by

Sri Ummu Sakha* : Hutang Melilit Rakyat Menjerit

-Opini-29 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Pekikan para anti Neoliberalisme dianggap nyanyian lama bak kaset kusut. Siapa peduli dengan suara kresek-kresek yang membuat telinga gatal

Agen Neolib selalu datang pada saat rakyat diselimuti persoalan dan kegelapan dengan wajah bak malaikat. Mereka meberi makan, pekerjaan dan modal. Rakyat serta merta dan begitu mudah terpana terngang hingga lupa mengelap air liur.

Kerinduan rakyat agar Indonesia menjadi negeri  berdaulat dan bermartabat tanpa bergantung kepada asing itu ibarat jauh panggang dari api.

Indonesia berada pada posisi ke-6 dengan total utang USD 402,08 miliar atau sekitar Rp 5.907 triliun (kurs Rp 14.693 per USD) di 2019 yang meliputi utang jangka panjang USD 354,5 miliar.

Adapun utang Indonesia kembali naik di 2020. Bank Indonesia (BI) melaporkan hingga Agustus 2020 Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia meningkat menjadi USD 413,4 miliar atau sekitar Rp6.074 triliun.
https://m.liputan6.com/bisnis/read/4387463/headline-utang-indonesia-termasuk-yang-terbesar-di-dunia-masih-aman-dan-wajar

Sudah bertahun-tahun negeri ini bergantung pada Hutang Luar Negeri” untuk pendanaan insfratruktur, penanganan bencana, kesehatan dan lainnya. Negeri ini tak jua bangkit – rakyat jungkir balik dan pontang-panting demi mencukupi beban hidup yang semakin berat.

Tak sedikit masyarakat resah memikirkan nasib keluarga dan generasi yang akan datang. Jika hutang negara semakin meningkat semua kekayaan alam bahkan negeri ini bisa saja menjadi tumbal sebuah keserakahan para pemuas nafsu.

Hingga kinipun perusahaan perminyakan dan pertambangan asing yang tergabung dalam TNCs masih terus mengeklporasi kekayaan bumi Indonesia termasuk Blok Natuna D-Alpha yang pernah dikelola Exxon Mobil.

Setelah puas menghisap sampai kerontang lalu angkat koper meninggalkan kerusakan lingkungan dan rakyat tetap hidup dalam lingkaran miskinan

Neoliberalisme itu setali tiga uang (tidak beda) dengan neokolonialisme yang bertujuan mencengkeram dunia dengan modus penjajahan ekonomi gaya baru yang lebih laten dan multidimensi.

Kebijakan-kebijakan yang didorong oleh kaum neolib secara umum meliputi kebijakan penghapusan subsidi, deregulasi, privatisasi, liberalisasi sektor keuangan, perdagangan bebas, gerakan modal bebas dan investasi bebas.

Promotor neolib juga menawarkan apa yang disebut dengan Structural Adjusment Program (SAP) yaitu berbagai bentuk ‘bantuan’ pemikiran dan konsep regulasi.

Dengan Washington Consensus para pembela ekonomi privat terutama wakil perusahaan-perusahaan besar multinasional telah ‘menjebak’ berbagai negara berkembang termasuk Indonesia melalui instrumen Bank Dunia (World Bank), International Monetary Fund (IMF), World Trade Organization (WTO), Asian Development Bank (ADB) dan Transnational Companies (TNCs). Lembaga keuangan yang terakhir dan paling pgrresif adalah dari negeri tirai Bambu.

Sebagai catatan, Indonesia adalah negara terkaya dengan Gross Domestic Product (GDP) nomor 15 di dunia yang tergabung dalam G20 (kelompok negara yang menguasai 81 % kekayaan dunia), namun rata-rata penghasilan perorang (perkapita) 2011 justru tercampak jauh ke urutan 108 ($3,700), berada di antara negara miskin dan primitif di Afrika, Congo dan negara penuh konflik bersenjata, Irak.

Sistem ekonomi kapitalis adalah penyebab kesengsaraan dan penderitaan rakyat yang semakin bertambah.

Sudah cukup. Berhutang sebesar apapun dengan alasan menopang ekonomi rakyat, ekstensifikasi lapangan kerja, bantuan ini dan itu sejatinya bukan untuk kepentingan rakyat tetapi untuk kepentingan dan kesejahteraan para kapitalis. Rakyat tetap saja harus bekerja keras dan banting tulang agar dapur tetap ngebul.

Lantas mampukah negara menanggung kebutuhan masyarakat tanpa utang luar negeri dan terbebas dari segala bentuk tawaran yang menjanjikan syurga itu? Hutang dengan cara ribawi secara tegas dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

يا أيها الذين أمنوا اتقوا الله وذروا ما بقي من الربا إن كنتم مؤمنين فإن لم تفعلوا فأذنوا بحرب من الله ورسوله

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba),maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasulnya akan memerangimu.”( QS Albaqarah:278-279)

Hutang kepada asing dengan cara ribawi akan membawa petaka dan menjadi sumber kehancuran bangsa. Dengan demikian islam tidak menganjurkan utang luar negeri kecuali dalam keadaan genting yang mengancam kesejahteraan rakyat banyak. Meski demikian, tetap dengan syarat bebas bunga atau riba.

Sistem ekonomi Islam menawarkan solusi kongkrit terhadap berbagai persoalan yang mendera negeri ini.

Negara dalam konsep Islam memiliki sumber pemasukan yang dinamakan baitul maal dengan tiga pos utama. Pertama, bagian Fai dan Kharaj. Fai adalah harta yang diperoleh dari rampasan perang, sedangkan Kharaj adalah retribusi atas tanah atau hasil produksi tanah wilayah yang telah ditaklukan oleh kaum muslimin.

Kedua, bagian kepemilikan umum yaitu segala sesuatu yang vital bagi masyarakat, secara alami tidak bisa dimiliki dan dimanfaatkan oleh individu. Termasuk dalam hal ini adalah barang tambang yang depositnya tidak terbatas dan sumber daya alam yang dikuasai negara.

Ketiga, bagian sadaqah yaitu pemasukan dari berbagai pos zakat yang telah disyariatkan, baik zakat maal dan perdagangan, zakat pertanian dan buah-buahan serta berbagai zakat ternak.

Dari sumber-sumber utama pemasukan baitul maal ini, negara mampu mencukupi berbagai kebutuhan operasional negara (APBN) termasuk berbagai kebutuhan rakyat,  infrastruktur, pendidikan, keamanan dan kesehatan.

Kholifah (kepala negara) menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya dalam pengelolaan harta yang semata diberikan untuk kemaslahatan rakyat. Karena amanah kepemimpinan akan diminta pertanggung jawaban di akhirat kelak.

Menyelamatkan kesehatan dan nyawa rakyat lebih utama bagi negara dibandingkan penyelamatan ekonomi. Karena negara selalu menjaga kestabilan ekonomi yang dikelola dengan sistem ekonomi sesuai syariat agar menjadi bangsa mandiri dan terhormat yang diridhai Allah subhanahu wa ta’ala.Wallahu ‘alam bisshawab.[]

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × four =

Rekomendasi Berita