by

PMM UMM Gelar Teras Belajar Untuk Anak-anak di Desa Gadingkulon

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Mahasiswa PMM Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kelompok 33 mengadakan kegiatan “Teras Belajar” bersama anak-anak di Desa Gadingkulon Kabupaten Malang, Kamis (13/08/2020).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) yang diselenggarakan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Mahasiswa yang tergabung dalam kelompok 33 itu yakni Else Dyah Maya Saputri, Annisa Dyah Febrianti, Rizkika Dwi Meilinda, Risma Ilmi Fazila, dan Karina Putri Ramadhany dengan dosen pembimbing lapang Ary Bakhtiar, S.P, M.Si. dengan tema “Edukasi Masa Transisi New Normal Di Desa Gadingkulon Kecamatan Dau Kabupaten Malang”.

Selama pandemi covid-19 ini pembelajaran di seluruh jenjang pendidikan dilakukan secara daring, begitupun di Desa Gadingkulon.

Anak-anak di SDN 1 Gadingkulon juga melakukan pembelajaran secara daring. Selama pembelajaran secara daring siswa melakukan pembelajaran dari rumah.

Meskipun pembelajaran dilakukan secara daring, setiap hari siswa selalu ke sekolah untuk mengumpulkan tugas kepada guru wali kelas. Ketika ke sekolahan siswa diwajibkan untuk memakai seragam, sepatu dan tidak lupa wajib menggunakan masker.

“Di masa pandemi ini kegiatan pembelajaran tidak mungkin dilakukan secara tatap muka, karena disinyalir dapat memicu penyebaran virus corona. Namun tidak semua anak dapat memahami pembelajaran secara daring dengan baik, bahkan sebagian orang tua ada yang kesulitan memfasilitasi belajar bagi anak-anaknya,” ujar Else Dyah koordinator kelompok.

“Kalau ada tugas dari guru, saya dibantu oleh ibu tapi kalau ibu juga tidak bisa saya akan searching jawaban di google,” ungkap Reza.

Dari ungkapan beberapa siswa sebagai narasumber dapat disimpulkan bawasannya pembelajaran daring sebenarnya belum efektif.

Setiap hari siswa hanya diberikan tugas untuk dikerjakan tanpa ada pemberian materi yang dijelaskan kepada siswa.

Selain itu, karena pembelajaran berbasis daring, maka setiap siswa setidaknya harus mempunyai handphone atau smartphone yang canggih dan tentunya kuota juga. Padahal tidak semua orang tua siswa berada di tingkat ekonomi yang baik.

Dalam kondisi pandemi seperti ini mencari kebutuhan ekonomi sangatlah sulit. Demi anak bisa mengikuti pembelajaran secara daring, para orang tua harus ekstra bekerja keras mengumpulkan uang untuk sekadar membelikan handphone yang canggih dan juga kuota.

Siswa yang tidak mempunyai akses pembelajaran secara daring karena keterbatasan media, untuk dapat mengetahui informasi seputar tugas dari guru mereka harus ke rumah temannya untuk bertanya.

Kegiatan teras belajar yang dilakukan oeh mahasiswa PMM ini tetap mematuhi protokol kesehatan yang berlaku. Setiap siswa diwajibkan menggunakan masker dan tempat duduk juga diatur berjarak.

“Kegiatan teras belajar diikuti oleh 6 orang siswa, sehingga cukup mudah untuk menerapkan protokol kesehatan,” ungkap salah satu mahasiswa PMM.
Teras Belajar dilakukan selama 2 hari berturut-turut.

Pada hari pertama kegiatan, pembelajaran diisi dengan permainan-permainan edukatif agar tidak membosankan. Selain tentang materi pelajaran sekolah, anak-anak juga diedukasi cara cuci tangan yang benar dan wajib menggunakan masker melalui lagu 7 langkah cuci tangan dan tepuk masker.

Pada hari ke-2 pelaksanaan teras belajar, mahasiswa PMM membantu siswa mengerjakan tugas pada lembar kegiatan peserta didik yang diberikan oleh guru.

Sebagai bentuk apresiasi kepada anak-anak yang sudah mengikuti kegiatan teras belajar, mahasiswa PMM memberikan reward seperti bolpoin, pensil, penghapus dan snack sebagai bentuk kenang-kenangan bagi mereka agar tetap semangat dalam belajar meskipun sedang dilanda pandemi.[Rizkika]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen − five =

Rekomendasi Berita