by

Retno Purwaningtias, S.IP*: Boikot Prancis Secara Total, Bukan Parsial

-Opini-21 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — “Aku akan menarik pedang ketika sedang sekarat. Aku akan menjadi debu dan terlahir kembali dari debuku, dan berjuang bahkan jika mereka memotong leherku, mencabik-cabik dagingku untuk melihat wajah Baginda Nabi kita. Melihat wajah Rasulullah di akhirar.” (Sulthan Abdul Hamid Han II).

Seluruh penduduk muslim di dunia kini tengah murka pada Presiden Prancis Emmanuel Macron, sebab pernyataannya yang dinilai menghina agama islam. Kartun Nabi Muhammad dibiarkan beredar luas atas nama “kebebasan berpendapat”.

Pada awal September lalu, Macron pernah mengajukan undang-undang untuk “Separatisme Islam” di negara yang ia pimpin. Macron sempat berujar, “Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia”.

Ia pun menganggap enteng masalah karikatur Nabi yang dikeluarkan oleh majalah Satir Prancis Charlie Hebdo. Ia mengaku tak bisa mengekang karena kebebasan berekspresi. (cnbcindonesia.com, 28/10/2020).

Menurut Macron, membatasi kebebasan berekspresi untuk melindungi perasaan satu komunitas tertentu akan merusak persatuan nasional.

Pernyataan Macron itu telah membuat penduduk muslim mayoritas di Timur Tengah dan Asia mengutuk sikap Macron, termasuk Indonesia. Seruan untuk melakukan pemboikotan produk-produk Prancis dilakukan serentak oleh negara Turki, Yordania, Arab Saudi dan Kuwait. Dilansir dari Al Jazeera, 28/10/2020, setelah seruan boikot produk Prancis dari para pengusaha dan asosiasi bisnis di Arab, sejumlah toko-toko ritel dan supermarket menarik produk-produk buatan Prancis dari rak-rak penjualan. Bahkan Seruan tagar #NeverTheProphet dan #BoycottFrenchProducts juga menggema di lini masa pengguna media sosial di negara-negara Arab seperti Aljazair, Mesir, Irak, Palestina, Arab Saudi, Yordania, Kuwait, dan Qatar. (money.kompas.com, 28/10/2020).

Boikot adalah ungkapan protes yang menandakan masih adanya “nyawa” bagi umat islam. Ungkapan protes ini dilakukan umat islam untuk membela Nabi. Sebab menurut keyakinan umat muslim, pembelaan terhadap nabi adalah syariat yang harus dilakukan. Namun tentu boikot saja tidak akan mampu menghilangkan penghinaan kepada Nabi secara total. Karena pelecehan terhadap Nabi Muhammad ini bukanlah yang pertama kali ini dilakukan oleh Majalah Charlie Hebdo. Prancis pernah melakukan penghinaan yang sama di tahun 2015 lalu. Meski mendapatkan banyak kecaman dari berbagi negara, nyatanya pemerintah Prancis mendukung ulah Majalah tersebut.

Melihat pengulangan sikap—Prancis—yang tak pernah kapok, aksi boikot ini hanya akan berumur pendek dan berlangsung sementara saja. Sebab boikot produk belum cukup memberikan pelajaran pada Prancis atas penghinaan yang dilakukan pada umat islam. Karena ada produk mereka yang lebih berbahaya, yaitu produk pemikirannya; sekulerisme.

Sekulerisme adalah paham yang bertentangan dengan akidah islam. Sekulerisme telah menjadikan sepele atas sikap penghinaan yang dilakukan Prancis kepada Nabi. Menjadikan “kebebasan berekspresi” sebagai alasan pembenar untuk melakukan penghinaan terhadap islam.

Macron mempromosikan kebebasan, HAM dan demokrasi sebenarnya tujuannya hanya satu, yaitu melakukan perlawanan terhadap Islam.

Hadirnya sekularisme di dunia Islam merupakan ulah kolonialisme Barat terhadap negara-negara Islam yang tujuannya mencabut islam hingga ke akar-akarnya. Istilah ini masuk ke dunia Islam bersaman dengan istilah-istilah lainnya seperti modernitas, weternisasi dan modernisasi, ditambah lagi dengan dangkalnya pemahaman umat terhadap agamanya maka muncul beberapa pemikiran yang hanya mengandalkan akal saja tanpa didasari pemahaman agama yang benar.

Seorang politisi dan orator Irlandia, Sir George Bernard Shaw, pernah menulis dalam bukunya yang berjudul “The Genuine Islam”. Di buku itu ia menuliskan, “Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris bahkan Eropa, beberapa ratus tahun dari sekarang, islamlah agama tersebut”. Dari situlah muncul kebencian Barat terhadap dunia islam.

Berbagai tuduhan dan serangan negatif terus digencarkan. Menyebarkan opini bahwa Islam adalah agama teroris. Jihad yang menjadi ruh dalam tubuh umat islam dianggap sebagai bentuk kriminalisasi oleh negara-negara sekuler, termasuk Indonesia. Seperti yang dikatakan oleh Sekum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti yang mengatakan “Pemenggal guru Prancis itu kriminal, bukan pahlawan”. (sumber: detik.com).

Demokrasi telah melahirkan sekulerisme yang membuka ruang kebebasan hampir tak terbatas. Demokrasi lahir dari pemikiran Socrates yang anti terhadap agama. Sehingga apa yang diinginkan oleh kebebasan demokrasi adalah kebebasan yang sesuai dengan paradigma si Socrates pemikir dan konseptor demokrasi ini.

Jadi jangan heran bila kebebasan berekspresi ini dijadikan dalih oleh mereka atas penghinaan terhadap Nabi.

Di sinilah sebenarnya tak cukup umat muslim hanya melakukan pemboikotan secara parsial. Pemboikotan terhadap Prancis harus dilakukan secara total. Tak cukup dengan boikot produk-produknya saja.

Produk original Prancis yang paling berbahaya dan wajib kita campakkan adalah sekulerisme, demokrasi, nasionalisme dan pastinya kapitalisme.

Umat Islam seluruh dunia harus bersatu untuk meninggalkan dan mencampakkan sistem aturan buatan Barat dan kembali pada sistem kepemimpinan islam, sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW contohkan.

Sebab dengan kepemimpinan islam yang menerapkan syariat secara menyeluruh maka tidak akan pernah didapatkan siapa pun yang berani untuk menodai dan menghina Islam, Al-Quran, ajarannya dan juga Nabi sebagai ujung tombak dakwah Islam.

Sejarah telah mencatat kisah masa kepemimpinan Ustmani yang dipimpin oleh khalifah Abdul Hamid II. Pada masa kepemimpinannya, pernah suatu hari negara Prancis akan melakukan sebuah pentas pertunjukkan kartun Nabi Muhammad.

Berita itu terdengar sampai ke telinga khalifah. Saat itu khalifah begitu murka. Khalifah langsung memanggil utusan negara Perancis dan memberikan peringatan untuk menghentikan pergelaran pentas tersebut.

Jika tetap dilaksanakan, maka khalifah akan mengerahkan pasukan tempur untuk menghentikan pentas tersebut. Melihat kekuatan dan besarnya kepemimpinan peradaban islam saat itu, maka Prancis pun segera membatalkan acara tersebut.

Sikap marah dan ketegasan yang ditunjukkan oleh khalifah Abdul Hamid II merupakan wujud kecintaan terhadap Nabi dan pembelaan saat Rasulullah dihina sedemikian rupa. Khalifah tidak akan pernah membiarkan ada yang menghina, merendahkan, apalagi melecehkan ajaran islam dan nabinya.

Khalifah Abdul Hamid II mengatakan bahwa membela agama itu adalah wujud keimanan dan ia pun rela demi agama islam yang mulia.

Sepanjang sejarah kepemimpinan islam, tak pernah didapatkan kekerasan, intoleransi pada agama lain.

Dalam penjelasan lain dari buku “The Genuine Islam”, Sir George Bernard Shaw menuliskan kekagumannya pada islam di bawah kepemimpinan Baginda Nabi Muhammad SAW. Ia menuliskan, “Dia—Muhammad—membawa sebuah agama, mendirikan sebuah bangsa, meletakkan dasar-dasar moral, memulai sekian banyak gerakan pembaharuan sosial dan politik, mendirikan sebuah masyarakat yang kuat dan dinamis untuk melaksanakan dan mewakili seluruh ajarannya, dan ia juga telah merevolusi pikiran serta perilaku manusia untuk seluruh masa yang akan datang.” Tak ada yang menunjukkan kekerasan dan intoleran. Malah keadilan, ketentraman, kesejahteraan dan kedamaian tercipta dalam negara yang menerapkan sistem aturan Islam.

Kecaman dunia—terutama negara-negara mayoritas muslim—pada Prancis dengan seruan memboikot produk-produk Prancis, mesti sadar bahwa demokrasi yang melahirkan sekulerisme juga merupakan produk Prancis dan sangat berbahaya. Boikot Prancis secara total, bukan parsial. Umat Islam harus sadar akan hal ini. Bahkan Barat pun sebenarnya sangat menyadari bahwa peradaban gagal dan busuk yang terus mereka pertahankan perlahan akan mati ditelan kerusakannya sendiri. Wallahu’alam Bisshowwab.[]

*Mahasiswi Universitas Airlangga
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × four =

Rekomendasi Berita