Siswa MAN 1 Surakarta Ciptakan Survivor Robot Pencari Korban Gempa

Berita702 Views
Salma dan Amadeo Ahnaf program Bording School MAN 1 Surakarta, Jateng.[Agung/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEEWS.COM, SURAKARTA – Posisi Indonesia yang terletak di antara lempeng tektonik yakni Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik, mengakibatkan sering dilanda gempa bumi. Seperti masih kita ingat peristiwa gempa dan tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004. Juga gempa di Lombok, disusul gempa dan tsunami di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Suwalesi Tengah (Sulteng).

Gempa di Palu berkekuatan 7,4 Magnitudo yang terjadi pada 28 September 2018 menimbulkan gelombang tsunami, serta likuifaksi. Bencana tersebut telah mengakibatkan bangunan rusak dan menelan ribuan korban jiwa meninggal, luka-luka dan hilang.

Bencana alam yang sering terjadi di Indonesia inilah yang kemudian melatarbelakangi dua Amadeo Ahnaf (kelas XI IPA 1) dan Salma Sonia Jneina Sagiri (kelas XI IPA 2), siswa program Boarding School Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Surakarta untuk menciptakan robot survivor, pencari korban bencana alam yang selamat.

Menurut Salma, Ketika di temui awak media [16/11] menyampaikan robot ini mampu mengidentifikasi posisi korban yang masih hidup di lokasi bencana karena dilengkapi dengan sensor yang bisa mendeteksi suhu tubuh manusia. Sehingga robot tersebut akan memudahkan tim SAR dan relawan untuk mengevakuasi korban. Pembuatan robot survivor tersebut menghabiskan biaya sekitar Rp 6 juta.

Komponen-komponen robot survivor ini meliputi, ultrasonic sensor SRF05, adrafruit AMG88331R thermal camera, compass sensor HMC5883L, IC2560 board with arduino mega 2560, standard servo, rover 5 robot chassis dan 800mAh Li-Po battery 12 V.

Diakui Salma, tidak mudah untuk membuat robot survivor. Mereka membutuhkan waktu selama satu bulan untuk dapat menyelesaikan pembuatan robot tersebut. Dalam proses sempat mengalami kesulitan ketika merancang gripper (penjapit) komponen robot tersebut.

“Kami harus merancang dan membuat komponennya dengan benar biar gripper-nya tidak longgar saat menjapit flashpit ada tanda korban selamat,” ungkap Salma.

Robot ciptaan kedua siswa tersebut berhasil meraih Juara III dalam kompetisi robotik tingkat nasional yang diselenggarakan Kementerian Agama pada 3-4 November 2018 di Depok sekaligus meraih predikat ‘the best original idea’.

Guru fisika sekaligus pendamping keduanya Prihantoro Eko Sulistyo mengatakan, kompetisi robotik tingkat nasional tersebut merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan Kementerian Agama. Kegiatan ini sudah memasuki tahun keempat. Tetapi pihaknya baru mengikuti kompetisi tersebut baru dua tahun terakhir.

Menurut Prihantoro, ketika korban mencari zona aman, namun karena keterbatasan fisik mereka sehingga dalam bencana itu mereka tertimpa runtuhan bangunan maupun lainnya sehingga mereka tidak bisa kemana-mana.

“Nah, robot ini digunakan untuk mencari korban selamat yang terjebak dalam puing-puing runtuhan bangunan atau lainnya yang tidak bisa didetekai relawan. Mereka bisa terdeteksi dengan robot ini kemudian tim SAR dan relawan bisa segera mengevakuasi korban selamat,” jelasnya.

Prihantoro menambahkan, untuk mencari korban selamat robot survivor berjalan di sekitar area lokasi bencana menggunakan sensor termal untuk menangkap suhu manusia yang masih hidup antara 30-40 derajat Celcius. Kemudian pada saat berjalan sensor robot akan berputar. Ketika menemukan korban yang masih hidup maka sensornya berbunyi.

“Untuk memudahkan tim SAR dan relawan mendeteksi korban masih hidup kita menggunakan cahaya secara visual dijatuhkan melalui gripper atau penjapit. Kemudian cahaya itu diletakkan di dekat korban,” pungkas Prihantoro.
[Agung S]

Comment