RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA— Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, mengenang sosok pengusaha nasional Bambang Hartono sebagai figur yang mewariskan fondasi kuat dalam menjaga keberlanjutan bisnis keluarga lintas generasi.
Dalam refleksinya, Prof Didik menyoroti pentingnya pembelajaran dari pengalaman pelaku usaha besar. Ia mengaitkan hal itu dengan kuliah umum yang pernah menghadirkan Victor Hartono, penerus Djarum Group, di Universitas Paramadina.
“Pengalaman pelaku bisnis sekaliber Victor Hartono penting untuk dibagikan kepada generasi muda. Pemahaman tentang dunia usaha yang kompleks, suksesi dan proses regenerasinya dalam bisnis keluarga patut menjadi pelajaran berharga bagi calon pemimpin masa depan. Menghadirkan sosok seperti Victor Hartono adalah langkah strategis untuk membagikan kisah nyata tentang keberlangsungan bisnis lintas generasi,” kata Prof Didik.
Menurut Prof Didik, perjalanan panjang bisnis keluarga Hartono sejak 1927 menunjukkan kapasitas besar dalam menciptakan dampak ekonomi. Ia mencatat, jaringan usaha tersebut menyerap ratusan ribu tenaga kerja secara langsung, termasuk di sektor perbankan seperti Bank Central Asia, industri rokok, serta berbagai lini usaha lain seperti elektronik, jasa, dan perdagangan digital.
Di luar itu, dampak tidak langsung dinilai jauh lebih luas. Rantai pasok tembakau dan cengkeh, menurut dia, melibatkan jutaan pekerja mulai dari petani hingga distributor, termasuk jaringan ritel kecil seperti warung dan agen di berbagai daerah.
Prof Didik juga menyoroti dinamika jatuh bangun bisnis keluarga tersebut sebagaimana disampaikan Victor dalam kuliah umum. Ia menyebut, perubahan politik dan gejolak internasional kerap menjadi faktor penentu dalam perjalanan usaha.
Victor, kata Prof Didik, menjelaskan bahwa bisnis awal keluarga berupa perdagangan petasan runtuh akibat instabilitas politik pada masa peralihan dari kolonial hingga awal kemerdekaan. Ia juga mengisahkan perjalanan Oei Wie Gwan, yang merintis usaha pabrik mercon bermerek Cap Leo namun berkali-kali mengalami kegagalan akibat ledakan, perampokan, hingga larangan produksi pada masa pendudukan Jepang tahun 1942.
Setelah itu, keluarga Hartono sempat beralih ke bisnis minyak kacang. Namun, menurut Prof Didik, perubahan struktur pasar dengan hadirnya kelapa sawit yang lebih efisien kembali mengguncang usaha tersebut hingga tidak berlanjut.
Selain faktor eksternal, Prof Didik menekankan adanya tantangan internal dalam bisnis keluarga. Ia menyebut potensi konflik antaranggota keluarga sebagai risiko yang tidak kecil, mulai dari persoalan arus kas, kepemimpinan, hingga pembagian dividen.
Untuk menjaga keberlanjutan, Prof Didik menjelaskan adanya mekanisme seleksi kepemimpinan melalui semacam “dewan syuro” di dalam grup.
“Di dalam group ada struktur kepemimpinan yang jelas, bahwa pemimpin utama sebaiknya hanya satu agar arah bisnis tetap terjaga dan konflik dapat diminimalisir,” ujar Prof Didik.
Ia menambahkan, dalam mekanisme tersebut, tokoh seperti Bambang Hartono maupun Budi Hartono tidak dapat langsung menunjuk anaknya sebagai penerus. Kandidat pemimpin harus diajukan oleh anggota lain untuk menjaga objektivitas.
“Dengan cara itu, pembagian peran antar anggota keluarga terbagi secara adil. Kekompakan internal terjaga dengan semangat keterbukaan bersama,” kata Prof Didik.
Di bagian akhir, Prof Didik menegaskan bahwa kunci utama keberhasilan bisnis keluarga terletak pada regenerasi yang kuat dan adaptif terhadap perubahan zaman.
“Regenerasi tidak boleh berhenti pada pewarisan nama, tetapi harus menghasilkan pelaku bisnis sejati yang mampu membaca zaman dan terus berjalan ke generasi berikutnya,” imbuhnya.[]














Comment