Presentasi Mahasiswa: Efektifkah atau Hanya ‘ritual’ Wajib yang Membosankan?

Opini77 Views

Penulis: Dimas Riyadi Hidayat |
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Dirasat Islamiyyah

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Seberapa sering mahasiswa menghabiskan malam hanya untuk menyusun slide PowerPoint yang, pada akhirnya, sekadar dibaca dan dilupakan dalam waktu 30 menit? Atau lebih ironis lagi, sekadar “menumpang nama” dalam kelompok presentasi. Fenomena ini bukan cerita langka di ruang-ruang kuliah kita.

Suasana kelas kerap hening dan pasif. Satu kelompok memaparkan materi, sementara mahasiswa lain tenggelam dalam aktivitas masing-masing: ada yang tertidur, bermain gawai, hingga mengobrol.

Di satu sisi, sistem presentasi diyakini mampu melatih soft skill mahasiswa. Namun di sisi lain, ia sering terasa seperti pemindahan beban mengajar dari dosen kepada mahasiswa. Lantas, seefektif apakah metode pembelajaran ini?

Seperti disampaikan Suhendra, S.Ag., M.Pd., dosen Universitas Terbuka, presentasi sejatinya memiliki banyak manfaat. Metode ini melatih mental, kemampuan berbicara di depan umum, kerja sama tim, berpikir kritis saat menjawab pertanyaan, hingga riset mandiri. Bahkan, presentasi kerap disebut sebagai simulasi dunia kerja.

Dalam bidang bisnis, misalnya, presentasi menjadi alat utama untuk meyakinkan, menginformasikan, memotivasi, hingga membangun kredibilitas dan citra profesional.

Sayangnya, praktik di lapangan kerap jauh dari ideal. Ketimpangan kontribusi antaranggota kelompok hampir selalu terjadi. Ada mahasiswa yang bekerja keras, ada pula yang sekadar menumpang nama namun tetap memperoleh nilai yang sama.

Penyampaian materi sering monoton dan membosankan. Tidak sedikit kelompok presentasi yang justru belum sepenuhnya memahami materi yang mereka sampaikan.

Lebih memprihatinkan lagi, isi presentasi kerap hasil salin-tempel dari jurnal atau referensi tertentu tanpa pengembangan analisis. Bahkan, saat sesi tanya jawab, jawaban yang muncul sering kali bersumber dari ChatGPT, bukan dari pemahaman personal mahasiswa. Kondisi ini tentu menggerus esensi pembelajaran kritis yang seharusnya dibangun.

Di sisi lain, presentasi juga kerap menjadi beban ganda bagi mahasiswa, baik dari segi waktu maupun finansial. Waktu belajar untuk mata kuliah lain terpangkas, karena satu malam habis hanya untuk satu presentasi. Belum lagi biaya mencetak makalah untuk satu kelas, yang tidak jarang memberatkan.

Seorang mahasiswa bahkan berujar, “Saya lebih paham dari penjelasan dosen langsung daripada dari kelompok presentasi. Jika diberi pilihan, saya lebih memilih sistem penjelasan penuh dari dosen.”

Lalu, bagaimana seharusnya peran dosen? Dosen semestinya hadir sebagai fasilitator dan kurator pembelajaran, bukan sekadar pemberi tugas presentasi lalu pasif di kelas.

Dosen perlu mencermati jalannya presentasi, memberikan evaluasi kritis, serta membantu mahasiswa memahami kekurangan dan potensi mereka.

Selain itu, metode pembelajaran dapat diperkaya dengan interaksi dua arah, role playing, simulasi, dan pendekatan partisipatif lain yang melibatkan seluruh mahasiswa secara aktif.

Sebagaimana dikemukakan Farid Aulia Rahman melalui platform Quora, efektivitas presentasi dalam sistem pembelajaran perguruan tinggi sangat bergantung pada keseriusan mahasiswa dan pembagian peran yang adil dalam kelompok. Tanpa itu, presentasi hanya akan menjadi rutinitas administratif tanpa makna edukatif.

Pada akhirnya, presentasi mahasiswa sejatinya bisa sangat efektif dan bermanfaat—bukan sekadar ritual yang membosankan. Namun, efektivitas itu ditentukan oleh dua hal utama –  pengawasan dan peran aktif dosen, serta keseriusan mahasiswa dalam menjalaninya. Kini, pertanyaannya kembali kepada mahasiswa: presentasi ingin dijadikan arena simulasi dunia kerja, atau cukup berhenti sebagai ritual wajib yang membosankan?

Kalau mau, bos, saya bisa perpendek versi cetak, versi tajam-edgy, atau versi ramah medsos. Tinggal bilang.]]

Comment