by

Kontroversi Tes Wawasan Kebangsaan

-Opini-22 views

 

 

Oleh: Nanik Farida Priatmaja, S.Pd,
Aktivis Muslimah

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Miris! 75 peserta dinyatakan tak lulus tes Wawasan Kebangsaan yang digelar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam rangka proses alih status kepegawaian menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Hal ini pastinya menimbulkan kontroversi. Pasalnya peserta yang dinyatakan tak lulus tersebut bukan orang biasa tetapi sebagian dari mereka telah berjasa dalam proses pemberantasan korupsi. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Dilansir dari laman kompas.com,  Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nurul Ghufron mengatakan, 75 orang dinyatakan tidak memenuhi syarat setelah mengikuti Tes Wawasan Kebangsaan (TWK).

Menurutnya, tes tersebut diikuti oleh 1.351 pegawai KPK untuk proses alih status kepegawaian menjadi aparatur sipil negara (ASN).

“Yang tidak memenuhi syarat 75 orang atau TMS, pegawai yang tidak hadir sebanyak 2 orang,” ucap Ghufron dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Rabu (5/5/2021).

Kasus korupsi di negeri ini sudah sangat akut, dari pejabat rendah (semisal setingkat pejabat desa) hingga paling tinggi tak ada yang tak tersangkut kasus korupsi. Hampir setiap daerah memiliki koruptor yang sebelumnya menjadi pejabat ataupun sedang menjabat. Seolah jabatan dan korupsi tak bisa dipisahkan.

Munculnya lembaga anti korupsi memang seperti angin segar. Rakyat banyak berharap dengan adanya lembaga anti korupsi (KPK) mampu membongkar, menyidak dan memenjarakan para maling uang negara yang telah banyak merugikan negeri ini. Namun faktanya kasus korupsi masih saja ada. Bahkan banyak kasus yang tak tuntas tertangani meski sudah selesai masa penyidikan.

Adanya undang-undang yang menyatakan agar pegawai KPK alih status menjadi ASN rupanya malah menimbulkan kontroversi. Apalagi dengan adanya tes Wawasan Kebangsaan.

Bagaimana tidak? Banyak peserta yang tak lolos tes tersebut, padahal peserta  telah lama berkecimpung di KPK, bahkan telah berjasa dalam mengungkap kasus korupsi. Misalnya Harun Al Rasyid, salah-satunya peserta yang tak lolos tes Wawasan Kebangsaan padahal ia telah berjasa menangkap Bupati Nganjuk, yang diduga korupsi suap-menyuap posisi lurah, camat, dan jabatan-jabatan lain.

Dikutip dari (https://news.detik.com/berita/d-5564329/harun-al-rasyid-pegawai-kpk-yang-tak-lolos-tes-asn-pimpin-ott-bupati-nganjuk, 10/5),

Di tengah terpaan kontroversi tentang tes wawasan kebangsaan, tim KPK tetap teguh bekerja. Operasi tangkap tangan (OTT) kembali digelar dengan menjaring seorang kepala daerah di Jawa Timur. Adalah Bupati Nganjuk, Novi Rahman Hidayat, yang dikabarkan terjaring dalam OTT itu.

Seperti dikutip detikcom, di internal KPK menyebutkan bila Novi diduga menerima suap terkait jual-beli jabatan di wilayahnya.

“Untuk camat Rp 100 juta, untuk staf hingga Rp 50 juta,” bisik seorang sumber detikcom, Senin (10/5/2021).

Entah apa standar kelulusan tes Wawasan Kebangsaan hingga banyak yang tak lolos tes tersebut. Kemudian, siapakah pembuat tes tersebut?

Mungkinkah orang-orang tersebut sangat paham dan menguasai Wawasan Kebangsaan atau benar-benar mampu tercermin dalam kehidupannya sehari-hari? Hal ini jelas membuat rakyat diliputi ribuan pertanyaan dan semakin penasaran dengan sosok para penguji tes “kontroversi” itu.

Tes Wawasan Kebangsaan selain menuai kontroversi karena banyak yang tak lolos, namun juga menimbulkan “keanehan” atau “kelucuan”

Tes seleksi pegawai Lembaga Anti Korupsi malah bersandar pada pandangan keagamaan yang diklaim radikal. Semisal terkait doa Qunut, sikap terhadap LGBT, bagaimana pandangan tentang istri kedua (bagi peserta tes perempuan), apa saja yang dilakukan saat pacaran dan sebagainya.

Sementara itu, sejumlah pegawai KPK mengungkapkan keanehan dalam TWK, salah satunya adalah pertanyaan yang tidak sesuai dengan kepentingan kebangsaan.

Misalnya, pertanyaan terkait doa Qunut atau sikap terhadap LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender). “Iya ada yang ditanyakan, ada juga LGBT, itu benar,” kata salah seorang sumber Kompas.com, Rabu (5/5/2021).

Munculnya pertanyaan-pertanyaan saat tes Wawasan Kebangsaan yang secara logika tak ada hubungannya dengan masalah korupsi benar-benar memprihatinkan.

Tak perlu berpikir keras. Orang awam pun mampu menilai bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya tak layak diajukan karena memang tak berhubungan dengan lembaga anti korupsi ataupun hal-hal yang berpengaruh terhadap korupsi.

Aneh tapi nyata, pertanyaan-pertanyaan Tes Wawasan Kebangsaan dikaitkan dengan karakter radikal. Karakter radikal memang sering disematkan pada sosok-sosok yang rajin ibadah, memiliki pemahaman Islam yang lurus (misalnya anti LGBT, pro poligami dan sebagainya).

Ketidakmampuan membaca doa Qunut pun dianggap tak layak menjadi ASN. Padahal ajaran Islam tak mewajibkan semua muslim hafal doa Qunut. Hal ini semakin memperjelas betapa ajaran Islam yang dijadikan sesuatu yang membingungkan.

Beberapa tahun terakhir ini isu radikal memang laku keras hampir di seluruh bidang termasuk saat tes CPNS atau ASN. Siapa saja calon atau ASN yang terdeteksi terpengaruh, penganut ataupun simpatisan ajaran radikalisme, akan dipersekusi hingga pencopotan jabatan.

Jadi tak mengherankan kini Tes Wawasan Kebangsaan pegawai KPK calon ASN menemui pernyataan-pertanyaan yang berkaitan dengan ajaran Islam yang dinilai radikal.

Sosok muslim yang taat pada ajaran agamanya pastinya akan melakukan yang terbaik dalam setiap aktivitas. Karena aktivitas seorang muslim semuanya bernilai ibadah (baik ibadah antara dirinya dengan Allah, dirinya dengan sesama manusia dan dengan dirinya sendiri) yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT di akhirat.

Konsistensi dalam melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi laranganNya selayaknya dilakukan oleh setiap muslim.

Hal inilah yang menjadikan kaum muslim produktif. Selalu merasa diawasi dan dilihat Allah SWT dalam setiap aktivitas. Sehingga menjadikannya melakukan apapun yang terbaik dan takut melakukan kemaksiatan.

Sayangnya sosok yang berkarakter takwa (memiliki pemikiran Islam yang lurus) seringkali dikaitkan dengan radikalisme atau mendapatkan lebel radikal yang tak jarang dihubungkan dengan kekerasan dan terorisme.

Sudah saatnya rakyat berpikir cerdas. Mampu membedakan antara yang terpuji dan tercela yang pasti dalam standar Islam. Apalagi munculnya tes Wawasan Kebangsaan yang penuh kontroversi dihubungkan dengan radikalisme. Hal ini termasuk upaya mengaburkan ajaran Islam.[]

_____

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen − twelve =

Rekomendasi Berita