QRIS Modus Baru Peluang Cuan di Bulan Ramadhan

Opini307 Views

 

Oleh: Ns. Ainal Mardhiah, S. Kep, Perawat

Baru-baru ini jagat dunia maya digemparkan dengan modus penipuan yang menggunakan QRIS di sejumlah kotak amal yang ada dibeberapa Masjid di Jakarta. Aksi penipuan ini dilakukan dengan menempelkan QRIS seolah-olah untuk sumbangan kepada masjid terungkap ke publik. Kasus ini merupakan modus baru dengan menggunakan teknologi yang merupakan tantangan baru bagi para penegak hukum.

Kasus penyalahgunaan QRIS yang baru-baru ini terjadi pada salah satu rumah ibadah di Jakarta, yang dilakukan oleh Mohammad Iman Mahlil Lubis menjadi viral. Pelaku melakukan aksinya dengan mendaftar sebagai merchant QRIS dengan nama restorasi masjid. Kemudian pelaku memasang QRIS palsu di kotak amal masjid di sejumlah wilayah, mulai dari Jakarta hingga Bintaro, Tangerang Selatan.

Modus ini terungkap dari beredarnya video rekaman CCTV yang viral di media sosial. Belakangan diketahui bahwa merchant tersebut tidak terdaftar sebagai tempat ibadah melainkan merchant reguler (Liputan6, 12/04/2023).

QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) adalah penyatuan berbagai macam QR dari berbagai Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) menggunakan QR Code. QRIS dikembangkan oleh industri sistem pembayaran bersama dengan Bank Indonesia dengan tujuan agar proses transaksi QR Code dapat berjalan dengan mudah, cepat dan keamanannya terjaga. QRIS wajib diterapkan oleh semua PJSP yang menggunakan QR Code Pembayaran (tirto.id, 12/04/2023).

Miris, kasus ini terjadi dibulan Ramadhan yang seharusnya bulan ini menjadi momentum untuk meningkatkan ibadah dan ketakwaan kepada Allah SWT, namun inilah yang terjadi ketika Islam tidak dijadikan standar dalam berperilaku dan penguasaan teknologi tidak dilandasi oleh keimanan.

Hal ini terjadi akibat kegagalan sistem pendidikan sekuler yang diterapkan dinegeri ini yang meminimalkan peran agama bahkan disingkirkan dalam dunia pendidikan melahirkan generasi yang lemah dalam keimanan dan tidak mempunyai kesadaran untuk terikat dengan hukum syara. Sistem hari ini telah membuat individu jauh dari kesadaran adanya pengawasan dari sang pencipta sehingga mudah dalam bermaksiat bahkan dibulan ramadhan sekalipun.

Tujuan hidupnya hanya untuk mencari kebahagiaan yang bersifat materi semata, dan tidak meyakini sepenuh hati bahwa Allah SWT telah menetapkan rezeki bagi setiap makhlukNya.

Hal ini juga diperparah dengan kondisi masyarakat yang semakin bersifat individulistik karena tidak adanya kesamaan perasaan, pemikiran, dan aturan yang sama sehingga aktivitas amar makruf nahi mungkar tidak ada ditengah-tengah masyarakat.

Selain itu, tidak adanya penerapan sanksi yang tegas dari negara terhadap pelaku tindak kriminal, minimnya lapangan pekerjaan dan solusi-solusi parsial yang diterapkan yang tidak menyentuh akar persoalan, alih-alih menyelesaikan permasalahan tetapi malah menimbulkan berbagai permasalahan baru. Islam memberikan solusi yang sistemik terhadap berbagai kasus yang terjadi, yang berbeda dengan solusi yang ditawarkan hari ini.

Hanya Islam yang mampu menyelesaikan setiap persoalan bahkan sampai ke akar-akarnya. Terkait hal ini Islam menetapkan kebahagiaan bagi seorang muslim adalah ketika memperoleh keridaan Allah SWT, ketenangan akan muncul ketika hajatul udhuwiyah (kebutuhan fisik) dan gharizah (naluri) nya dipenuhi sesuai dengan keimanan kepada Allah SWT dan keterikatan terhadap syariatNya.

Proses pendidikan dalam Islam akan melahirkan individu yang memiliki keimanan yang tangguh dan kuat keterikatannya terhadap hukum syara. Setiap individu wajib menyadari adanya pengawasan dari sang pencipta yaitu Allah SWT, sehingga siapapun dia maka wajib menghadirkan kesadaran didalam dirinya.

Karena setiap manusia memahami bahwa Allah akan menghisap seluruh perbuatannya. Selain itu, Islam mewajibkan adanya aktivitas amar makruf nagi mungkar ditengah-tengah masyarakat, dalam Islam masyarakat diikat oleh satu perasaan, pemikiran dan aturan yang sama sehingga memunculkan sifat saling kontrol ditengah-tengah masyarakat.

Selain itu, peran negara sangat penting karena sejatinya, faktor terbesar terjadinya keburukan ditengah rakyat termasuk berbagai macam kasus penipuan adalah karena negara tidak menerapkan syariat Islam secara sempurna.

Dalam sistem pendidikan Islam akidah menjadi dasar dalam pemikiran, karena tujuan dari sistem pendidikan Islam adalah membangun generasi yang berkepribadian Islam, selain menguasai ilmu-ilmu kehidupan seperti matematika, sains, teknologi dll.

Hasilnya akan melahirkan generasi yang tangguh keimanannya dan akan kuat keterikataanya terhadap hukum syara. Islam melarang memakan harta manusia dengan cara yang batil, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil….” (QS. An-Nisa: 29).

Oleh karena itu, dalam Islam akan diberikan sanksi yang tegas terhadap pelaku kriminal yang akan memberikan efek jera terhadap pelaku sehingga kasus yang sama tidak akan terulang kembali. Selain itu negara juga akan menciptakan lapangan pekerjaan dan menjamin setiap kebutuhan pokok rakyatnya seperti sandang, pangan dan papan serta kesehatan, keamanan dan pendidikan semua akan dijamin oleh negara.

Penangganan berbagai kasus yang bermunculan diakibatkan oleh penerapan sistem yang salah, sehingga berbagai solusi yang ditawarkan saat ini tidak akan menyelesaikan masalah bahkan menimbulkan berbagai masalah baru, sehingga kita membutuhkan koreksi yang sistemik terhadap hal tersebut. Hanya Islamlah satu-satunya solusi sistemik tersebut. Wallahualam

اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)? (QS. Al-Ma’idah Ayat 50).

Comment