RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Apa yang ada dalam pikiran kita mendengar kata politik? Tentu saja kekuasaan, harta berlimpah, jabatan bergengsi dan pastinya terkenal atau populer di tingkat nasional maupun internasional. Apalagi di tahun 2018 dan tahun 2019 itu adalah tahun politik. Dimana banyak artis yang lagi rame rame untuk daftar menjadi calon legislatif melalui wadah partai politik. Argumentasinya adalah peduli perbaikan kondisi rakyat dalam pembangunan ibu pertiwi Indonesia.
Kalau kita cermati, pendaftaran bakal calon anggota legislatif untuk pemilu 2019 banyak diramaikan dari kalangan artis. Mereka diusung oleh sejumlah partai politik. Komisioner KPU RI Wahyu Setiawan meyakini partai politik sudah mempertimbangkan kemampuan dan rekam jejak artis tersebut. Pada saatnya nanti, masyarakat yang akan menilai, memilih melalui hak politiknya. Ujar mantan anggota KPU Jawa Tengah tersebut. (https://nasional.kompas.com/read/2018/07/19/12580031/banyak-artis-jadi-caleg-kpu-serahkan-ke-pemilih-untuk-menilai).
Terlebih lagi, media massa maupun media sosial saat ini pada gencar opini publik tentang politik. Baik pembahasan tentang partai politik, calon legislatif dan program politik dalam rangka perbaikan kondisi rakyat dan perekonomian negeri ini. Perbincangan politik mulai mewarnai wajah negeri ini dari tingkat kabupaten, provinsi Maupun tingkat pusat ibukota.
Tentu saja masyarakat patut bertanya apakah politik itu bisa membawa perubahan dan perbaikan kondisi rakyat negeri ini???. Dimana, saat ini kondisi bangsa ini cenderung miris di bidang perekonomian, pendidikan dan moneter. Tetapi mengalami peningkatan dalam kasus korupsi uang rakyat yang dilakukan oleh pejabat negara juga tokoh politik negeri ini. Sebut saja Setya Novanto dan Zumi Zola yang terkena operasi tangkap tangan (OTT) kasus korupsi oleh KPK. Padahal saat ini kondisi rakyat dan negeri ini lagi menghadapi kesulitan ekonomi juga moneter karena nilai tukar rupiah menembus angka Rp. 14.000 an perdollar AS.
Fenomena ini terjadi karena minimnya pendidikan politik pada rakyat sehingga membuat rakyat terkesan menjauhkan diri dari politik. Dimana rakyat melihat bahwa politik itu rawan korupsi uang rakyat dengan dalih pembangunan maupun perbaikan ekonomi rakyat. Selain itu, rakyat kurang mengerti arti pentingnya politik untuk melakukan perubahan perbaikan kemandirian ekonomi juga pembangunan rakyat negeri ini. Inilah yang perlu diluruskan.
Padahal makna politik pada hakekatnya adalah aktivitas mengurusi atau memelihara urusan rakyat. Bagi negara, politik itu dilaksanakan dengan mengeluarkan kebijakan yang dapat ditindaklanjuti oleh penyelenggara negara ataupun pejabat negara ke dalam berbagai aktivitas pelayanan kepada rakyat. Jadi politik itu dilaksanakan untuk perbaikan rakyat bukan untuk kepentingan pribadi maupun golongannya semata. Selain itu agama itu tidak bisa dipisahkan dari politik untuk perbaikan rakyat negeri ini menuju kemajuan pembangunan dan kesejahteraan.
Semoga rakyat dan pemimpin negeri ini bisa menyadari makna politik secara benar untuk perbaikan rakyat negeri ini. Sehingga negeri ini bisa mandiri dan bermartabat dalam menghadapi era globalisasi.[]
Penulis adalah anggota Women Movement Institute










Comment