Strategi Pemberdayaan Perempuan dalam Ranah Domestik dan Publik

Opini233 Views

 

Septa Anitawati, S.I.P. | Alumnus Fisipol UGM

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Pemerintah Indonesia melalui kolaborasi Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dengan dukungan Pemerintah Australia melalui Program SIAP SIAGA menyelenggarakan Dialog Nasional dan Lokakarya di Balai Kota DKI Jakarta.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Perempuan Internasional 2026 dan menyambut Hari Kartini, yang bertujuan untuk menegaskan kembali pentingnya kepemimpinan perempuan dalam memperkuat kemandirian dan resiliensi bangsa.

Kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendorong kepemimpinan perempuan sebagai fondasi penting dalam membangun ketangguhan masyarakat dan bangsa di tengah berbagai tantangan global, mulai dari bencana alam, perubahan iklim, hingga tekanan sosial ekonomi. Dilansir oleh kemenpppa.go.id 08/04/2026

Analisis Problematis

Jika dicari akar masalah munculnya problematika, setidaknya ada tiga hal penting dalam pemberdayaan perempuan.

Pertama, ketangguhan perempuan dalam kondisi bencana adalah adaptasi alami dalam mempertahankan hidupnya. Realitas ini tidak bisa disalah-tafsirkan sedemikian rupa sehingga perempuan diberdayakan untuk mengatasi kondisi yang sulit.

Misalnya pada kondisi bencana. Bahkan dijadikan sebagai dasar kebijakan pemberdayaan perempuan. Kondisi perempuan sebagai korban justru diposisikan sebagai subyek untuk menanggulangi bencana atas nama ketangguhan.

Kedua, bencana adalah akibat kerusakan alam karena salah kelola dalam pembangunan ekonomi kapitalis. Memberdayakan perempuan dengan melibatkan secara aktif dalam membangun ketangguhan keluarga dan masyarakatnya adalah bentuk pemahaman yang tidak proporsional.

Ketiga, arah pemberdayaan perempuan sekuler berpijak pada prinsip good governance dan kesetaraan gender. Dengan konsep ini, posisi perempuan akan selalu tereksploitasi. Harusnya perempuan adalah pihak yang menerima pelayanan dari pemerintah dalam kondisi apa pun termasuk bencana.

Solusi Konstruktif dan Komprehensif

Strategi pemberdayaan perempuan dalam Islam, berbeda dengan sekulerisme-kapitalistik. Setidaknya ada dua hal penting secara konstruktif komprehensif.

Pertama, Islam memuliakan perempuan dengan prinsip pemerintah sebagai rain (pengatur, pelayan) dan junnah (pelindung) serta prinsip perlindungan pada kehormatan perempuan.

Kedua, arah kebijakan Islam dalam penanganan bencana berdasarkan konsepsi kedaruratan. Persoalan yang harus segera diatasi dan menjaga kemuliaan perempuan di tempat bencana. Arah kebijakan ini akan menjadi panduan bagi struktur negara yang bekerja di dalam kondisi bencana.

Strategi Pemberdayaan Perempuan dalam Politik Domestik dan Publik

Strategi pemberdayaan perempuan dalam politik domestik maupun publik. Tentu berdasarkan pada syariat yang memuliakan perempuan.

Pertama, dalam politik domestik. Perempuan berkontribusi sebagai ibu generasi yang mendidik generasi. Sehingga ke depan menjadi generasi khoiru ummah pemegang tongkat estafet kepemimpinan berikutnya.

Selain sebagai Ibu generasi, perempuan juga berkiprah sebagai Ibu dan menejer rumah tangga. Tanggung jawab mulia yang diberikan Allah Swt. kepada para perempuan. Menjadikan rumah sebagai surga bagi para penghuninya, yakni keluarga. Memiliki konsep baiti jannati – rumahku sorgaku. Penuh keberkahan, sakinah mawaddah wa rahmah.

Kedua, di sektor publik. Pemberdayaan perempuan meliputi ranah kemaslahatan umat dan ranah dakwah.
Perempuan hidup berdampingan dengan lelaki di tengah-tengah masyarakat. Bersama membangun peradaban.

Pada ranah kemaslahatan umat, perempuan berkontribusi dalam sektor publik. Misalnya sebagai dokter, guru, pengusaha, jurnalis, dan lainnya. Sebagaimana pada masa Rasulullah SAW dan para khalifah sesudahnya.

Khadijah RA seorang pengusaha, Aisyah RA ahli hadits yang menjadi rujukan para shahabiyah. Zubaidah RA yang mendesign sekaligus menjadi supervisor pembangunan yang memudahkan ibadah haji dan umroh. Baik perjalanan maupun akomodasi. Masih banyak lagi yang lainnya termasuk Fatimah RA pendiri perguruan tinggi pertama kali dalam sejarah.

Sedangkan pada ranah dakwah. Perempuan menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar untuk menegakkan keadilan dan memahamkan Islam serta mencerdaskan masyarakat.

Sungguh indah dan nikmat berada dalam sistem IsIam. Sistem yang memuliakan perempuan dan mewujudkan kedamaian. Dari sisi jinsiah masing-masing berperan sesuai perintah Allah Swt. Baik lelaki maupun perempuan dengan peran yang sesuai fitrah. Sementara dari sisi insaniah, perempuan bersama lelaki membangun peradaban di tengah masyarakat.

Semoga politik domestik dan publik dalam naungan IsIam segera terwujud dalam bingkai institusi politik global ala minhajin nubuwwah. Wallahu a’lam bishawab.[]

Comment