Potret Generasi Kekinian, Demi Cuan Tawuran Dilakukan?

Opini70 Views

 

Penulis: Diana Nofalia, S.P | Aktivis Muslimah Riau

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Kenakalan remaja makin hari makin menyayat hati. Kreasi dalam prestasi makin menurun drastis, sedangkan variasi dalam tindakan kriminalisasi semakin tragis. Inilah potret generasi kita dalam sistem sekularisme-kapitalisme.

Aksi tawuran lagi-lagi terjadi di Jalan Basuki Rahmat (Bassura), Cipinang Besar Utara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Dugaan sengaja buat mencari cuan melalui medsos pun muncul di balik terjadinya aksi tawuran.

Diketahui, tawuran tersebut melibatkan warga RW 01 dan RW 02 pada Kamis (27/6/24), sekitar pukul 05.30 WIB. Para pelaku tawuran itu menggunakan berbagai benda, seperti batu, petasan, dan senjata tajam seperti ditulis detik.com.

Selain itu ada juga aksi tawuran antara geng motor yang terjadi di wilayah Ciomas, Bogor. Sebanyak 8 pelaku yang masih usia remaja itu kini ditangkap Polsek Ciomas.

Kapolsek Ciomas Kompol Iwan Wahyudi seperti ditulis radarbogor mengatakan, penangkapan para anggota geng motor itu dilakukan saat pihaknya tengah melaksanakan operasi pekat pada Minggu (30/6)/2024 dini hari. Mereka diamankan di Gang Abadi Desa Kotabatu, Ciomas usai terlibat tawuran.

Tak hanya itu, di Surabaya sebagaimna diungkap idntimes, enam orang remaja anggota gangster yang menamai diri “Pasukan Angin Malam” diringkus polisi, Kamis (27/6/20324). Mereka diringkus saat hendak tawuran di sekitar kawasan Sidotopo Dipo Surabaya Kamis (27/6/2024) dini hari.

Enam pemuda itu adalah, AZZ (20) warga Rusun Sumbo blok B Surabaya, NFH (15) warga Tuwuh Kali Rejo, RA (15) warga Tuwuwoh 3F, INF (14) warga Kapasan Dalam Gang 3, LI (13) warga Jalan Wonokusumonjaya 10 dan MHH (16) warga Wonokusumo Bakti 1 Surabaya.

Tawuran masa kini dilakukan dengan cara kekinian, bahkan itu dilakukan untuk mendapatkan cuan. Hal ini menunjukkan rusaknya generasi dan jelas menunjukkan betapa kebahagiaan berdasarkan materi telah menghujam kuat dalam diri generasi. Bahkan untuk meraih semua itu mereka rela menghalalkan segala cara.

Peristiwa ini mengambarkan gagalnya sistem pendidikan mencetak generasi berkualitas. Sistem pendidikan sekularisme-kapitalisme telah meracuni pemikiran generasi dengan hal-hal keduniawian yang sesungguhnya hanya fana tapi dikejar mati-matian dengan segala daya dan upaya. Mereka sibuk dengan hal-hal yang tak berguna, bahkan merugikan diri sendiri dan orang lain.

Sistem pendidikan sekuler dan kapitalistik semakin menjauhkan generasi dari hakikat hidup sesungguhnya. Generasi hedonis, gila eksis dan pragmatis itulah potret generasi bangsa kita. Hal ini sejatinya akan merugikan bangsa ini, jika beberapa tahun ke depan mereka lah yang mengisi negeri ini dengan karya-karya mereka. Masalahnya, karya seperti apa yang akan dipersembahkan oleh generasi seperti ini?

Sistem Islam memiliki mekanisme paripurna dalam upaya membentuk kepribadian generasi yang memiliki kemampuan bertahan hidup dalam situasi apapun dengan tetap terikat aturan Allah dan Rasul-Nya. Islam memberi pemahaman bahwa tujuan hidup setiap muslim adalah untuk ibadah dan membawa manfaat bagi umat.

Langkah awal yang harus ditanamkan adalah akidah dan syariah sejak dini. Ini adalah tugas utama para orang tua terhadap anak-anaknya. Tujuan penanaman akidah pada anak adalah agar anak mengenal Allah sebagai penciptanya.

Penanaman akidah pada anak juga disertai pengenalan hukum-hukum syariah secara bertahap. Sehingga anak memiliki orientasi hidup yang benar, bahwa sesungguhnya dia diciptakan untuk taat kepada Sang Pencipta. Anak harus paham bahwa harta bukanlah tujuan hidup maupun standar kebahagiaan.

Tidak kalah penting dari itu adalah menanamkan juga akhlak al-karimah seperti berbakti kepada orang tua, santun dan sayang kepada sesama, berani berkata benar, tidak berbohong, bersabar, tekun bekerja, bersahaja, sederhana, dan sifat-sifat baik lainnya. Semua sifat tersebut tidak lain semata-mata untuk meraih ridha Allah.

Selain hal di atas anak juga butuh keteladanan dari berbagai pihak. Keteladanan ini tentunya akan didapatkan dari orang tua dan lingkungan masyarakat.

Orang tua yang super sibuk mengejar materi, lingkungan yang serba bebas dan materialistik tentunya tak akan dapat membentuk generasi unggul seperti yang diharapkan. Semua unsur tadi harus saling mendukung baik itu keteladanan dari orang tua maupun lingkungan masyarakat.

Tidak hanya dua unsur di atas. Negara juga semestinya memberikan dukungan penuh dalam kaitan membentuk generasi bangsa yang unggul dan lebih baik. Caranya adalah dengan memberikan pelayanan pendidikan yang berkualitas yang murah bahkan gratis sampai jenjang pendidikan tinggi sekalipun. Sehingga generasi lebih tertarik menuntut ilmu dibandingkan menghabiskan waktunya untuk hal yang tidak berguna.

Selain itu negara juga memberi sanksi tegas dan tidak pandang bulu jika ada masyarakat yang melakukan kekerasan ataupun tindakan kriminal lainnya sehingga membuat pelaku kekerasan, termasuk generasi saat ini takut dan jera melakukan kejahatan. Wallahu a’lam.[]

Comment