by

Rantika Nur Asyifa*: New Normal di Bidang Pendidikan, Solusikah? 

-Opini-57 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Beberapa negara telah melonggarkan kuncian atau pembatasan terkait pencegahan virus corona dan menuju masa new normal. Satu sisi, penguncian atau pembatasan wilayah dapat meminimalisasi terjadinya penularan wabah, tetapi di sisi lain juga berdampak luas pada sejumlah sektor, terutama ekonomi.

New normal atau pola hidup baru yang beradaptasi dengan pandemi Covid-19, kini menjadi tarik ulur. Berbagai persiapan new normal tengah dilakukan pemerintah meski sejumlah indikator mengatakan Indonesia belum layak memasuki fase tersebut.

Baru-baru ini, Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo, memimpin rapat terbatas dengan topik pembahasan pelaksanaan protokol tatanan normal baru produk dan aman Covid-19. Jokowi meminta agar tatanan new normal yang sudah dipersiapkan Kementerian Kesehatan disosialisasikan secara masif kepada masyarakat agar menimbulkan kesadaran pentingnya menjalankan protokol tersebut.

“Sehingga masyarakat tahu apa yang harus dikerjakan, seperti jaga jarak, gunakan masker, cuci tangan, dilarang berkerumun. Kalau itu dilakukan, sosialisasikan secara masif, saya yakin kurva bisa kita turunkan di beberapa provinsi,” katanya.

“Apabila efektif, kita akan gelar perluas lagi ke provinsi yang lain,” kata Jokowi di istana Merdeka, Jakarta, CNBCIndonesia, Rabu (27/5/2020).

Di sisi lain, new normal ini mendapatkan respon negatif di bidang pendidikan, khususnya dari para orangtua. Mereka takut jika anak-anak mereka nanti tertular virus covid-19. Para orang tua mengaku mau mengizinkan anak sekolah jika pemerintah memutuskan menerapkan new normal atau kehidupan baru di lingkungan pendidikan dengan protokol kesehatan.

Seorang ibu dari dua anak laki-laki berusia 11 tahun dan 4 tahun di Tangerang, Banten, bahkan belum bisa membayangkan harus merelakan anaknya pergi ke sekolah.

“Enggak rela sama sekali. Khawatir pasti dan masih belum rela. Anak kecil, anak SD disuruh pakai masker. Siapa yang tahu tanpa sepengetahuan gurunya, mereka tukar-tukaran masker?” ujarnya seperti dikutip CNNIndonesia.com, Rabu (27/5).

Wacana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendibud) serta beberapa Pemerintah Daerah (Pemda) yang merencanakan pembukaan kembali sekolah di zona hijau Covid-19 pada pertengahan Juli 2020 mendatang diminta dikaji ulang. Pasalnya hal tersebut dinilai terlalu berisiko di tengah pandemi.

Wasekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Satriwan Salim mengatakan kebijakan pembukaan kembali sekolah di tengah pandemi pada Juli mendatang tersebut mestinya diperhitungkan matang dan tidak terburu-buru.

“Jangan sampai setelah suatu daerah ditetapkan sebagai zona hijau atau terbebas dari penyebaran Covid-19, di wilayah tersebut kemudian ditemukan korban positif,” ujarnya kepada Kompas.com, Minggu (17/5/2022).

Kurikulum pendidikan di indonesia berganti sesuai bergantinya Menteri sehingga tidak konsisten. Tujuan pendidikan nasional kerap terabaikan. Kekerasan dan tindakan keiminal terjadi dalam dunia pendidikan.

Sistem sekular tampaknya tidak sanggup lagi membangun moralitas bagi tumbuh kembang peserta didik sehingga capaian dasar tidak terpenuhi. Maka tak salah bila sekular dituding menjadi penyebab utama atas segala problematika yang ada.

Sistem pendidikan untuk anak, sudah seharusnya dikembalikan lagi kepada kedua orang tua terutama ibu, karena ibu adalah madrasah pertama bagi seorang anak. Namun di sistem sekular ini, orangtua disibukkan dengan aktivitas masing-masing sehingga lalai terhadap pendidikan anak dan menyerahkan begitu saja kepada sekolah tanpa diawasi dan dilihat perkembangannya.

Dalam sistem Islam, jelas bahwa orang tua yang bertanggung jawab dalam memenuhi tsaqafah (ilmu) untuk anaknya, bukan sekolah. Mendidik dan membimbing anak dari mulai buaian hingga liang lahat. Sehingga ketika dalam masa pandemi seperti saat ini, orang tua mampu dan siap untuk menjadi guru bagi anak-anaknya di rumah. Wallahualam.[]

*Aktivis Dakwah, Penulis, Pemerhati Remaja _

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − 1 =

Rekomendasi Berita