by

Sudahkah Kita Meraih Taqwa Pasca Ramadhan?

 

 

Olehh: Yuliana Suprianti, Anggota Lingkar Studi Muslimah Bali

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Ibadah puasa memiliki hikmah dan tujuan sebagaimana yang Allah SWT sebutkan di dalam QS Al Baqarah:183.

“Hai orang-orang beriman diwajibkan atas kamu untuk berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa”. Taqwa memiliki ragam makna yang tak cukup dihidupkan di bulan tertentu, ibadah tertentu, atau momen tertentu saja. Jika di bulan Ramadhan lalu kita sangat berhati-hati dalam beramal -tidak hanya menjauhi perkara haram, tetapi juga menghindari perkara makruh- maka pasca puasa kitapun memiliki kewajiban yang sama untuk menjauhi segala apa yang Allah swt haramkan.

Mestinya orang yang berhasil dalam puasa Ramadhan akan mempunyai energi baru untuk semakin lebih baik lagi.

Karena yang dihasilkan oleh puasa adalah taqwa. Banyak definisi taqwa yang sudah disebutkan oleh para ulama’.
1. Al khawuf min al jalil (Rasa Takut yang besar tehadap kemahakuasaan Allah).

2. Al-’amal bi at-tanzil (melaksanakan ketentuan hukum yang tertera dalam wahyu Allah).

3. Al isti’dad li ar-rahil (persiapan menghadapi timbangan amal pada hari akhir).

Dengan pemahaman terhadap definisi taqwa tersebut kita semakin sadar bahwa ketaqwaan kita belumlah secara kaaffah (menyeluruh) dalam seluruh aspek kehidupan. Kita masih melihat praktik kehidupan yang semakin jauh dari islam. Baik dari segi ekonomi yang masih kapitalistik, politik yang opportunistik, kehidupan sosial yang semakin hedonistik, pendidikan yang masih materialistik, bahkan persoalan aqidah dan syari’ah yang semakin dangkal dan didangkalkan Oleh kalangan yang disebut islamopobia.

Hal ini semakin menambah persoalan umat yang saat ini tengah dijauhkan dari islam.

Bagaimana mungkin predikat taqwa ini bisa kita raih di saat bersamaan kita malah dibuat takut dengan agama kita? dibuat phobia akibat lebel intoleran, eksklusif dalam beragama, radikal, ekstrimis, bahkan teroris yang selalu didengungkan secara sistematis di berbagai lini dan lapisan masyarakat.

Bagaimana mungkin kita bisa semakin bertaqwa pascapuasa sementara banyak  kebijakan yang tidak berlandaskan kepada aturan Allah swt.

Ini semakin mempertegas bahwa untuk bisa menjadi seorang muslim yang bertaqwa kita butuh 3 hal; pertama, dorongan individu. Kedua, masyarakat yang bersandar pada aturan Allah SWT, dan ketiga, negara yang menerapkan apa yang telah dicontohkan para Nabi dalam mengambil kebijakan.

Inilah model kehidupan yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para Khalifah setelahnya selama 1300 tahun. Bahwa ketaqwaan tidak hanya dibangun di tataran individu muslim, tetapi membangun ketaqwaan secara kolektif.

Maka, mari kita jadikan puasa Ramadahan yang telah kita lalui sebagai batu loncatan untuk memperjuangkan, dan mewujudkan hadirnya sistem kehidupan islam yang syumul dan universal.

Karena hanya dengannya kita bisa menjadi seorang muslim yang bertaqwa dalam seluruh aspek perbuatan kita, sebagaimana hikmah dan tujuan ibadah puasa Ramadhan yang telah Allah SWT perintahkan. Wallahua’lam.[]

Comment

Rekomendasi Berita