Proyek Patung Raksasa di Tengah Rakyat Terhimpit

Opini184 Views

 

Penulis:  Yuli Ummu Raihan | Aktivis Muslimah Tangerang

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Tampaknya pembangunan fisik menjadi salah satu yang diutamakan di negeri ini ketimbang membangun manusianya. Di tengah berbagai proyek mercusuar itu adalah rencana pembangunan patung Soekarno setinggi 100 meter yang diklaim akan menjadi patung tertinggi di Indonesia. Berbagai pro dan kontra muncul terkait rencana ini.

Hengki Kurniawan, selaku Bupati Bandung tempat patung ini akan dibangun mengatakan, biaya besar sekitar Rp20 triliun untuk pembangunan ini tidak ditanggung oleh APBD, tetapi murni investasi dari pihak lain yaitu konsorsium Ciputra dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII, pembangunan patung ini juga akan diikuti dengan pengembangan kawasan wisata dan Kota Baru/ Kota Mandiri (Taman Asia Afrika) sehingga harus dibantu perizinannya.

Menurut Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Maman Sulaiman, pembangunan akan dimulai tahun depan setelah proses perizinan selesai . Sementara untuk kajian-kajian dengan LIPI ITB sudah selesai dimulai dari analisis dampak lingkungan. (Kompas.com).

Sementara itu mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu mempertanyakan biaya fantastis proyek patung Soekarno ini. (wartakotalive.com, 15/8/2023).

Biaya sebesar itu rasanya sangat mubazir dan akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk proyek strategis lain atau untuk membantu kesulitan rakyat berupa subsidi atau bantuan lainnya.

Ketua Aliansi Pergerakan Islam (API), Asep Syarifuddin, menolak rencana pembangunan ini karena rawan dan berpotensi menjadi virus akidah. Dikhawatirkan nanti akan terjadi pengultusan seseorang secara berlebihan yang akan menjerumuskan pada kemusyrikan. (Media Umat).

Proyek ini sama saja dengan menghidupkan kembali peradaban paganisme yang telah dihapuskan oleh Islam. Apalagi Indonesia mayoritas penduduknya muslim terutama Jawa Barat.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama tokoh-tokoh Islam juga melayangkan kritik terhadap rencana pembangunan ini karena bertentangan dengan hukum Islam serta dianggap sia-sia bahkan mubazir di tengah kondisi masyarakat yang kian susah.

Kapitalisme dibalik Proyek Patung Soekarno

Jelas tercium aroma kapitalisasi dalam proyek patung ini karena nantinya, kawasan ini akan dilengkapi dengan agrowisata dan lain-lain. Keuntungan materi jelas terbayang dihasilkan dari proyek ini. Kota Bandung akan mendapatkan penghasilan asli daerah dari sektor pariwisata, area disekitarnya juga akan menjadi pusat bisnis, perkantoran, perumahan dan lainnya.

Sandiaga Salahuddin Uno, selalu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) mendukung penuh proyek ini karena diharapkan akan berpotensi menumbuhkan ekonomi kreatif serta mampu menyerap banyak lapangan kerja.

Inilah wajah asli kapitalis, semua hal yang dapat menghasilkan keuntungan akan dilakukan meskipun melanggar hukum agama.

Islam Mengharamkan Patung

Membuat patung apalagi yang menyerupai makhluk hidup jelas hukumnya haram. Aktivitas ini disebut tashwir. Tashwir mencakup aktivitas menggambar dua dimensi, atau tidak memiliki bayangan, tetapi juga aktivitas membuat patung dan memahat.

Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh orang-orang yang membuat gambar-gambar (makhluk bernyawa) akan diazab pada hari kiamat dan dikatakan pada mereka, ” Hidupkanlah apa yang kalian buat ini! “(HR Al Bukhari dan Muslim)

Bahkan Rasulullah saw. pernah memerintahkan Ali bin Abi Thalib ra.untuk menghancurkan patung-patung yang ditemukan saat ekpedisi militer.
Banyak hadis lain yang menjelaskan tentang keharaman ini. Begitupun pendapat para ulama. Keharaman ini tidak dikarenakan ‘illat (sebab) tertentu seperti kekhawatiran disembah. Jadi, haram ya haram dan sebagai umat Islam kita harus taat atas perintah Allah tanpa mempertanyakannya.

Membuat patung para tokoh sungguh bukanlah ajaran Islam. Ini adalah tradisi orang-orang kafir. Sejak zaman dahulu bangsa Romawi terbiasa membuat patung para raja, tokoh atau pahlawan sebagai bentuk penghormatan pada mereka. Di zaman moden seperti sekarang ternyata budaya ini masih dan terus ada. Selain bentuk pengultusan kadang patung-patung ini dianggap karya seni dan memiliki nilai jual tinggi.

Pembangunan Dalam Pandangan Islam

Pembangunan merupakan suatu kebutuhan, namun Islam akan memperhatikan kemashlahatan dari pembangunan apa pun. Jika suatu pembangunan itu benar-benar dibutuhkan rakyat dan ketiadaan bangunan tersebut akan menimbulkan mudharat, maka Islam akan mengupayakannya.

Biayanya diambil dari Baitul Mal yang berasal dari pos kepemilikan umum dan negara. Apalagi dana di Baitul Mal kosong maka negara akan berusaha melakukan pinjaman dari swasta atau rakyat yang kaya. Bahkan negara boleh memungut pajak dari rakyat yang kaya untuk memenuhi biaya pembangunan tersebut.

Sementara untuk bangunan atau proyek fisik yang tidak terlalu penting maka akan dilihat dari kondisi keuangan Baitul Mal dan kemanfaatan dari pembangunan tersebut. Jika negara memiliki dana yang cukup (setelah mencukupi segala kebutuhan rakyat ) dan pembangunan ini dapat meningkatkan keagungan Negara di mata musuh atau memberikan dampak positif bagi rakyat maka boleh dilakukan.

Jika kondisi keuangan tidak mencukupi dan pembangunan ini tidak terlalu penting maka negara dapat menundanya. Artinya negara tidak ambisius dalam melakukan pembangunan fisik. Justru membangun masyarakat jauh lebih penting.

Apa gunanya punya bangunan megah kalau untuk makan saja masih susah, banyak anak-anak yang tidak sekolah bahkan terlantar.

Negara berkewajiban menjamin segala kebutuhan rakyat dan mengupayakan kesejahteraannya. Saat ini 21 juta masyarakat atau 7 persen dari total penduduk Indonesia kekurangan gizi dan asupan kalori harian. (Riset Center for Indonesian Studies awal Juli lalu).

Tingginya angka ini bukti kalau masyarakat tidak baik-baik saja. Kekurangan gizi ini dipicu oleh restriksi alias pembatasan produksi yang diterapkan pada perdagangan pangan,
Saat ini rakyat butuh bantuan dari pemerintah bukan pembangunan proyek yang manfaatnya juga dipertanyakan. Meskipun diklaim tidak dibiayai dari APBD, tetap saja proyek ambisius ini melukai hati rakyat.

Rakyat belum tentu bisa merasakan manfaat dari pembangunan ini, justru mega proyek ini hanya menguntungkan segelintir orang. Ketimpangan sosial dan ekonomi akan semakin jelas terlihat.

Masih banyak PR besar pemerintah hari ini seperti masalah kemiskinan, hunian yang layak bagi masyarakat, pendidikan, kesehatan, akses jalan dan lainnya. Rasanya ini lebih urgen untuk dilakukan dari pada berbagai proyek pembangunan fisik semata.

Dalam Islam pariwisata tidak dijadikan sumber pendapatan. Pariwisata dalam Islam hanya sarana untuk mentadaburi alam ciptaan Allah SWT. Kalaupun dibangun sarana penunjang tetap harus memperhatikan hukum syara’. Jangan sampai kita mengulang kisah kaum ‘Ad dan Tsamud yang diazab Allah karena bangga dengan bangunan megah dan patung-patung sementara mereka ingkar pada Allah.

Ingatlah ancaman Allah dalam QS Al-Isra’ ayat 7: “Jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu agar menaaati Allah. Lalu mereka melakukan kedurhakaan di dalamnya. Karena itu sepantasnya berlaku atas mereka hukuman kami. Kemudian Kami membinasakan negeri itu sehancur-hancurnya. Wallahua’lam bishawab.[]

Comment