by

Sejahterakan Rakyat, Adopsi Hukum Islam, Prostitusi Online Terhapuskan

-Opini-13 views

 

 

Riska Kencana Putri, A.Md*

____________________________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Prostitusi dalam kamus besar bahasa indonesia didefinisikan sebagai pertukaran hubungan seksual dengan uang atau hadiah sebagai suatu transaksi perdagangan atau disebut juga pelacuran. Sedangkan prostitusi online adalah aktivitas pelacuran yang transaksinya melalui daring (media sosial).

Di Indonesia sendiri, kasus prostitusi online hampir tidak ada habisnya bahkan kini melibatkan anak di bawah umur kian marak.

Seperti dikutip cnn (19/3/2021), polisi mengamankan 15 anak di bawah umur saat menggerebek sebuah hotel milik salah seorang artis. Anak-anak di bawah umur yang terlibat rata-rata berusia 14-16 tahun.

Alasan Materi

Dalam keterangannya seperti yang dikutip CNN itu, sang artis mengakui bahwa keterlibatannya pada kasus prostitusi online ini untuk menutupi biaya operasional hotel selama masa pandemi.

Banyak pihak terlibat prostitusi karena dorongan materi. Anak-anak di bawah umur pun terlibat dalam lembah hitam ini karena iming-iming uang.

Mendapatkan uang dari jasa prostitusi membuat anak remaja ini mau untuk “dipakai”. Banyak juga di antara mereka mencari pelanggan tanpa mucikari, karena uang yang mereka dapatkan lebih besar.

Media Sosial Sebagai Alat Promosi

Media sosial memang memiliki sisi positif namun tak dipungkiri pasti terdapat sisi negatif yang patut kita waspadai. Salah satunya adalah untuk ajang prostitusi. Baik prostitusi yang bergerak perorangan ataupun yang berbentuk jaringan.

Mi Chat adalah aplikasi media sosial yang dipakai mucikari dalam kasus CA yang digunakan untuk mencari pelanggan dan bertransaksi. Ada juga yang bergerak lewat facebook dan twitter. Tapi lebih banyak lewat twitter karena twitter bersifat lebih terbuka. Mereka biasanya menggunakan tagar-tagar khusus.

Selain untuk alat promosi, media sosial berhasil mempengaruhi mindset-mindset para remaja ini menjadi mindset hedonis.

Ingin terlihat fashionable dengan outfit yang branded, punya gadget yang branded, pakai skincare yang dipakai para selegram, nonton konser, dsb.

Ketika mereka tidak memiliki kemampuan membeli, mereka akan memutar cara agar bisa mendapatkan barang-barang tersebut demi terlihat keren di mata teman-temannya. Akhirnya jalan pintas itu adalah prostitusi.

Negara Punya Kewenangan Penuh

Masyarakat yang berada di sekitar tempat prostitusi mayoritas merasakan ketidaknyamanan.

Salah satunya adalah yang dirasakan oleh warga sekitar hotel milik CA, mereka mengatakan sudah lama resah. Pasalnya banyak kondom yang dibuang lewat jendela hotel. Beberapa warga pun sempat melakukan sweeping di sekitar area tetapi memang aktivitas prostitusi itu tidak terlihat dari luar. Jadi warga tidak punya kewenangan untuk bertindak lebih jauh.

Berbeda dengan pihak berwenang seperti polisi dan juga negara. Polisi berhak untuk memeriksa pihak-pihak yang diindikasi ada kaitannya dengan prostitusi online. Mulai dari pemilik tempat prostitusi hingga korban. Korban di sini yakni anak-anak di bawah umur.

Negara dengan aparaturnya diharapkan lebih tegas dalam menangani prostitusi ini. Mulai dari hulu hingga hilir. Hingga kasus-kasus prostitusi bisa dihilangkan sampai akar-akarnya.

Akan tetapi, pasal-pasal hukum yang ada sementara ini hanya bisa menjerat prostitusi yang bergerak secara jaringan. Hukum KUHP tidak berlaku bagi perorangan. Dan yang bisa dijerat pasal hanya mereka yang bergerak untuk memudahkan, mengambil keuntungan atau memfasilitasi prostitusi saja.

Sedangkan untuk pelaku prostitusi sendiri tidak bisa dikenakan hukuman. Malah mereka disebut sebagai korban. Hukum seperti ini tidaklah mampu menghentikan praktik prostutitusi.

Padahal dengan segala kuasanya, negara punya power untuk mengatur urusan rakyatnya. Ketika zina sudah merajalela atas nama hak asasi dan anak di bawah umur masuk jaringan prostitusi demi materi, lalu bagaimana nasib negara ini ke depannya?

Upaya Preventif dan Kuratif Dalam Kacamata Islam

Jika kita melihat bagaimana islam memandang zina dan mau untuk mengadopsi caranya untuk menyelesaikan kasus prostitusi baik online ataupun offline, baik yang bekerja jaringan atau perorangan, niscaya pelacuran di negeri ini akan bisa teratasi tuntas.

Prostitusi merupakan zina. Apapun bentuknya. Maka dalam Islam upaya untuk menghindari zina ada pada aturan menutup aurat, larangan berduaan, larangan campur baur, adanya perasaan merasa diawasi oleh Allah hingga takut untuk berbuat dosa.

Pembinaan spiritual untuk membentuk keimanan dan akhlak agar tidak terjerumus kepada kehidupan hedonis. Supaya mereka tidak mudah menjual diri demi iming-iming materi.

Pada tindakan kuratif, islam memberikan solusi berupa hukuman yang membuat jera pelaku. Baik itu pemilik tempat, mucikari maupun pelaku itu sendiri.

Untuk pelaku zina, jika sudah menikah maka hukumannya adalah rajam hingga mati. Jika belum menikah maka hukumannya adalah cambuk. Untuk mucikari dan pemilik tempat, nantinya akan diserahkan kepada pengadilan terkait hukumannya.

Hukuman tersebut tentunya dilakukan oleh negara. Tidak boleh oleh perorangan atau kelompok masyarakat. Hukuman diberikan setelah melalui proses peradilan yang mengedepankan asas praduga tak bersalah.

Jika ekonomi dan kesejahteraan rakyat terpenuhi ditambah hukuman rajam, cambuk dan ta’zir diadopsi oleh negara, niscaya orang-orang akan takut untuk terjun ke dunia prostitusi dan dengan itu bisnis prostitusi akan tercabut dari akarnya.[]

*Praktisi pendidikan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + 17 =

Rekomendasi Berita