by

Pilih Al Qur’an atau Pancasila, Sebuah Pertanyaan Yang Dapat Membahayakan Akidah

-Opini-44 views

 

 

Oleh: Setya Kurniawati, BMI Malang dan Pegiat di Pena Langit

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) yang dilakukan pada pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai syarat pengalihan status pegawai KPK menjadi aparatur sipil negara menuai kontroversi.

Hal ini karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam TWK tersebut dinilai tidak memiliki kaitan signifikan terhadap kinerja dan tupoksi pemberantasan korupsi.

“Aku ditanya bersedia enggak lepas jilbab. Pas jawab enggak bersedia, dibilang berarti lebih mementingkan pribadi daripada bangsa negara,” ucap seorang pegawai KPK tentang Tes Wawasan Kebangsaan sebagaimana dilansir detik.com (7/5/2021).

Selain itu, pertanyaan Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) KPK juga melipir  mengenai kesediaan lepas jilbab. Pertanyaan yang tidak kalah menjadi kontroversi ialah pilih Al-Qur’an atau Pancasila. Tentu saja pertanyaan ini menjadi sorotan dan menimbulkan pro dan kontra di tengah publik.

Salah satu komentar dari pihak yang pro terhadap pertanyaan tersebut yaitu Ketua Pengurus Pusat (PP) GP Ansor Bidang Ekonomi, Sumantri Suwarno, ia mengatakan jika pertanyaan tersebut dari lembaga pemerintah maka jawabannya adalah Pancasila. Menurut dia, agama adalah ranah privasi.

“Kalau di-test lembaga pemerintah, ditanya memilih Pancasila atau agama, tentu yang relevan adalah memilih Pancasila. Agama adalah ruang privat yang tidak bersifat opsional. Ketika seseorang beriman maka agama bukan opsi yang bisa digeser dengan pilihan lain,” cuitnya dalam akun Twitter @mantriss seperti dilihat di Jakarta, Kamis (3/6/2021).

Adapun yang kontra, salah satunya ialah guru besar UIN Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra menyebut pertanyaan dalam TWK pada KPK melecehkan agama. Karena mempertentangkan Pancasila dengan Al Qur’an.

“Kenapa menyimpang? Karena isinya banyak mengandung pelecehan terhadap agama. Mempertentangkan Al Qur’an dengan Pancasila misalnya,” ucap Azyumardi dalam Mata Najwa yang disiarkan oleh Trans7, Rabu (2/6).

Mempertentangkan Pancasila dan Al Qur’an jelas membahayakan akidah. Apalagi dengan dalih test ini dilakukan dalam rangka pengabdian kepada negara sedangkan agama adalah ranah privat sehingga harusnya mementingkan kepentingan negara dibandingkan pribadi.

Sebagai seorang muslim pertanyaan dan pernyataan tersebut tak boleh dianggap biasa. Karena telah nyata menyasar hal-hal yang sangat prinsip dalam Islam, seolah mengalahkan identitas islam dengan identitas negara keindonesiaan dan menjadikan Al Qur’an kehilangan power sebagai petunjuk dan solusi problem hidup bukan hanya untuk umat Islam sendiri, tapi umat manusia secara keseluruhan. Hal ini akan memarginalkan peran Al Quran dalam kehidupan.

Al Qur’an adalah pedoman hidup, di dalamnya terdapat aturan Allah SWT sebagai petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupan mejadi insan yang bertaqwa. Begitupun dalam perihal bernegara harus memandang pedoman Al Quran sebagaimana dalam firmanNya:

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan” (TQS. Al A’raf: 96).

Selain itu, menjadikan agama berada pada ruang privat merupakan pemandulan agama, ada bahaya moderasi agama di sini. Karena seolah memberikan gambaran bahwa semua agama sama saja, padahal Islam telah dimenangkan di atas semua agama.

“ Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi” (TQS. Al Fath: 28).

Upaya marginalisasi agama sudah berlangsung sejak lama dengan gaya dan bentuk yang berbeda. Ada yang  berselimut moderasi, pemikiran dan sebagainya.

Hingga hari ini, topik moderasi beragama masih saja mengarus di berbagai forum dan media massa. Berbagai simposium, seminar, dan  narasi dengan berbagai pendekatan.

Moderasi agama mengambil sikap Islam yang kompromistis dan jalan tengah, Islam yang berkompromi dengan selain Islam, syariat Islam dikompromikan dengan syariat selain Islam atau dengan agama lainnya.

Hasilnya jelas bukan Islam yang sebenarnya melainkan Islam moderat, menjadikan Islam setengah-setengah.

Istilah moderasi agama tidak pernah dikenal dalam khazanah pemikiran Islam. Islam seperti ini (moderat, ed.) justru secara perlahan akan merusak akidah umat dan memarginalkan Islam dan syariatnya dalam kehidupan yang universal.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × five =

Rekomendasi Berita