Saat Gen Z Kehilangan Ketenangan, Islam Menawarkan Harapan

Opini59 Views

Penulis: Wulan Shavira Nopa – Mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Generasi Z (Gen Z) merupakan generasi yang tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan derasnya arus informasi. Kemudahan mengakses berbagai pengetahuan, hiburan, hingga media sosial membuka banyak peluang, tetapi di sisi lain juga menghadirkan tantangan yang tidak ringan.

Banyak anak muda mengaku mengalami kecemasan terhadap masa depan, tekanan akademik maupun pekerjaan, hingga kehilangan ketenangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Beragam solusi pun bermunculan, mulai dari konten motivasi, healing, hingga tren self-love yang ramai di media sosial. Namun, bagi sebagian orang, berbagai pendekatan tersebut belum mampu menyentuh akar persoalan sehingga ketenangan yang dirasakan hanya bersifat sementara.

Sebagaimana ditulis Tirto.id (Maret 2026), hasil Program Cek Kesehatan Gratis terhadap sekitar tujuh juta anak menunjukkan hampir 10 persen peserta terindikasi mengalami gangguan kesehatan jiwa.

Sebanyak 4,4 persen mengalami gejala kecemasan, sedangkan 4,8 persen menunjukkan gejala depresi. Data tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan mental generasi muda merupakan persoalan yang perlu mendapat perhatian serius.

Apabila kondisi ini terus berlanjut, bonus demografi yang diharapkan menjadi modal menuju Indonesia Emas dikhawatirkan tidak akan memberikan hasil optimal. Generasi produktif dapat kehilangan semangat, optimisme, bahkan arah dalam membangun masa depannya.

Di sisi lain, muncul pula fenomena positif. Banyak Gen Z mulai bersikap kritis terhadap berbagai persoalan sosial, ekonomi, maupun budaya yang mereka hadapi.

Mereka berupaya mencari alternatif perubahan dan mempertanyakan berbagai kondisi yang dianggap belum memberikan keadilan. Sikap kritis tersebut dapat menjadi modal penting bagi lahirnya generasi yang mampu membawa perubahan.

Menurut pandangan penulis, kecemasan yang dialami Gen Z tidak muncul tanpa sebab. Ketidakpastian ekonomi, perubahan sosial yang cepat, krisis moral, hingga dinamika politik ikut memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap masa depan.

Selain itu, budaya yang lebih menekankan keberhasilan material dan popularitas dinilai dapat membuat sebagian anak muda kehilangan makna hidup yang lebih mendalam.

Dalam perspektif Islam, persoalan tersebut tidak cukup diatasi hanya dengan menyelesaikan gejalanya, tetapi juga perlu menyentuh akar masalahnya. Islam dipandang sebagai pedoman hidup yang menawarkan ketenangan, arah, serta harapan bagi manusia.

Islam dikenal sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, yakni membawa rahmat bagi seluruh alam. Dalam pandangan penulis, nilai-nilai Islam apabila diterapkan secara menyeluruh akan menghadirkan kehidupan yang lebih tenteram, adil, dan memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Sejarah peradaban Islam juga menunjukkan bahwa pembinaan generasi mendapat perhatian besar. Pendidikan tidak hanya diarahkan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga pembentukan akhlak, ketangguhan mental, serta tanggung jawab sosial.

Dengan pembinaan yang menyeluruh, lahirlah generasi yang memiliki integritas, kompetensi, dan kepedulian terhadap masyarakat.

Negara memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya generasi yang sehat, baik secara fisik, mental, maupun spiritual. Berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda memerlukan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat, mulai dari pendidikan, kesejahteraan, hingga pembinaan karakter.

Dalam perspektif penulis, sistem kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai Islam diyakini mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat, kepedulian terhadap umat, serta orientasi hidup yang jelas.

Dengan demikian, cita-cita mewujudkan Generasi Emas tidak berhenti sebagai slogan, melainkan dapat diwujudkan melalui pembinaan yang menyeluruh.
Wallahu a’lam bishawab.[]

Comment