Program Peningkatan Generasi Berujung Industrialisasi, Bahayakah?

Opini505 Views

 

 

Penulis: Nora Afrilia, S. Pd  |  Pemerhati Generasi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Tersiar kabar yang sedang ramai dibicarakan di media sosial yaitu terkait susu ikan. Hal ini bermula saat susu ikan disebut-sebut sebagai alternatif susu sapi untuk program makan siang gratis dari Presiden terpilih Prabowo Subianto.

Mengenai hal ini, Epi Taufik, Ahli Ilmu dan Teknologi Susu, Dosen Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), menuturkan, susu ikan itu seharusnya berasal dari jenis ikan mamalia (mammae).

Sementara itu, susu ikan yang dikenalkan untuk program makan siang gratis merupakan produk ekstraksi protein ikan, bukan hasil perah ikan. Protein daging ikan segar diekstrak (hidrolisis), lalu ditambahkan sejumlah bahan, sebelum diseduh.

Susu ikan pertama kali dirilis pada Agustus 2023, hasil kemitraan Koperasi Nelayan Mina Bahari (Indramayu) dengan PT Berikan Teknologi Indonesia, yang diresmikan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (MenKopUKM), Teten Masduki. (kompas.com, 11-09-2024)

Epi menambahkan, alasan disebut susu, mungkin karena setelah dicairkan, mirip susu. Lebih lanjut, Epi mengatakan, penamaan susu ikan pada produk ekstraksi protein ikan tidak sesuai dengan definisi susu menurut standar internasional CODEX Alimentarius Commission (CAC) dan SNI. Sudah jelas dikatakan di sana bahwa susu merupakan sekresi kelenjar ambing. Artinya, cairan yang keluar dari kelenjar ambing (mammae).

Lebih baik ikan dibuat makanan seperti biasa, digoreng atau dibuat sup mejadi makanan bergizi. Sebab, ekstraksi atau hidrolisis akan memecah protein dan membuat banyak zat gizi hilang.

Program Berbau industrialisasi

Sudah alamiah dalam sistem sekulerisme hari ini. Industrialisasi menjadi sumber penting untuk menghasilkan materi. Tentunya bukan prioritas untuk program yang akan dijalankan oleh pemimpin negeri ini dalam rangka meningkatkan kualitas generasi.

Karakter sistem sekuler saat ini menjadikan pelaku yang menjalankan kekuasaan tidak dekat kepada Allah. Padahal ketika Allah mengatur kita dengan meneladani Rasulullah SAW, tegas beliau mendahulukan yang terbaik bagi umat, terutama generasi yang akan tumbuh.

Sekulerisme memacu peningkatan industrialisasi. Salah satunya pengadaan susu ikan seperti yang kita bahas di awal.

Susu ikan sejatinya bukanlah makanan sehat yang bisa meningkatkan kualitas generasi. Karena dalam dunia kesehatan yang juga merujuk kepada hidup sehat ala Rasulullah, makanan terbaik adalah makanan yang tidak terlalu banyak proses pengolahan.

Ketika memaksakan generasi mengkonsumsi minuman yang sudah diekstraksi yang bisa menghilangkan gizi pada makanan tersebut, sebenarnya justru akan merugikan generasi. Karena dikhawatirkan anak-anak yang tumbuh justru kurang sehat dan berpenyakitan.

Pemimpin sejatinya memikirkan secara serius terkait peningkatan generasi bukan condong memikirkan kemajuan industri.

Generasi tangguh butuh kepedulian pemimpin

Generasi tangguh dinilai dari sisi fisik, pemikiran serta perilaku yang muncul dari dalam dirinya. Maka generasi tangguh tersebut tidak lahir secara otomatis tanpa perhatian komponen di sekitarnya. Komponen pendukungnya adalah keluarga, masyarakat dan negara.
Jikalau pemimpinnya beriman secara menyeluruh kepada Allah, maka akan mengikutsertakan dalil berikut dalam merencanakan program kepemimpinannya.

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (QS Al-Baqarah:168).

Makanan halal adalah makanan yang tidak haram baik zat maupun cara memperolehnya. Sementara makanan baik artinya makanan yang sehat, aman, dan tidak berlebihan.

Manfaat yang didapatkan dengan mengonsumsi makanan halal dan baik (toyib) di antaranya: Meningkatkan keimanan, meningkatkan rasa syukur kepada Allah karena banyaknya kandungan gizi yang terbaik ketika mengkonsumsi makanan halal lagi baik( toyib).

Selain itu, ada beberapa hadits yang menyebutkan dampak buruk dari mengonsumsi makanan haram, di antaranya: setiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram, maka api neraka lebih utama baginya (lebih layak membakarnya). Hal paling mengerikannya lagi Allah SWT tidak akan mengabulkan doa orang yang mengonsumsi makanan dan minuman tidak halal.

Maka sebenarnya terlepas dari semua manfaat atau mudharat di atas kita wajib mengimani serta mengamalkan secara maksimal ayat terkait makanan halal dan baik tersebut. Pentingnya mengkonsumsi makanan sehat dan baik bagi tubuh karena perintah Allah semata.

Kunci dari keberhasilan penerapan makanan halal dan toyib adalah pemimpin yang komitmen menyediakan stok pangan tersebut, memudahkan rakyat untuk mendapatkannya, serta membantu rakyat dengan menyalurkan pangan yang sehat dan halal tersebut secara cuma-cuma. Demi tercapainya generasi tangguh dan membawa keberkahan bagi negeri ini.[]

Comment