Penulis: Vie Dihardjo | Alumnus Hubungan Internasional
“Perumpamaan orang-orang Muslim dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari & Muslim)
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Hadits ini terasa kontras dengan euforia Idul Fitri saat ini. Di tengah gema takbir dan kebahagiaan umat Islam di berbagai penjuru dunia, Gaza justru masih merintih di bawah penjajahan Zionis Israel.
Selama Ramadan, serangan ke Jalur Gaza tidak berhenti. Israel bahkan melanggar gencatan senjata yang telah disepakati. Mengutip Al Jazeera, serangan di Kamp Jabalia, Gaza Utara, menewaskan warga sipil. Secara keseluruhan, sejak 7 Oktober 2023 hingga Januari 2026, korban jiwa mencapai puluhan ribu—didominasi perempuan dan anak-anak—dengan ratusan ribu lainnya mengalami luka-luka.
Kekejaman itu tidak hanya berupa serangan militer. Akses ibadah pun dibatasi. Masjid Al-Aqsa ditutup selama Ramadan hingga Idul Fitri, dan warga Palestina diusir saat hendak beribadah. Kondisi ini menjadi salah satu yang paling kelam, bahkan jika dibandingkan dengan periode konflik sebelumnya sejak Perang Enam Hari 1967.
Nestapa Gaza bukanlah peristiwa sesaat, melainkan bagian dari penjajahan panjang yang belum berakhir. Ironisnya, ketika perhatian global bergeser pada konflik lain—seperti ketegangan Iran dan Israel—fokus umat Islam terhadap Gaza pun seolah ikut memudar. Umat terseret dalam pusaran isu global yang kerap mengaburkan akar persoalan utama.
Bahkan dalam dinamika geopolitik terbaru, keterlibatan sejumlah negara dalam forum internasional yang juga melibatkan pihak yang terkait konflik, tidak serta-merta meredakan agresi di Gaza. Fakta ini menunjukkan bahwa jalur diplomasi global belum mampu menghentikan penderitaan rakyat Palestina.
Perisai Umat yang Hilang
Kondisi Gaza yang kian memburuk tidak bisa dilepaskan dari hilangnya “perisai umat”. Perisai ini bukan semata kekuatan militer, melainkan kepemimpinan yang mampu melindungi dan menyatukan umat Islam.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya imam (pemimpin) adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya…” (HR. Muslim).
Realitas hari ini menunjukkan umat Islam terpecah dalam batas-batas negara bangsa, masing-masing dengan kepentingan nasionalnya.
Ketiadaan kepemimpinan yang menyatukan membuat respons terhadap kezaliman menjadi lemah dan tidak terkoordinasi.
Akibatnya, negeri-negeri Muslim rentan terhadap tekanan global dan sering kali hanya menjadi objek dalam percaturan politik dunia. Dalam konteks Gaza, luka yang seharusnya menjadi luka bersama justru tereduksi oleh kepentingan masing-masing negara.
Lebih jauh, ketergantungan pada kekuatan global—baik dalam ekonomi, politik, maupun pertahanan—membuat sebagian negeri Muslim terseret dalam aliansi yang tidak sepenuhnya berpihak pada kepentingan umat.
Kondisi ini diperparah oleh dominasi cara pandang sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Ketika materi menjadi tujuan utama, perang dan penjajahan kerap dipandang sebagai peluang ekonomi. Korban manusia direduksi menjadi sekadar angka statistik.
Gagasan pembangunan Gaza sebagai kawasan ekonomi atau pariwisata, misalnya, memunculkan pertanyaan mendasar: untuk siapa keuntungan itu? Jangan sampai justru memperkuat dominasi pihak luar atas tanah yang seharusnya merdeka.
Islam Tegas: Palestina Harus Dibebaskan
Gaza bukan sekadar konflik lokal, melainkan luka kolektif umat Islam. Ia menjadi pengingat bahwa setiap negeri Muslim berpotensi mengalami hal serupa jika tidak ada kekuatan yang melindungi secara bersama.
Allah SWT berfirman: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…” (QS. Al-Fath: 29).
Di ayat lain Allah juga berfirman: “Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang tertindas, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak…” (QS. An-Nisa: 75).
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa membela yang tertindas adalah kewajiban. Namun, pembelaan itu akan lebih efektif jika ditopang oleh kekuatan nyata yang mampu menyatukan dan menggerakkan potensi umat.
Sejarah telah memberikan teladan. Pada masa Umar bin Khattab ra, pembebasan Palestina dilakukan dengan mobilisasi kekuatan internal umat Islam dari berbagai wilayah. Demikian pula Shalahuddin Al-Ayyubi yang berhasil membebaskan Palestina dengan menyatukan kekuatan dari Mesir, Syam, hingga wilayah Irak dan Kurdi.
Pelajaran penting dari sejarah tersebut adalah bahwa persatuan umat merupakan syarat utama untuk mengakhiri penjajahan. Persatuan itu membutuhkan kepemimpinan yang mampu melindungi, mengarahkan, dan memperjuangkan kepentingan umat secara kolektif.
Di tengah gema takbir Idul Fitri, pertanyaan reflektif pun mengemuka: sejauh mana rasa persaudaraan itu benar-benar hidup dalam diri umat?
Jika Gaza adalah bagian dari tubuh umat, maka sudah seharusnya rasa sakit itu dirasakan bersama—bukan hanya sebagai empati, tetapi sebagai dorongan untuk bertindak nyata. Wallahu a’lam bish-shawab.[]











Comment