Penulis: Amir Kumadin | Alumni IAIN Walisongo Semarang, Direktur Penerbit Intuisi Press, Penulis Lebih dari 15 Judul Buku
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dalam tulisan sebelumnya, saya telah menguraikan tentang “ridho sebagai solusi awal dalam menghadapi setiap masalah”. Tulisan ini dimaksudkan sebagai penguatan sekaligus kelanjutan dari gagasan tersebut.
Perlu diingat kembali, ridho secara definitif merupakan sebuah sikap mental untuk menerima realitas apa adanya. Ridho adalah penerimaan aktif tanpa syarat (active unconditional acceptance) terhadap kenyataan yang dihadapi, dengan keikhlasan, ketenangan, dan kelapangan hati.
Ridho berarti melepaskan perlawanan (resistance) terhadap realitas yang tidak dapat diubah, baik yang menyenangkan maupun yang tidak, sebagai manifestasi dari takdir-Nya.
Dalam menghadapi masalah kehidupan, ridho bukan satu-satunya solusi awal. Masih ada banyak sikap lain yang harus menyertainya, seperti sabar, syukur, tabah, tawakal, doa, dan termasuk di dalamnya sikap proaktif.
Proaktif adalah kemampuan untuk memilih respons terhadap setiap rangsangan (stimulus) yang datang, sekaligus kemampuan untuk menciptakan stimulus baru sebagai bentuk ikhtiar solusi atas masalah yang dihadapi.
Intinya, ketika sebuah masalah atau peristiwa menimpa Anda, yang dituntut bukan hanya bagaimana mengelola, mengontrol, dan mengendalikan respons, tetapi juga bagaimana menciptakan stimulus baru agar Anda dapat keluar dari persoalan tersebut.
Kunci utama dalam menciptakan stimulus baru terletak pada satu pertanyaan sederhana namun mendasar, yakni pertanyaan apa (what).
Apa yang harus saya lakukan dalam situasi dan kondisi seperti ini?
Apa yang bisa saya perbuat atas kejadian yang menimpa diri saya?
Ketika Anda menghadapi masalah, musibah, atau peristiwa yang tidak diharapkan lalu mengajukan pertanyaan apa, maka pada saat itu Anda sedang melatih diri untuk berpikir realistis, bersikap ridho, dan sekaligus proaktif. Secara bersamaan, otak akan mulai bekerja mencari alternatif solusi yang paling mungkin dilakukan.
Dari sinilah ide-ide kreatif akan mengalir. Dan ketika ide-ide tersebut dibumikan serta dijalankan secara konsisten, perlahan tapi pasti, masalah atau musibah yang Anda hadapi dapat diatasi.
Sebagai contoh sederhana, bayangkan Anda menanak nasi. Setelah matang, ternyata nasi tersebut menjadi lembek seperti bubur—salah satunya karena terlalu banyak air.
Solusinya, pertama, Anda harus ridho atas kejadian yang telah terjadi. Apa yang sudah terjadi, terjadilah sebagai sebuah keniscayaan sejarah. Terima apa adanya, akui sebagai akibat dari kesalahan atau keteledoran diri sendiri, dan bertanggung jawab penuh tanpa menyalahkan orang lain.
Sadari bahwa di balik setiap kejadian (takdir), selalu berlaku hukum sebab-akibat. Dari sana, ambillah hikmah dan pelajaran.
Kedua, ajukan pertanyaan: “Apa yang bisa saya lakukan?” Jawabannya bisa sangat kreatif. Anda bisa membuat kaldu, menyiapkan kecap, suwiran ayam, daun seledri, kacang kedelai, kriuk, dan kerupuk. Maka nasi yang semula gagal itu berubah menjadi bubur ayam yang lezat.
Contoh lain, ketika Anda jatuh sakit.
Solusinya, pertama, kembali Anda harus ridho. Terima kenyataan dengan lapang dada, akui kemungkinan adanya kelalaian diri, bertanggung jawab tanpa menyalahkan keadaan atau orang lain, dan pahami bahwa sakit pun tidak lepas dari hukum sebab-akibat. Dari situ, petiklah hikmah dan pelajaran.
Kedua, ajukan pertanyaan: “Apa yang harus saya lakukan?” Jawabannya bisa berupa mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla, memperbanyak istighfar dan dzikir, berbuat kebaikan sesuai kemampuan, berobat ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan, menerapkan pola hidup dan makan yang sehat, bersedekah, serta menjaga semua itu secara konsisten dan istiqamah.
Masih banyak contoh lain dalam kehidupan sehari-hari—peristiwa, ujian, dan kejadian yang menimpa diri kita.
Sekali lagi, dalam menghadapi realitas hidup, Anda tidak hanya dituntut untuk memilih respons atau sikap yang benar, tetapi juga untuk menciptakan stimulus positif yang baru guna mengubah keadaan, nasib, dan bahkan takdir Anda di masa depan.
Sebagai catatan penting, riset Universitas Stanford menunjukkan bahwa kesuksesan seseorang ditentukan sekitar 87,5 persen oleh sikap (attitude), dan hanya 12,5 persen oleh faktor lain, termasuk kemampuan akademik. Temuan ini menegaskan betapa fundamentalnya sikap yang benar dalam menghadapi setiap masalah kehidupan.
Maka, setelah memilih dan menata sikap yang benar, langkah berikutnya adalah menjadi proaktif: menciptakan stimulus baru sebagai jalan perubahan.
Agar lebih gamblang dan terasa “nendang”, Anda dapat membaca kembali tulisan saya yang berjudul, “Teknik Mengubah Rahmat Menjadi Berkah”.[]














Comment