Rahayu Saraswati Mundur dari DPR, Dinilai Sebagai Contoh Budaya Malu

Politik460 Views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA–— Keputusan Rahayu Saraswati Djojohadikusumo untuk mundur dari keanggotaan DPR RI periode 2024–2029 mengejutkan banyak pihak. Langkah tersebut dinilai sebagai fenomena langka di panggung politik nasional, mengingat ia merupakan sosok muda berprestasi yang relatif jauh dari kontroversi.

Rahayu, yang akrab disapa Saras, tercatat pernah gagal masuk DPR pada Pemilu 2019. Namun, ia tidak menyerah dan kembali maju pada Pemilu 2024 hingga akhirnya berhasil meraih kursi. Perjuangan itu kerap disebut tidak bergantung pada hubungan keluarga, meskipun dirinya masih memiliki ikatan kekerabatan dengan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto.

“Pengunduran diri Saraswati berbeda dengan kasus sejumlah anggota DPR yang dinonaktifkan partai karena tekanan demonstrasi. Keputusan ini lahir dari kesadaran pribadi dan menjadi pelajaran penting soal integritas,” ujar Laksamana Sukardi, Menteri Negara BUMN 1999–2001 dan tokoh reformasi, dalam keterangan tertulisnya, Senin (14/9/25).

Menurut Laksamana, alasan pengunduran diri Saras berawal dari kritik di media sosial atas pernyataannya dalam sebuah podcast. Dalam kesempatan itu, Saras menekankan pentingnya generasi muda berani menciptakan lapangan kerja melalui wirausaha, bukan sekadar menunggu lowongan kerja dari pemerintah.

“Pernyataan itu justru memberi inspirasi. Namun, sayangnya diplintir sebagai kritik yang tidak cerdas,” kata Laksamana.

Ia menilai, sikap Saras mencerminkan budaya malu yang jarang ditemui di politik Indonesia. “Seharusnya ia tidak perlu mundur, karena pikirannya memberi solusi. Tetapi keputusannya menunjukkan integritas, budaya malu, dan tanggung jawab yang tinggi,” ujarnya.

Laksamana membandingkan langkah Saras dengan praktik di Jepang, di mana pejabat publik terbiasa mundur meski hanya karena kesalahan kecil, bahkan sekadar keterlambatan kereta api.

“Di Indonesia, mundur biasanya terjadi karena tekanan besar, bukan kesadaran pribadi. Itu sebabnya keputusan Saras patut diapresiasi sebagai contoh nyata,” tegasnya.

Rahayu Saraswati sendiri menegaskan, perjuangan untuk bangsa tidak harus dilakukan dari kursi DPR. “Berjuang demi bangsa tidak harus menjadi anggota DPR,” katanya.

Laksamana menutup pernyataannya dengan menekankan pesan moral dari sikap Saras. “Pengunduran diri ini membuktikan bahwa tidak semua anggota DPR memalukan. Justru ada yang memilih menjaga martabat dan integritas.”[]

Comment