Pertanyakan Otoritas Kebenaran di Era AI, Dr. H.J. Faisal: Jangan Sampai Algoritma Gantikan Nurani Manusia

Pendidikan2 Views

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan dominasi algoritma dalam kehidupan sehari-hari dinilai telah mengubah cara manusia memandang kebenaran. Pensyarah Program Studi PAI UNIDA Bogor, Dr. H. J. Faisal, mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan algoritma sebagai satu-satunya rujukan dalam menentukan benar atau salah.

Dalam catatan yang dikirim ke Redaksi, Selasa (30/6/2026), Faisal mengungkapkan bahwa keprihatinannya bermula dari pengalaman sederhana di sebuah grup WhatsApp.

Saat menyampaikan pendapat pribadinya, ia mendapat sanggahan dari seorang dosen yang menurutnya hanya menyalin jawaban AI secara utuh tanpa terlebih dahulu mengkajinya secara kritis.

“Yang membuat saya prihatin bukan karena pendapat saya disanggah, tetapi karena sanggahan itu langsung diambil bulat-bulat dari AI. Seorang akademisi seharusnya tetap mengedepankan nalar kritis, bukan sekadar menjadikan AI sebagai otoritas kebenaran,” ujar Faisal.

Menurut Faisal yang tergabung dalam Persaudaraan Jurnalis Muslim (PJMI) ini, fenomena tersebut menunjukkan adanya pergeseran besar dalam cara manusia mencari dan memvalidasi kebenaran.

Jika dahulu masyarakat menjadikan agama sebagai rujukan moral, kemudian beralih kepada rasionalitas manusia melalui humanisme, kini data dan algoritma mulai mengambil posisi tersebut.

“Kita sedang memasuki era ketika data dan algoritma menjadi kompas baru dalam menentukan apa yang dianggap benar,” katanya.

Faisal mengaitkan fenomena itu dengan gagasan dataisme yang diperkenalkan oleh penulis Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Deus.

Menurutnya, Harari menjelaskan bagaimana algoritma perlahan mampu menggantikan intuisi manusia dalam berbagai keputusan, mulai dari memilih hiburan, menentukan rute perjalanan, hingga mencari pasangan hidup.

Namun, Faisal mengingatkan bahwa algoritma tidak selalu identik dengan kebenaran.

“Kesalahan yang terus diulang oleh sistem digital dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap benar. Di sinilah letak bahayanya,” ujarnya.

Ia menilai algoritma pada dasarnya hanyalah alat yang diciptakan manusia sehingga tidak memiliki nilai moral secara intrinsik.

“Algoritma tidak memiliki kompas etika. Ia hanya menjalankan logika yang ditanamkan manusia. Kalau datanya bias atau dimanipulasi, maka hasilnya pun akan ikut bias,” jelasnya.

Menurut Faisal, kepentingan ekonomi dan monetisasi platform digital berpotensi membuat algoritma lebih mengutamakan distribusi informasi yang menguntungkan pihak tertentu daripada menyajikan kebenaran secara objektif.

“Hari ini, kebenaran di ruang digital sering kali bukan ditentukan oleh isi informasinya, tetapi oleh siapa yang paling kuat mendistribusikan dan mengulang narasi tersebut,” katanya.

Faisal juga menyoroti pergeseran otoritas dari nilai-nilai spiritual menuju teknologi digital. Ia menyebut dunia saat ini sedang menghadapi benturan antara paradigma teistik yang meyakini kebenaran bersumber dari Tuhan dan paradigma sekuler digital yang menjadikan data sebagai otoritas utama.

“Tantangan terbesar kita bukan memilih salah satunya, tetapi membangun jembatan antara kemajuan teknologi dengan nilai moral dan spiritual agar manusia tidak kehilangan arah,” ujarnya.

Terkait perkembangan AI, Faisal menegaskan dirinya tidak menolak teknologi. Ia justru mengajak masyarakat untuk memanfaatkannya secara bijak tanpa kehilangan daya kritis.

“AI harus menjadi alat bantu berpikir, bukan pengganti cara berpikir. Manusia tetap harus memiliki ruang untuk menggunakan akal, hati nurani, serta nilai-nilai moral dan spiritual dalam mengambil keputusan,” tegasnya.

Sebagai penutup, Faisal mengingatkan bahwa kebebasan manusia di era digital tidak lagi sekadar soal kemampuan memilih, melainkan kemampuan menyadari sejauh mana pilihan tersebut dipengaruhi oleh algoritma.

“Pertanyaan besar kita hari ini bukan lagi sekadar mana yang benar, tetapi mana yang paling benar. Di situlah manusia dituntut tetap kritis dan tidak menyerahkan sepenuhnya otoritas kebenaran kepada teknologi,” pungkasnya.[]

Comment