Penulis: Herliana Tri M | Pegiat Literasi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Setidaknya ada tiga kebijakan Gedung Putih yang akhir-akhir ini membuat ketar-ketir Israel. Pertama, kebijakan Trump yang melakukan gencatan senjata dengan Houthi. Kedua, pembicaraan dengan Hamas di Qatar mengenai sandera Amerika. Ketiga, Trump mengumumkan bahwa perundingan nuklir dengan Iran telah dimulai.
Ketiga hal yang diungkap detiknews (7/5/25) ini tentu saja mengecewakan Netanyahu karena kebijakan Amerika tersebut dianggap tidak berpihak pada Israel.
Terkait gencatan senjata dengan Houthi, pernyataan pejabat senior Houthi di media sosial menggambarkan hal ini sebagai kemenangan yang memisahkan dukungan Amerika dan entitas sementara Israel. Di sisi lain, Houthi memperjelas dukungannya tetap pada Palestina dan gencatan senjata tidak berlaku terhadap Israel.
Dalam pertemuan antara Hamas dan Amerika tanpa melibatkan Israel itu Hamas seperti dilansir CNN -menyatakan akan membebaskan Alexander yang berkewarganegaraan ganda Israel dan Amerika sebagai bagian dari langkah menuju gencatan senjata.
Langkah ini akan membuka penyeberangan ke Gaza dan membawa bantuan kemanusiaan setelah blokade zionis yang telah berlangsung lebih dari dua bulan. Sementara itu, zionis tidak menyetujui adanya gencatan senjata tersebut.
Sebelumnya, kita mengetahui bersama dari berbagai media bahwa Amerika mendukung penuh serangan masif Israel di Gaza, Palestina. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan Trump menyalahkan Hamas atas kekerasan tersebut.
“Dia sepenuhnya mendukung Israel dan IDF serta tindakan yang telah mereka ambil dalam beberapa hari terakhir,” kata Leavitt kepada wartawan, seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (21/3/2025).
Fakta perubahan kebijakan Trump yang sebelumnya mendukung penuh kebijakan Netanyahu dan “arah anginnya” bergeser menunjukkan bahwa ikatan persahabatan atau kepentingan antara Amerika dan Israel ini rapuh. Mereka hanya diikat oleh kepentingan belaka dan akan berubah arah ketika ada perbedaan kepentingan.
Kesamaan kepentingan sebelumnya antara Amerika dan Israel terkait upaya melemahkan kekuatan umat Islam, mengusir warga Gaza dari tempat tinggal mereka, dan menjadikan Gaza sebagai wilayah jajahan. Namun, keberpihakan dengan Israel ternyata tidak menguntungkan Amerika saat ini. Iman masyarakat Gaza dan perjuangan heroik mereka telah menyadarkan masyarakat seluruh dunia akan genosida dan ketidakadilan dunia.
Opini dunia yang memojokkan Israel akan berimbas pada siapa pun yang berada di pihaknya. Pemberian dana dan senjata kepada Israel justru menjadi bumerang dan menyudutkan Amerika. Apalagi, progres Israel mengusir warga Gaza tidak berbuah nyata. Ribuan nyawa warga Gaza yang syahid tidak menjadikan mereka yang masih tersisa menyerah begitu saja.
Dukungan dunia tidak pernah surut membela Palestina, dan demo serta protes berkepanjangan dari warga Amerika sendiri semakin menyudutkan posisi Amerika.
Rapuhnya ikatan orang-orang kafir digambarkan dalam firman Allah Swt, “Mereka tidak akan memerangi kamu (secara) bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, padahal hati mereka terpecah belah. Yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak mengerti” (QS Al-Hasyr 59: Ayat 14).
Lemahnya ikatan persekutuan Amerika-Israel seharusnya menyadarkan umat Islam bahwa ikatan aqidah lebih kuat dibandingkan ikatan darah. Bagaimana sahabat Rasulullah bisa bertempur bersama Rasulullah meskipun harus mengorbankan harta, nyawa sendiri, bahkan juga bisa kehilangan anak-anak yang mereka cintai?
Ikatan aqidah adalah pemersatu di bawah naungan kalimat tauhid. Perbedaan bahasa, warna kulit, suku tidak mampu melemahkan ikatan ini.
Oleh karena itu, ikatan aqidah inilah yang seharusnya menjadikan umat Islam seluruh dunia bersatu mengusir penjajahan zionis dan menjaga kehormatan saudara kita di Palestina.
Tidak selayaknya kita biarkan Palestina berjuang sendirian menghadapi kekuatan militer zionis sementara kita, umat Islam, hanya diam seribu bahasa atau bersembunyi di balik kata-kata dan retorika semata.[]









Comment