Tradisi Makan Bajamba Bersama Bundo Kandung di Minangkabau

Opini166 Views

 

 

Oleh : Yasinta Nurul Hidayat, Mahasiswi Pascasarjana UIN Bukittinggi Sumbar

Tradisi makan bajamba atau makan bersama ini telah ada sejak abad ke-7 masehi, dan pertama kali dilakukan di daerah Koto Gadang, di Luhak Nan Tangah, yang sekarang kita kenal dengan Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Budaya ini mengikuti sunnah Rasulullah yang ketika makan selalu bersama-sama. Jika dilihat dari sejarah, upacara adat makan bajamba ini sesuai dengan teori Makkah yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia sejak abad ke-7, melalui perantara pedagang-pedagang Arab di semenanjung Sumatera.

Tradisi ini akan dilakukan setelah acara-acara adat selesai diselenggarakan, seperti ketika pesta perkawinan, pengangkatan penghulu, acara-acara besar agama Islam dan lain sebagainya. Tradisi makan bajamba berbentuk melingkar yang terdiri dari 3-7 orang, kemudian nasi dan lauk pauk diletakkan di tengah.

Suku Minangkabau memiliki banyak sekali tradisi unik yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyangnya. Salah satu tradisi unik tersebut adalah makan bersama atau dalam bahasa Minang “Makan Bajamba”. Tradisi makan bajamba ini biasanya dapat dijumpai pada pesta adat atau pesta pernikahan.

Mengenai asal-usul makan bajamba berawal dari kebiasaan masyarakat di daerah Agam sekaligus mengamalkan sunnah dari Rasulullah. Tradisi ini saat ini telah menyebar ke seluruh pelosok Minangkabau.

“Adat basandi syarak, syarak basandi jo kitabullah” yang artinya adat bersendikan syariat, syariat bersendikan kitab Allah. Ini merupakan pepatah di adat Minang yang masih terus dijaga. Masyarakat Minang dalam melalui semua aktivitas dan kegiatannya ingin tetap menjaga norma-norma yang berlaku dalam kehidupan adat istiadat minang.

Tradisi makan bajamba ini bukan hanya sekadar makan bersama-sama tetapi juga menggunakan piring yang besar. Piringnya terbuat dari besi orang Minangkabau biasa menyebutnya dengan talam. Dalam makan bersama, hal yang perlu diperhatikan adalah, tidak boleh mengambil lauk yang jaraknya jauh dan dahulukan orang tua.

Lauk yang wajib seperti rendang, gulai itiak, ayam goreng, perkedal, sayur buncis, juga ayam gulai. Semuanya harus ada dan tidak boleh ketinggalan. Yang unik dari Bajamba ini selain aturan makanannya yang tidak dapat ditinggalkan, biasanya makan najamba dibuka dengan acar aacara berbalas pantun.

Beberapa adab dalam tradisi ini antara lain adalah seseorang hanya boleh mengambil apa yang ada di hadapannya setelah mendahulukan orang yang lebih tua mengambilnya.

Makan ini bertujuan agar nasi yang hedak masuk ke mulut bila tercecer tidak jauh dari piring sehingga yang lain tidak merasa jijik untuk memakan nasi yang ada dalam piring secara bersama-sama. Selain itu, posisi duduk juga harus tegap atau tidak membungkuk dengan cara basimpuah bagi yang perempuan dan baselo bagi laki-laki. Setelah selesai, tidak ada lagi nasi yang tersisa di piring, dan makanan yang disediakan wajib dihabiskan.

Penyelenggaraan tradisi ini memiliki makna tersendiri yang dalam dan penuh arti. Bayangkan, dalam 1 dulang makanan, kita kadang duduk melingkar dengan orang-orang yang tidak kita kenal. Sehingga, memunculkan rasa kebersamaan tanpa memandang status maupun gender. Bagi yang belum tahu, arti jamba adalah dulang. Dulang ini terbuat dari anyaman daun, di bawa oleh kaum perempuan di atas kepalanya, ditutup dari tudung saji yang terbuat dari anyaman daun enau, dan diatasnya dilampiri dengan dalamak, kain bersulam benang emas.

Tradisi makan bajamba untuk melestarikan budaya. Selain itu pelaksanaan Makan bajamba juga bisa dilihat sebagai upaya melestarikan salah satu budaya Minang. Dan semoga budaya makan bajamba tetap hidup di tengah lingkungan masyarakat Minangkabau.[]

Comment