![]() |
| Sitti Nuril Yanti, S.St |
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Menengok kebelakang bukanlah hal yang salah , namundijadikan sebagai pembelajaran dan sebab akibat sebuah peristiwa. 2018 telah berakhir kini memasuki 2019 helak aroma panas mulai terasa.
2018 adalah tahun penuh duka bagi Indonesia? Kita bisa melihat musibah yang datang bertubi tubi silih berganti dari darat tanggal 29 Juli 2018, mengguncang Lombok dengan kekuatan 6.4 SR, kemudian di susul gempa lagi tanggal 5 Oktober 2018 dengan kekuatan 7 SR, korban tewas berjumlah 98, korban yang mengalami luka luka 269 orang, dan 20.000 mengungsi karena rumah mereka rata dengan tanah (6/8/2018, ragional.kompas.com)
Kemudian, tanggal 20 Oktober 2018 Palu dan Donggala di gunacang gempa 7,4 SR disusul tsunami dan likuifaksi mengakibatkan 2.073 orang meninggal, 680 orang hilang dan ribuan luka-luka(www.bc.com)
Luka belum kering Indonesia kembali lagi berduka, Lion Air JT 610 hilang kontak dan ditemukan jatuh perairan Karawang Jawa Barat. Seluruh penumpang dan awak pesawat Korban tewas berjumlah 189 orang (makassar.tribunnews.com).
Dan akhir tahun 2018 ditutup tsunami yang melanda Banten dan Lampung korban tewas berjumlah 426 orang, 7.202 orang mengalami luka-luka, dan 23 orang dinyatakan hilang(banjarmasin.tribunnews.com).
Ar’Rum: 41 yang artinya ” Telah nampak kerusakan di darat dan dilaut di sebabkan perbuatan tangan manusia Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali kejalan yang benar”.
Ayat tersebut merupakan muhasabah untuk kita semua agar mengintropeksi diri atas perbuatan yang telah dialakukan, kezaliman, kemaksiatan, ketidakadilan serta meremehkan hukum-hukum Allah.
Selain luka yang masih basah, ditambah lagi perekonomian yang semakin merosot, utang melambung tinggi, kesehatan serta pendidikan yang tidak merata, free sex di kalangan remaja, aborsi yang terjadi 2.5 juta tiap tahunnya, serta bola api perpolitikkan yang semakin memanas menambah deretan kemelut negeri.
Kapitalis demokrasi yang masih diagungkan oleh negri ini, membuat segala lini kehidupan manusia diporakporanda tak berbekas. Saatnya kita kembali pada petunjuk hidup yaitu Al’Qura dan Sunah, mengatur segala perbuatan dalam hidup.
Bukankah bila kita kembali pada aturan yang telah ditetapkan olehNya maka Ia janjikan ” dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (Al A’raf:96).[]
Penulis adalah mahasiswi Pasca Sarjana Hukum Kesehatan










Comment