by

Sri Dewi, M.E*: Kuliah Daring UKT Harusnya Miring

-Opini-44 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – jumlah warganet menyerukan bahwa mahasiswa sedang mencari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim sebagai aksi protes karena kampus mereka menaikkan harga pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) di tengah pandemi virus corona SARS-Cov-2 (Covid-19).Tagar #MendikbudDicariMahasiswa pun menjadi topik populer di Twitter. (CNN Indonesia, 02/06/2020).

Meski Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memastikan tak akan menaikkan uang kuliah tunggal (UKT) di tengah pandemi virus corona ini merespons sejumlah protes mahasiswa terkait isu kenaikan UKT di tengah pandemi corona. (CNN Indonesia, 03/06/2020).

Kuliah Daring ini diharapkan biaya kuliah diringankan karena selama klip

P s kebijakan belajar dari rumah, mahasiswa tidak menggunakan fasilitas kampus, bahkan justru harus banyak mengorbankan keluarnya dana tambahan untuk membeli kuota.

Lalu bagaimana sebenarnya Islam memberikan solusi pendidikan bagi rakyatnya. Kita harus kembali kepada paradigma yang sebenarnya pemimpin itu siapa dan harusnya bagaimana mengurusi rakyatnya. Pemimpin memiliki kewajiban dan peran yang besar dalam mengurusi rakyatnya dalam hal khususnya pendidikan.

Negara dalam hal ini harus memberikan perhatian pada pendidikan bukan hanya pada persoalan yang berkaitan dengan kurikulum, akreditasi sekolah/PT, metode pengajaran, dan bahan-bahan ajarnya, tetapi juga mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah dan murah.

Rasulullah saw. bersabda: “Seorang imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan sirah Nabi saw. dan tarikh Daulah Khilafah Islam (Al-Baghdadi, 1996), negara memberikan jaminan pendidikan secara gratis dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga negara untuk melanjutkan pendidikan ke tahapan yang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) yang disediakan negara.

Contoh praktisnya adalah Madrasah al-Muntashiriah yang didirikan Khalifah al-Muntahsir Billah di kota Baghdad. Di sekolah ini, setiap siswa menerima beasiswa berupa emas seharga satu dinar (4,25 gram emas).

Kehidupan keseharian mereka dijamin sepenuhnya oleh negara. Fasilitas sekolah disediakan seperti perpustakaan beserta isinya, rumah sakit, dan pemandian.

Hanya saja untuk menggratiskan dan memberikan fasilitas serta kwalitas terbaik buat rakyat membutuhkan biaya yang besar. Karena itulah pemasukan Keuangan Negara dalam sistem Khilafah tidak hanya bertumpu pada Pajak dan hutang dari negara penjajah yang berbuah ribawi yang akan menyiksa perekonomian bangsa ini .

Pendidikan dalam sistem Khilafah Islamiyah memperoleh sumber pembiayaan sepenuhnya dari negara yaitu Baitul Mal. Dalam sejarah, pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, sumber pembiayaan untuk kemaslahatan umum (termasuk pendidikan), berasal dari jizyah, kharaj, dan usyur (Muhammad, 2002).

Terdapat 2 (dua) sumber pendapatan Baitul Mal yang dapat digunakan membiayai pendidikan, yaitu : (1) pos fai` dan kharaj –yang merupakan kepemilikan negara– seperti ghanimah, khumus(seperlima harta rampasan perang), jizyah, dan dharibah (pajak); (2) pos kepemilikan umum, seperti tambang minyak dan gas, hutan, laut, dan hima (milik umum yang penggunaannya telah dikhususkan).

Sedangkan pendapatan dari pos zakat, tidak dapat digunakan untuk pembiayaan pendidikan, karena zakat mempunyai peruntukannya sendiri, yaitu delapan ashnaf yang merupakan golongan mustahik zakat (QS 9 : 60). (Zallum, 1983; An-Nabhani, 1990).

Jika dua sumber pendapatan itu ternyata tidak mencukupi, dan dikhawatirkan akan timbul efek negatif (dharar) jika terjadi penundaan pembiayaannya, maka negara wajib mencukupinya dengan segera dengan cara berhutang (qardh). Hutang ini kemudian dilunasi oleh negara dengan dana dari dharibah (pajak) yang dipungut dari kaum muslimin (Al-Maliki,1963).

Mekanisme pendidikan ini sudah berjalan selama lebih kurang 1300 tahun yang sudah mampu menyediakan pemenuhan kebutuhan pendidikan yang berkualitas bagi semua rakyatnya secara gratis, bebas biaya di semua level jenjang pendidikannya.

Sehingga ilmu berkembang pesat, bahkan beberapa sejarawan menjuluki pendidikan khilafah bak matahari menyinari bumi karena dengan pendidikan islam akan membawa cahaya keberkahan dan para ilmuwan yang luar biasa berguna bagi negara dan agamanya.[]

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − 5 =

Rekomendasi Berita