by

Presiden Jokowi Cerdas Gunakan Sri Mulyani Untuk Urus Ekonomi

Arief Poyuono.[Dok.radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Menelusuri sekian banyak perubahan kemajuan perekonomian nasional dan keuangan negara selama tim ekonomi yang dipimpin oleh Sri Mulyani, Darmin Nasution dan Rini Sumarno, menurut pandangan Arief Poyuono, Ketua Umum FSP BUMN Bersatu, mereka bagaikan ‘three muskeeter’ yang sangat kompak membantu membenahi perekonomian Indonesia.”Gampang saja tolak ukur kemajuan saat ini imbas akibat pengaruh strategi kebijakan dari mereka,” demikian ujar Arief.

Bila ditelisik lebih mendalam, sambung Arief, menggeliatnya transaksi di pasar modal dan bursa saham Indonesia, nilai IHSG dan ekspor menunjukkan trend meningkat dibandingkan impor.

“Investasi asing juga mengalir ke dalam negeri, walau baru dalam tahap MoU, seperti ketertarikan Raja Salman Bin Abdul Aziz dengan membawa rombongan pengusaha Arab Saudi yang akan investasikan dananya di Indonesia sebesar 25 Milyar dollar,” papar Ketum FSP BUMN Bersatu mengemukakan.
 
Arief Poyuono menambahkan bahwa penggunaan anggaran yang pada awalnya jor-joran dan tidak realistis  saat ini dilakukan dengan sangat efisien oleh Sri Mulyani  serta disertai pengolahan hutang luar negeri yang sangat hati hati dan well managed.
“Hal ini sebagai salah satu cara menahan melebarnya beban fiskal yang berdampak pada defisit anggaran dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap US dollar,” ungkap Arief menegaskan.
 
Menguatnya nilai US dollar menurut Arief, tidak lepas dari faktor kebijakan ekonomi pemerintah Amerika Serikat dan kebijakan ‘The Fed’-nya yang terus menaikan suku Bunga.”Pasangan SMI dan RS melakukan kebijakan pada BUMN sebagai lokomotive perekonomian nasional untuk memperkuat modal BUMN juga sangat berpengaruh, di mana terbukti BUMN saat ini didorong untuk bisa lebih profesional mencari modal di luar tanpa mengandalkan PMN ,” tandasnya.

Arief menyatakan bahwa di tengah mulai kondusifnya kepercayaan investor luar negeri terhadap Indonesia tercoreng akibat keputusan menteri di sektor ESDM yang menterinya di bawah kordinasi   Luhut Panjaitan.  indikasinya berimbas membuat Freeport terusik terkait tidak boleh diperpanjangnya Kontrak Karya Freeport.

“Hal ini berdampak negatif pada kepastian hukum bagi investor yang akan menanamkan dananya,” cetusnya.

“Nah, sudah jelas siapa sebenarnya dari menteri-menteri nya Pak Joko Widodo yang kerja benar dan berhasil memberikan dampak positif bagi kinerja pemerintahan Joko Widodo serta kerja benar tapi memberikan dampak negative bagi kinerja pemerintahan Joko Widodo serta di mata investor asing,” paparnya.

Kalau sudah begini, papar Ketum FSP BUMN Bersatu ini, bagaimana para investor di sektor infrastruktur akan berani mendanai proyek proyek infrastruktur pak Joko Widodo yang bernilai 5000 trilyun,” ungkapnya.


“Pak Joko Widodo sebaiknya mulai segera melakukan penilaian yang objektif. Dan tidak perlu lagi takut hanya karena ada menteri yang mantan timses-nya saat pilpres lalu tidak melakukan penilaian yang objektif terhadap menteri tersebut,” pungkasnya.[Nicholas]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty + eight =

Rekomendasi Berita