by

Siapkan Kurikulum Merdeka, SD Kecamatan Cipayung, Depok Gelar Work Shop Penyusunan Kurikulum KTSP dan KOSP

 

RADARINDONESIANEWS.COM, DEPOK — Menyambut Tahun Ajaran (TA) baru  2022-2023,  satuan Pendidikan wilayah Kecamatan Cipayung Kota Depok, Gelar Woks Shop penyusunan kurikulum KTSP dan KOSP,  In House. Training (IHT) tentang Implementasi kuriklum Merdeka Bertempat di SDN Utan Jaya Cipayung Kota Depok, Kamis (7/7/22).

“Bergantinya kurikulum Pendidikan di Indonesia menjadikan pola manajemen dan pengembangan pun harus menyesuaikan pada satuan pendidikan. Olehkarenanya, menjelang tahun ajaran baru, kita temen -temen melaksanakan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM). Target kami di tahun ajaran baru ini, kelas 1 dan 4, harus mengemplementasikan dan melaksanakan kurikulum Merdeka.” kata Awang, Kepala Bidang (Kabid) SD pada Dinas Pendidikan Kota Depok .

Lebih jauh Awang menjelaskan, Kurikulum Merdeka ini, bedanya lebih dalam kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Siswa sebagai pelaku pembelajaran berbasis Prodak karya anak .

Siswa belajar, tambah Awang, tidak melulu balajar berada di ruang kelas, akan tetapi eksplorasi belajar berada di luar kelas.

Awang melanjutkan, pembelajaran Kurikulum Merdeka ini sudah di gaungkan sejak tahun 2021. Dimulai pada program Sekolah dan guru Penggerak.

Pembelajaran ini tidak meninggalkan pembelajaran yang sudah ada, hanya di kolaborasi dari pelajaran yang lama dengan yang baru sesuai pada Permendikbud tahun 2021.

“Saat ini Works Shop sudah berjalan di 11 kecamatan. Mudah-mudahan siswa dan sekolah dapat melaksanakan.” harapnya.

Terkait ini Nurhayati panitia pelaksana Kegiatan Works Shop IHT yang juga selaku kepala sekolah SDN Utan Jaya berharap seluruh guru mampu memahami kurikulum merdeka dan mengimplementasikanya di sekolah untuk sama-sama memberikan kualitas layanan yang terbaik untuk siswa.

“Kurikulum yang disebut Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) apakah kompilasi antara kurikulum 13 dengan Kurikulum Merdeka.  Sasarannyapun hanya kelas 1 dan 4. Penerapannya masih mengacu pada kurikulum yang lama cuma penggunaanya disesuaikan dengan karakteristik siswa.” jelasnya.

Nurhayati menambahkan, hanya bedanya pada kondisi dan keadaan lingkungan sekolah, perserta didik, lokasi Industri, nelayan, dan bagaimana situasi daerah itu.

Ia mencontohkan, kita berada di sekolah  daerah Industri – karena bahan dasarnya berbasis lingkungan, intinya kita lebih mengekang pada nilai nilai Pancasila

Nurhayati berharap, pertama dari
segi tendik harus dikembangkan lagi karena ini menggunakan IT secara tidak langsung Guru – guru harus bisa IT.

Kedua, harus kreatif, inovatif, karena ini membutuhkan kreasi dari guru untuk menarik Siswa.

Tiga, untuk siswa diharapkan bisa menerima dan mentransfer Kurikulum Merdeka berbasis lingkungan dan sekolah sudah dibekali sosialisasi.(GI)

Comment