Rusia Menolak Keras LGBT, Apa Kabar Negeri +62?

Opini728 Views

 

Oleh: Messy Ikhsan, S.pd, Guru PAI dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Bukittinggi

________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Tidak ada angin dan tidak ada hujan, Parlemen Rusia pada hari Kamis (24/11/2022) menyetujui rancangan undang-undang tentang larangan menyebarkan propaganda LGBT dan membatasi tampilan LGBT di publik.

Dilansir dari Reuters, undang-undang baru itu masih membutuhkan persetujuan dari majelis tinggi parlemen dan Presiden Vladimir Putin. Undang-undang akan mengatur setiap tindakan atau informasi yang dianggap sebagai upaya untuk mempromosikan homoseksualitas, baik di depan umum, online, atau dalam film, buku, atau iklan, dapat dikenakan denda yang berat, seperti dilansir di laman kompas.com pada (25/10/22).

Keputusan Rusia melarang propaganda LGBT tentu membuat geger dunia Barat yang terkenal dengan kehidupan liberal dan menuhankan hedonisme. Di tengah era gempuran Barat yang bangga melegalkan eksistensi kaum Sodom, Rusia malah terang-terangan melakukan penolakan. Lantas, apa kabar eksistensi kaum Sodom di negeri mayoritas muslim seperti Indonesia?

Kaum LGBT Kian Menjamur di Bumi Pertiwi

Seperti dilansir di laman ruanginfo.com merilis lima provinsi di Indonesia yang memiliki jumlah LGBT yang tertinggi seperti Sumbar (18k), DKI (43k), Jateng (218k), Jatim (300k), Jabar (310k).

Sungguh miris, di negeri yang mayoritas muslim terbesar di dunia. Tapi, eksistensi kaum Sodom semakin berani unjuk gigi. Bahkan, tak jarang kaum Sodom juga mendekap bejibun dukungan dari para publik figur dengan dalih HAM.

Padahal sudah jelas efek begitu banyak efek buruk yang ditimbulkan oleh eksistensi kaum LGBT seperti merusak keturunan, penyakit kelamin, dan lainnya. Bahkan undang-undang dan syariat Islam dengan tegas melarang hal tersebut. Lantas, kenapa kaum LGBT masih berani unjuk gigi?

Penerapan sistem berasas sekulerisme yang memisahkan aturan agama dalam kehidupan melahirkan manusia yang hanya menuhankan hawa nafsu. Menghalalkan semua perkara walau bertentangan dengan syariat tetap saja dilibas. Selain itu, kaum LGBT juga berlindung di balik HAM. Mereka menganggap, bahwa LGBT adalah fitrah dari Tuhan. Padahal itu jelas penyimpanan dan kelainan.

LGBT ini juga merusak fitrah manusia, mencegah kelahiran, merusak moral, termasuk menghancurkan banyak keluarga yang normal. Apalagi kaum gay sudah terbiasa bergonta-ganti pasangan. Mereka juga tidak takut melakukan kekerasan seksual terhadap lelaki normal seperti yang dilakukan gay asal Indonesia, Reinhard Sinaga. Dia memperkosa 159 orang di Kota Manchester, Inggris.

Sistem sekuler berhasil melahirkan generasi sakit yang berani melibas fitrahnya sebagai manusia. Mereka tak menjadikan agama sebagai sandaran dalam kehidupan melainkan menjadikan Barat sebagai corong perbuatan. Sehingga semakin mengundang beragam kerusakan saat membiarkan eksistensi kaum LGBT. Masihkah kita berdiam diri?

Islam Memberantas LGBT hingga Tuntas

Menghentikan propaganda LGBT tidak bisa hanya dengan mengecam apa yang dilakukan negara-negara Barat, melainkan mesti melawan propaganda tersebut dengan dakwah Islam. Lalu melindungi umat dengan penerapan syariah Islam, dan menolak segala peraturan internasional yang bertentangan dengan ajaran Islam serta bisa merusak kehidupan manusia.

Adakah aturan selain syariah Islam yang melindungi fitrah manusia sebagai lelaki dan perempuan, memelihara kehidupan keluarga dan keturunan, serta menjaga kesucian manusia?

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)? (QS al-Maidah [5]: 50).

Indonesia tidak hanya cukup menolak kedatangan pewakilan utusan LGBT dari Amerika Serikat. Tapi, juga menolak segala jenis pemikiran Barat seperti kapitalisme, liberalisme, sekulerisme, dan lainnya.

Agar negeri ini benar-benar menjadi negeri yang mendapat rahmat Allah. Tentu kita harus menerapkan Islam secara kafah agar semua masalah ini bisa tuntas hingga ke akar-akarnya. Bukankah itu yang kita harapkan selama ini?[]

Comment