RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Jurnal Pemikiran Sosial dan Ekonomi Prisma bersama Laboratorium Indonesia 2045 (LAB 45) meluncurkan edisi khusus bertajuk Hubungan Sipil-Militer di Tengah Krisis Demokrasi di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta, Senin (16/9/2025). Peluncuran ini dirangkaikan dengan diskusi publik yang menghadirkan sejumlah akademisi dan peneliti.
Sejak terbit pertama kali pada 1971, Prisma dikenal sebagai ruang dialog kritis yang mempertemukan akademisi, peneliti, hingga pembuat kebijakan. Salah satu pendirinya, Ismid Hadad, menekankan bahwa jurnal ini sejak awal hadir untuk menjadi wadah percakapan intelektual yang bebas dan berpijak pada realitas bangsa.
Edisi khusus kali ini menyoroti menguatnya kembali keterlibatan militer dalam ranah sipil pascareformasi 1998. Fenomena itu terlihat dari penempatan perwira aktif di jabatan sipil, keterlibatan TNI dalam program pembangunan, hingga revisi UU TNI 2025 yang masih menuai polemik.
“Demokrasi tidak bisa berjalan sehat bila kontrol sipil melemah. Prisma hadir untuk membantu publik memahami problem mendasar bangsa: bagaimana membatasi peran militer dalam ranah sipil tanpa mengorbankan stabilitas,” ujar Pemimpin Umum Prisma Rustam Ibrahim.
Pandangan serupa disampaikan Pemimpin Redaksi Prisma Fajar Nur Sahid. Menurut dia, perluasan peran militer ke ranah sipil merupakan kemunduran agenda reformasi. Kondisi itu berpotensi mengancam prinsip supremasi sipil apabila tidak diiringi kontrol yang kuat.
Edisi khusus Prisma ini menghadirkan analisis sejumlah akademisi dan peneliti dalam dan luar negeri, antara lain Marcus Mietzner, Made Supriatma, Andi Widjajanto, Makmur Keliat, Nur Iman Subono, Usman Hamid, Al Araf, Sukidi, dan Ninok Leksono. Topik yang dibahas mencakup reformasi militer, politik pembangunan, ekonomi politik militer, hingga perbandingan dengan negara lain.
Kepala LAB 45 Jaleswari Pramodhawardani menekankan pentingnya riset yang tajam dan berbasis data. “Kolaborasi ini bukan hanya menerbitkan jurnal, tetapi juga membuka ruang percakapan strategis tentang arah demokrasi, kebangsaan, dan masa depan Indonesia,” ujarnya.
Kolaborasi Prisma dan LAB 45 ini diharapkan mampu menyalakan kembali ruang publik intelektual di tengah derasnya arus informasi yang kerap dangkal. Penyelenggara juga membuka ruang kontribusi bagi generasi muda untuk menyumbangkan gagasan segar dalam memperkuat demokrasi Indonesia.[]














Comment