RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Banyak orang menganggap pelukan hanyalah bentuk kasih sayang atau sapaan hangat. Namun, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa pelukan dapat memberikan manfaat signifikan bagi kesehatan fisik dan mental—termasuk meredakan rasa sakit di dada yang sering muncul akibat stres, kecemasan, atau tekanan emosional.
1. Penjelasan Kesehatan dan Ilmiah
Pelukan memicu pelepasan oksitosin, hormon yang dikenal sebagai hormon cinta. Oksitosin membantu menurunkan kadar kortisol (hormon stres) di tubuh. Saat kortisol menurun, ketegangan otot di area dada, leher, dan bahu ikut berkurang, sehingga rasa nyeri yang muncul karena tegang emosional dapat mereda.
Selain itu, pelukan dapat:
– Menurunkan tekanan darah dengan merangsang saraf parasimpatik.
– Menormalkan detak jantung sehingga mengurangi sensasi sesak atau nyeri ringan di dada akibat kecemasan.
– Meningkatkan sirkulasi darah, yang membantu otot dada mendapatkan oksigen lebih baik.
Sebuah studi dari Carnegie Mellon University (2015) menemukan bahwa orang yang rutin mendapatkan pelukan cenderung lebih tahan terhadap gejala fisik akibat stres, termasuk rasa tertekan di area dada.
2. Perspektif Psikologis
Dari sisi psikologi, pelukan berperan sebagai bentuk physical reassurance—yakni sentuhan yang memberikan rasa aman dan diterima.
Dalam situasi cemas atau sedih, otak akan mengaktifkan area amygdala yang mengatur respons “fight or flight”. Pelukan memberi sinyal pada otak bahwa lingkungan aman, sehingga respons ini mereda dan tubuh kembali ke kondisi rileks.
Pelukan juga memperkuat ikatan emosional antarindividu. Bagi seseorang yang sedang mengalami tekanan mental, rasa diterima secara fisik dapat mengurangi beban pikiran, yang pada akhirnya menurunkan gejala psikosomatis seperti sakit di dada.
3. Faktor Media dan Edukasi
Media berperan penting dalam membentuk kesadaran masyarakat tentang manfaat sentuhan positif. Sayangnya, dalam budaya modern yang serba cepat, pelukan sering dianggap tidak penting atau hanya bagian dari hubungan romantis.
Edukasi kesehatan melalui media massa dan media sosial dapat mengubah persepsi ini, mengajak orang untuk kembali mempraktikkan pelukan sebagai bagian dari gaya hidup sehat—tentu dengan memperhatikan konteks budaya dan batas kenyamanan pribadi.
Video edukasi, artikel kesehatan, dan kampanye daring dapat mempopulerkan “therapeutic hugging” sebagai terapi tambahan bagi stres dan nyeri psikosomatis.
Pelukan bukan sekadar simbol kasih sayang, tetapi juga memiliki dasar ilmiah yang kuat dalam membantu meredakan sakit di dada, baik yang disebabkan oleh ketegangan otot maupun faktor psikologis.
Dengan dukungan media dan edukasi yang tepat, pelukan dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehat yang memperkuat kesehatan fisik dan mental.[]









Comment