by

Reka Nurul Purnama*: Beban Ibu Bertambah Selama Pembelajaran Daring 

-Opini-23 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Keruwetan para ibu pada masa pandemi memang bertambah. Pasalnya para ibu seolah memiliki “Tugas tambahan” yaitu harus menjadi “guru” anak-anak di rumah selama musim pandemi ini.

Tentu saja hal ini membuat semakin bertambahnya pekerjaan seorang ibu. Sekarang ini seorang ibu harus benar-benar berjuang untuk kelangsungan hidup keluarganya, disamping harus mengurus rumah tangga mulai dari aktifitas mencuci, bersih-bersih, memasak sampai masih harus tetap keluar rumah untuk membantu perekonomian keluarga.

Begitulah zaman di mana seorang ayah ada di posisi sangat sulit mencari nafkah, sebuah kondisi realitas yang dihadapi sejak lama. Lebih sulit dibandingkan mencari lowongan kerja untuk perempuan.

Dengan begitu pada akhirnya seorang suami harus merelakan istri bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Belum lagi ditambah dampak pandemi yang luar biasa, PHK dan banyak karyawan yang di rumahkan.

Selain mendampingi keberlangsungan anaknya belajar di rumah dengan dipantau oleh guru di sekolah seorang ibu juga harus mengurus rumah tangga dan bekerja. Ini bukanlah hal sepele.

Saat pandemi ini, seorang ibu harus mendadak berperan sebagai guru matematika, bahasa Indonesia, sekaligus guru mengaji bagi anaknya. Padahal latar belakang orang tua juga bukan guru untuk semua mata pelajaran.

Semua itu diperparah dengan kegagapan sistem pendidikan pada masa pandemi ini. Tahun pelajaran baru harus tetap berlangsung dengan permasalahan dan kendala menjalankan proses belajar daring (dalam jaringan) yang sejujurnya belum didukung pemerintah secara penuh.

Pola pembelajaran dalam sistem sekuler, dirancang haruslah pintar, dapat nilai ijazah yang bagus, dan mendapatkan pekerjaan yang gajinya besar. Pelajar kehilangan esensi belajar sesungguhnya yaitu mencari ilmu.

Hal prioritas dan dikejar dalam sistem pendidikan sekarang bukanlah mencetak ilmuan yang menguasai berbagai bidang namun hanya untuk menjadi pekerja profesional. 

Hal itu membuat ibu yang merupakan guru kehidupan bagi anaknya, bertambah repot dan terbebani. Karena harus mendampingi anak untuk menyelesaikan tugas yang numpuk hanya untuk nilai materi semata, bukan untuk “mendapatkan ilmu”.

Bahkan ada sebagian orang tua yang protes untuk membuka sekolah secepatnya karena tidak sanggup menyaksikan anaknya bermain sepanjang hari.

Padahal mencari ilmu itu bisa dilakukan di mana saja, tidak harus di sekolah. Tapi sistem kapitalistik sekarang ini mengaburkan hakikat mencari ilmu itu sendiri.

Maka dari  itu perlunya kita kembali kepada hakikat menuntut ilmu yang wajib menurut islam. Ketika menuntut ilmu karena dorongan iman, maka itu tidak akan menjadi beban bagi anak atau orang tua begitupun guru.

Sejatinya karena ini adalah kewajiban dari Sang Khaliq maka semakin memicu untuk senantiasa menuntut ilmu bagaimana pun terjal jalan untuk mencapainya.

Namun sayang kita tidak hidup dalam sistem yang mendukung Ibu atau orang tua agar memberikan pendidikan terbaik kepada anaknya.

Kehidupan sekuler sekarang ini membuat orang tua kalang kabut. Bahkan negara tidak mampu menjamin terselenggaranya pendidikan yang kondusif.

Negara seharusnya mampu melahirkan kebijakan yang mampu melahirkan para ilmuan dalam segala bidang bukan hanya sekedar pekerja profesional. Wallahu’alam.[]

*Praktisi pendidikan

Sumber: Media Umat- Pontang Panting Sekolah Daring 20/08/20

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × four =

Rekomendasi Berita