut. Mereka menilai pendekatan yang diambil AS justru melemahkan kredibilitasnya di mata dunia dan memperburuk stabilitas global.

Prediksi Potensi Kebangkitan Islam

Di tengah dinamika tersebut, muncul berbagai analisis mengenai peluang kebangkitan peradaban Islam. Meskipun masih bersifat prediktif, sejumlah indikator dinilai menarik untuk dicermati.

Pertama, meningkatnya resistensi terhadap dominasi Barat di berbagai kawasan menunjukkan adanya perubahan persepsi global.

Kedua, solidaritas umat Islam lintas negara dalam merespons konflik menunjukkan potensi kekuatan kolektif yang besar.

Ketiga, posisi strategis negara-negara Muslim dalam geopolitik dunia—baik dari sisi sumber daya maupun letak geografis—memberikan peluang untuk memainkan peran lebih signifikan.

Namun demikian, kebangkitan tersebut tidak dapat dilepaskan dari faktor internal umat Islam sendiri, seperti persatuan, kualitas kepemimpinan, serta kemampuan membangun sistem yang adil dan berkelanjutan.

Perspektif Islam dalam Pergantian Kekuasaan

Dalam pandangan Islam, pergiliran kekuasaan merupakan sunnatullah. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapat pelajaran…” (QS. Ali Imran: 140).

Rasulullah SAW juga pernah mengabarkan runtuhnya dua imperium besar pada masanya, yaitu Persia dan Romawi, yang kemudian terbukti dalam sejarah. Hadis lain menyebutkan tentang fase kepemimpinan umat yang akan kembali kepada sistem yang mengikuti manhaj kenabian.

Langkah Strategis Umat

Dalam menghadapi situasi global saat ini, umat Islam dituntut memiliki pemahaman yang jernih terhadap realitas. Sebagian ulama membedakan antara zamanu fitan (zaman penuh fitnah) dan zamanu fihi al-fitan (zaman yang di dalamnya terdapat fitnah).

Pada kondisi saat ini, sebagian pandangan menyebut bahwa umat berada pada fase kedua, di mana kebenaran dan kebatilan masih dapat dibedakan.

Oleh karena itu, langkah yang diperlukan bukanlah pasif, melainkan aktif dalam membangun kesadaran umat melalui dakwah, pendidikan, serta amar ma’ruf nahi munkar.

Upaya tersebut tidak hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif dan terorganisir, guna menghadirkan perubahan yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, dinamika global yang terjadi saat ini dapat menjadi momentum refleksi bagi umat Islam untuk memperkuat peran dan kontribusinya dalam peradaban dunia. Wallahu’alam bi ash-shawab.[]

Comment