Refleksi Muharam: Mewujudkan Hakikat Hijrah dan Kebangkitan Umat

Opini1340 Views

 

Penulis: Yuri Ayu Lestari, S.Pd | Pemerhati Remaja

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Tahun baru Islam kembali hadir, namun sayangnya, tidak banyak yang menjadikannya sebagai momen untuk merenung dan bermuhasabah secara mendalam. Padahal, bulan Muharram, khususnya melalui peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah, sarat dengan makna perubahan dan kebangkitan.

Hijrah bukan hanya tentang perpindahan fisik, tetapi juga terkait nilai sebagai titik awal konstruksi peradaban Islam yang agung. Umat Islam bersatu di bawah naungan Islam, hidup sejahtera dalam aturan Allah, dan menyebarkan rahmat ke seluruh penjuru dunia.

Namun kini, potret itu terasa seperti tinggal cerita sejarah. Umat Islam hari ini tercerai-berai, tertindas, dan terus mengalami keterpurukan. Genosida di Palestina masih berlangsung, ditambah pengkhianatan dari para penguasa negeri-negeri Muslim yang lebih mementingkan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan penjajah daripada membela saudara seiman.

Konflik, kemiskinan, korupsi, dan kezaliman menjadi kenyataan sehari-hari yang menimpa umat. Di tengah semua ini, datangnya tahun baru Hijriah seharusnya menyadarkan umat Islam bahwa kondisi ini bukanlah takdir yang tak bisa diubah.

Al-Qur’an telah memperingatkan, “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit…” (QS. Thaha: 124).

Inilah akar utama dari krisis yang menimpa umat hari ini yang menjauh dari aturan Allah. Islam tidak lagi dijadikan sumber hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Nilai-nilai Islam hanya dibatasi pada aspek ibadah personal, sementara sistem ekonomi, politik, pendidikan, dan hukum diatur oleh sistem buatan manusia yang lemah dan sarat kepentingan.

Dalam suasana pergantian tahun Hijriah ini, penting untuk menggugah kembali kesadaran umat akan jati dirinya. Umat Islam adalah umat terbaik yang diutus untuk memimpin peradaban, bukan menjadi korban peradaban.

Allah SWT berfirman: “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran: 110).

Namun, predikat “umat terbaik” itu tidak datang secara otomatis. Ia harus diwujudkan melalui ketaatan kolektif terhadap syariat Allah dalam seluruh aspek kehidupan.

Maka, satu-satunya jalan untuk kembali meraih kemuliaan itu adalah dengan menerapkan Islam secara menyeluruh (kaffah). Tidak cukup dengan semangat ibadah personal atau peningkatan spiritualitas individual.

Umat membutuhkan perubahan sistemik—perubahan yang mengembalikan aturan Allah sebagai satu-satunya sumber hukum. Perubahan ini hanya dapat diwujudkan melalui tegaknya institusi politik Islam, yaitu kepemimpinan Islam global yang  menjadi junnah (perisai) bagi umat.

Kepemimpinan islam global bukan sekadar simbol politik, tetapi institusi yang akan menyatukan umat, menerapkan syariat secara kaffah, dan membela kehormatan kaum Muslim di seluruh dunia.

Dalam sejarahnya, kepemimpinan islam global sebagaimana diajarkan Rasululullah SAW terbukti mampu membawa keadilan, kesejahteraan, dan kemajuan dalam berbagai bidang.

Kalau mau jujur, peradaban Barat hari ini banyak berutang ilmu pada pencapaian umat Islam di masa lalu.

Tanpa kepemimpinan Islam global, umat akan selalu tTerkotak dan terpecah-belah dalam puluhan negara bangsa yang lebih tunduk pada kepentingan asing daripada pada hukum Allah.

Namun, tegaknya kepemimpinan Islam global tidak akan datang dengan sendirinya. Ia menuntut perjuangan, pengorbanan, dan penyadaran yang konsisten. Umat Islam harus disadarkan bahwa Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi sistem kehidupan yang paripurna.

Mereka harus dibimbing untuk memahami hakikat dirinya sebagai hamba Allah dan bagian dari umat yang besar. Mereka perlu didorong untuk aktif mengambil peran dalam perjuangan menegakkan syariat Islam.

Di sinilah pentingnya peran jamaah dakwah yang tulus dan istiqamah. Sebuah komunitas dakwah yang menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai panduan utama, serta tidak tergoda oleh kekuasaan, harta, atau popularitas.

Jamaah dakwah ini harus terus berjuang menyampaikan kebenaran, membina umat, serta menjadi garda terdepan dalam mengawal proses perubahan menuju tegaknya syariat Allah di muka bumi.

Dalam konteks inilah, Muharram dan hijriyahy seharusnya tidak hanya menjadi momen seremonial dengan perayaan dan puasa sunah. Ia harus menjadi titik balik untuk sebuah revolusi pemikiran dan pergerakan umat. Refleksi Muharram seharusnya menuntun umat untuk kembali kepada Islam secara total, bukan setengah hati.

Bukan Islam yang dipreteli sesuai kepentingan manusia, tetapi Islam yang utuh sebagaimana diturunkan oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.

Tahun baru Hijriah adalah momen yang penuh harapan. Namun, harapan itu harus diiringi dengan kesadaran, perjuangan, dan perubahan. Umat Islam tidak boleh terus berharap dan dibayangi sistem sekuler yang telah nyata gagal menyelesaikan persoalan.

Saatnya kembali kepada sistem Ilahi yang sudah terbukti mampu memimpin dunia dengan adil dan mulia. Maka, mari jadikan Muharram ini sebagai awal kebangkitan hakiki, bukan sekadar peringatan tahunan yang lewat begitu saja. Sebuah seremonial kosong tanpa makna.

Karena hakikat hijrah itu adalah menuju penerapan Islam kaffah di bawah naungan sistem dan atau kepemimpinan Islam global sebagaimana yang telah diimplementasikan Nabi Muhammad SAW.[]

Comment