by

Sistem Pendidikan Lemah Hasilkan Mutu Guru Rendah Bertahan Atau Ubah Haluan?

-Opini-34 views

 

 

Oleh: Rindyanti Septiana, S.H.I, Founder Komunitas Menulis Darun Nawawi

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Setiap kali survei pendidikan dilakukan di dalam negeri, selalu menunjukkan kualitas pendidikan yang menurun alias lemah dan mutu guru juga rendah. Baru-baru ini peneliti Bank Dunia (World Bank), Rythia Afkar menilai kualitas guru di Indonesia rendah berdasarkan hasi survei mereka lakukan pada 2020. (cnnindonesia.com, 17/9/2021).

Ia menyatakan rendahnya kualitas guru dalam negeri dari sisi kompetensi dan kemampuan mengajar. Mengapa kualitas pendidikan menurun dan mutu guru juga rendah masih berlangsung di negeri ini? Seolah tidak ditemukan solusinya hingga saat ini. Apakah pemerintah abai dan tutup mata atas semua ini?

Bukankah tujuan negara mencerdaskan kehidupan bangsa? Hal itu tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat. Sudah semestinya pemerintah serius mengatasi menurunnya kualitas pendidikan dan rendahnya mutu para guru.
Karena guru dan tenaga pendidik merupakan ujung tombak paling penting dalam kemajuan bangsa. Jika ujung tombaknya tumpul, bagaimana mungkin dapat menajamkan pemikiran generasi bangsa? Akhirnya negara selalu tertinggal pendidikannya dibandingkan dengan negara yang lain.

Mutu Guru Rendah Sorotan Bagi Dunia

Berdasarkan data Programme for International Student Assessment (PISA) 2018, performa Indonesia di bawah rata-rata untuk kemampuan matematika, sains, dan membaca. Posisi Indonesia pun tidak banyak berubah selama 15 tahun terakhir.

Direktur Pendidikan Vox Point Indonesia, Indra Charismiadji menyatakan penurunan kemampuan matematika, sains dan membaca siswa dipengaruhi oleh mutu guru yang rendah. Rata-rata nilai ujian kompetensi guru (UKG) 2019 yang dilakukan Kemendikbud menunjukkan nilai yang masih rendah. (beritasatu.com, 21/7/2021).

Tingkat SD, nilainya 54,8%, SMP 58,6%, SMA 62,3%, dan SMK 58,4%. Bahkan yang lebih menyedihkan, kajian Bank Dunia 2019 menunjukkan kurva pendidikan Indonesia abnormal. Menurut hasil PISA menunjukkan bahwa anak yang lahir normal di Indonesia, saat sekolah menjadi abnormal. Disebabkan level yang kurang pintar lebih banyak daripada level yang bagus atau biasa-biasa saja.

Dengan berbagai data yang telah dituliskan, apakah pemerintah masih disibukkan dengan mencari tambahan utang? Atau masih disibukkan dengan persiapan ibu kota negara (IKN) dengan gelontoran dana yang fantastis? Kapan memperbaiki kualitas pendidikan dan mutu guru menjadi fokus pemerintah?

Bertahan Atau Ubah Haluan?

Jika telah terbukti selama ini sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang diadopsi tidak membawa kebaikan justru kualitas pendidikan semakin menurun. Lantas, mengapa masih mempertahankan sistem pendidikannya? Tidak mungkin para pakar pendidikan tak dimiliki negeri ini?

Namun, para pakar pendidikan belum juga mau mengalihkan pandangan pada sistem pendidikan Islam. Kalau pun ada yang meliriknya, masih susah menerapkannya dalam sistem demokrasi kapitalistik. Mengapa? Karena sistem pendidikan Islam hanya bisa diterapkan dalam sistem negara Islam pula.

Pendidikan merupakan tanggung jawab negara. Maka, tidak bisa hanya mengandalkan satu atau dua orang pakar pendidikan menyolusinya. Melainkan penguasa dan jajarannya, harus serius mengatasi hal ini. Menjadi tanya bagi kita, apakah penguasa dan jajarannya mau mengambil sistem pendidikan Islam menyolusi berbagai problematika pendidikan ?

Padahal, Dekan Fakultas Pendidikan dan Bahasa Unika Atma Jaya Jakarta, Luciana telah mengatakan, harus segera mengubah paradigma Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) demi menghasilkan guru yang bermutu tinggi. (beritasatu.com, 21/7/2021).

Mengubah paradigma berarti diawali dengan mengubah sistem pendidikannya. Ubah haluan sistem pendidikan sekuler kapitalistik menjadi sistem pendidikan Islam.

Guru Berkualitas dalam Naungan Islam

Dalam sistem Islam, guru menjalankan perannya sebagai pengajar sekaligus pendidik. Setiap guru bertanggung jawab untuk membentuk kepribadian Islam pada diri peserta didik. Mereka harus memiliki perilaku dan pemikiran islami.

Akidah Islam harus menjadi landasan berpikir mereka sekaligus standar dalam bertingkah laku. Mereka pun harus memastikan bahsa hanya pemahaman Islam yang membentuk pemikirian mereka. Pemahaman (tsaqofah) asing yang bercokol dalam pemikiran mereka harus ditinggalkan.

Para guru juga mendapatkan kemudahan oleh Negara Islam (Khilafah) untuk mengakses sarana dan prasarana meningkatkan kualitas mengajar mereka. Hal tersebut akan membuat guru fokus menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pencetak generasi bangsa yang berkualitas.

Bahkan dalam sejarah keemasan peradaban Islam tercatat bahwa guru mendapatkan penghargaan tinggi, salah satunya memperoleh gaji yang melampaui kebutuhannya.

Di riwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al- Wadl-iah bin Atha, bahwa ada tiga orang guru di Madinah yang mengajar anak-anak, Khalifah Umar bin Khaththab memberi gaji lima belas dinar (1 dinar =4,25 gram emas, 15 dinar =63,75 gram emas; bila saat ini 1 gram emas Rp800, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar Rp51.000.000).

Khatimah

Semestinya sistem pendidikan sekuler kapitalistik diganti dengan sistem pendidikan Islam. Tidak ada alasan kuat untuk mempertahankan melainkan harus berubah haluan. Duhai para guru ikutilah apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw dalam hadisnya, “Jadilah pendidik yang penyantun, ahli fikih, dan ulama. Disebut pendidik apabila seseorang mendidik manusia dengan memberikan ilmu sedikit-sedikit yang lama-lama menjadi banyak.” (HR Bukhari).

Bagi para pemangku kekuasaan memiliki kewajiban menjamin pemenuhan pendidikan setiap warganya. Karena Rasul bersabda, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR Ibnu Majah).

Jika penguasa mengabaikan kewajiban ini, tentu mereka telah melakukan perbuatan dosa yang berhak diganjar dengan neraka.[]

Comment

Rekomendasi Berita