by

Solusi Terhadap Pembebasan Palestina Sebuah Ilusi

-Opini-38 views

 

 

 

Oleh: Balqis Rachmat, S.Pd, Pendidik dan Aktivis Dakwah Makassar

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Aksi represif aparat Israel terhadap Palestina Jum’at (7/5/2021) mendapat kecaman dari belahan dunia.  PBB pun memberikan sikap dengan mengadakan pertemuan darurat. Sebagaimana dilansir Channel News Asia, Kamis (13/5/2021), para diplomat mengatakan, pertemuan darurat itu gagal mencapai pernyataan bersama karena oposisi Amerika Serikat, yang merupakan sekutu utama Israel.

Di sisi lain Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengecam keputusan otoritas pendudukan Israel untuk membangun 800 unit pemukiman kolonial baru yang melanggar hukum di wilayah Palestina yang diduduki. Ini di anggap sebagai pelanggaran baru terhadap resolusi. (www.antaranews.com).

Sejatinya penyebab utama terjadinya konflik adalah dirampasnya tanah milik Palestina oleh Israel. Selanjutnya, Zionis Israel meminta tanah Palestina dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Negara Israel (Perampas) dan Palestina (Tuan Rumah). Bagai seiya-sekata, negara-negara Barat memberikan dukungannya secara terang-terangan dan mengakui keberadaan Negara Israel seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Rusia.

Negara-negara adidaya saat itu rela memberikan “investasi” besar-besaran kepada Israel. Layaknya khas Negara Adidaya, agar bisa menguasai dunia – mereka harus lebih dahulu menaklukkan Negara Adidaya sebelumnya. Tak peduli berapa banyaknya nyawa dan harta yang dikorbankan, semua demi tergulingnya kedigdayaan.

Pendirian “Negara” Israel oleh Inggris, lalu dibesarkan oleh AS dalam rangka menjamin kepentingan mereka di Timur tengah ‘kepentingan ekonomi dan ideologinya’. Sedangkan kepentingan terbesar mereka menghalangi tegaknya kembali peradaban Islam yang telah terbukti keperkasaannya itu.

Sebagaimana dikatakan dalam Q.S Al Baqarah 120 :“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.

Bangsa Palestina membutuhkan bantun militer untuk mengusir tentara Israel dari bumi Palestina. Jika kita analogikan, ada seorang perampok yang membunuh tuan rumah dan memaksa membagi dua rumahnya. Bantuan apa yang logis agar permasalahannya selesai?

Tentu kita harus membantu tuan rumah untuk mengusir perampok tersebut. Pemberian obat-obatan dan makanan sesungguhnya tidaklah mampu menyelesaikan masalah Palestina.

Sepertinya berharap ada solusi dari pemimpin muslim apalagi lembaga dunia ibarat ilusi semata. Karena kita tahu bagaimana peran setiap negara yang ada di dalamnya apa lagi AS.

Dukungan penuh AS terhadap Israel sejatinya telah membuka borok AS. Negara yang menyebut dirinya polisi dunia dan antiteror itu nyatanya menjadi negara pendukung utama teroris seperti Israel.

Sudah saatnya kaum muslim berfikir bahwa berharap pada lembaga dunia seperti PBB tidak akan berpengaruh pada nasib Palestina karena peran sentral AS di lembaga tersebut. Buktinya keanggotaan Indonesia sebagai anggota DK PBB tak berimplikasi apa pun terhadap perilaku Israel yang makin biadab. Hanya kutukan dan kecaman yang nyaring dibunyikan, namun minim hasil. Israel bergeming. AS tutup mata dan telinga.

Di sisi lain menyeret Israel ke  Mahkamah Internasional atas kejahatan kemanusiaan adalah hal yang mustahil. Dukungan AS menjadi alasannya. Ia tak akan membiarkan ‘golden boy’-nya diadili. Hal itu tampak dari keputusan AS yang tak lagi memandang ilegal permukiman Israel di wilayah Palestina.
Membagi dua tanah Palestina dan Israel bukan juga solusi tapi bentuk pengkhianatan.

Palestina adalah tanah kharajiyah yang diperoleh dengan darah dan air mata kaum muslim. Selamanya akan menjadi milik kaum muslimin. Sementara Israel hanyalah entitas parasit yang menumpang hidup di Palestina.

Keberadaannya  sebagai negara dipaksakan oleh Barat. Gencatan senjata tak memberi arti apa-apa. Menghadapi Israel bukanlah dengan diplomasi atau duduk manis berdiskusi. Israel hanya bisa dibasmi dengan memeranginya.

Sejatinya persatuan kaum muslim harus diwujudkan. Palestina adalah ujian ikatan akidah. Palestina adalah cobaan ukhuwah Islamiyah. Ukhuwah itu tak tampak tatkala nation state telah mengerat tubuh kaum muslim menjadi puluhan negara.

Dukungan terhadap Palestina hanya berkutat pada kecaman, bantuan makanan dan obat-obatan, solidaritas, serta kemanusiaan. Palestina membutuhkan lebih dari itu seperti ketenangan, kesejahteraan, terjaga kehormatan, nyawa, dan hartanya.

Tidak ada solusi lain bagi Palestina selain persatuan umat Islam internasional. Dengan persatuan ini, sekat bangsa akan tercerai, persatuan kaum muslim akan mewujud, akidah Islam menjadi pondasi kekuatan Islam. Menyerukan jihad memerangi musuh-musuh Islam. Hanya jihad dan persatuan bangsa bangsa internasional menjadi solusi fundamental untuk Palestina dan negeri muslim lainnya yang masih terjajah. Wallahu a’lam.[]

Comment

Rekomendasi Berita