Rindyanti Septiana, S.Hi: Krisis Air Melanda Negeri

Berita390 Views
Rindyanti Septiana, S.Hi: Penulis [
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Ratusan KK di kawasan Desa Delitua Kecamatan Namorambe dan sekitarnya mengeluh konerja Tirtanadi Delitua. Sudah lebih sepekan, warga tidak mendapatkan akses air bersih dengan semuprna. Air tidak mengalir nyaris selama satu harian. Kalaupun mengalir hanya pada malam hari dan volumenya kecil. Warga tidak bisa melaksanakan kehidupan rumah tangga dengan baik, tidak bisa mandi, mencuci hingga memasak. 
Kepala Cabang Tirtanadi Delitua Sofyan Hendri mengatakan bahwa debit air dari gunung menurun, seperti dikutip dari medanheadlines.com, sabtu (18/7). 
Krisis air juga terjadi di beberapa desa dataran tinggi Samosir, yaitu Ronggur ni Huta, Lintong Ni Huta, Sijambur, Paraduan, Saungan ni Huta, Salaon Toba, Salaon Tonga-tinga, dan Salaon Dolok. Hingga 73 tahun Indonesia merdeka, kedepalan desa tersebut masih kesulitan mendapatkan air bersih, medan.tribunnews.com, (16/8).
Krisis air yang melanda di beberapa daerah tersebut dan juga sebagian wilayah di Indonesia, karena dampak dari pengelolaan air yang kapilatistik. Para ahli iklim dan lingkungan menunjukkan laju deforestasi (penebangan hutan) yang sangat cepat adalah yang beranggungjawab terhadap krisis air bersih, disamping iklim ekstrem dan pemanasan global. Baik deforestasi maupun iklim ektrem faktor penghambat yang sangat besar dalam keberlangsungan daur air. 
Eksploitasi mata air oleh pebisnis air minum kemasan, pencemaran sungai dan liberalisasi air bersih perpipaan. Kesemua itu memiliki ruang yang subur dan luas dalam sistem kehidupan sekular. Khususnya sistem ekonomi kapitalisme yang melegalkan kelalaian negara. 
Meski ada peraturan perundang-undangan dan program yang telah dijalankan pemerintah termasuk pembentukan Dewan Sumber Daya Air Nasional namun penanggulangan dan pencegahan terhadap krisis air tetap gagal. 
Hingga puluhan juta jiwa tetap tidak ada akses terhadap air bersih dan sanitasi yang baik. Kian parah serta semakin meluas tiap kali muslim kemarau datang. Menurut BMKG ancaman kekeringan tahun ini meliputi sebagian besar Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali , Nusa Tenggara, sebagian Maluku Utara, Bagian Selatan Papua Barat dan Papua sekitar Merauke. 
Berbeda dengan Islam yang pernah diterapkan dalam institusi Khilafah. Sejarah merekam dan menunjukkan kota-kota Islam abad pertengahan sudah memiliki sistem manajemen dan pasokan air yang sangat maju untuk mengalirkan air ke semua tujuan. Saat itu air disimpan di dalam tangki untuk disalurkan melalui pipa-pipa di bawah tanah ke berbagai tempat. 
Di Spanyol pemandian umum dapat ditemukan bahkan di desa terkecil. Kaum Muslim memiliki kebiasaan mandi setiap hari dan karenanya, pemandian umumnya disediakan untuk pria di pagi hari dan wanita di sore hari. Tidak hanya perkotaan, pemukiman penduduk dan pedesaan, lahan-lahan pertanianpun terairi dengan memadai. 
Dalam peradaban Islam daur air dan segala aspek yang menjaga keberlangsungannya terjaga. Baik hutan, iklim, sungai dan danau. Maka sudah menjadi keharusan bagi kita menyadari dan mengembalikan bumi dan segala isinya ke dalam pangkuan sistem kehidupan dari Penciptanya, ialah Allah Swt.[]

Penulis adalah Pembina Forum Muslimah Cinta Islam, Johor Medan

Comment