by

Tia Damayanti, M. Pd*: Mendamba Pemimpin yang Memiliki “Sense of Crisis”

-Opini-52 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kesal, itu mungkin yang dirasakan Presiden Jokowi. Ekspresi itu terlihat dari mimik wajah dan intonasi suara saat menghadiri Rapat Sidang Kabinet di Istana Kepresidenan (18/6).

Luapan kemarahan tersebut memberikan sinyalemen keras bagi seluruh anggota kabinet agar lebih serius dalam mengatasi situasi pandemi saat ini.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta para menteri membuat kebijakan luar biasa (extraordinary) untuk menangani krisis akibat pandemi Covid-19. Jika para menteri membuat kebijakan biasa saja seperti kondisi normal, maka Jokowi mengancam akan merombak kabinet (reshuffle).

Kinerja sejumlah sektor mendapat sorotan. Saat berpidato membuka sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, 18 Juni lalu, Jokowi mengungkapkan kekecewaannya terhadap kinerja sejumlah bawahannya.

“Saya harus ngomong apa adanya, tidak ada progres signifikan (dalam penanganan krisis akibat Covid-19). Tidak ada,” kata Jokowi dalam video sidang kabinet tersebut yang baru diunggah Sekretariat Presiden di akun Youtube resminya, Minggu (28/6). https://katadata.co.id/berita/2020/06/28/jokowi-ancam-reshuffle-kabinet-kinerja-beberapa-sektor-disorot

Tidak pelak, pandemi memang memukul seluruh sektor kehidupan kita. Bermula dari aspek kesehatan, hempasan dampaknya melebar kepada soal ekonomi, sosial hingga urusan politik domestik maupun internasional. Ditambah lagi pandemi juga berdampak pada, hilangnya bisnis, hilangnya pekerjaan, resesi ekonomi.

Bahkan sampai menimbulkan kepanikan, ketakutan, ketidaknyamanan dan rasa tidak aman warganegara.

Pada situasi ini kepemimpinan yang cekatan dan tangguh sangat dibutuhkan. Para penguasa sebagai pemegang kebijakan diharapkan cepat untuk menanganinya dengan mengambil langkah-langkah yang tepat.

Hal ini pula yang mungkin menjadi dasar bagi pelibatan faktor emosi Presiden dalam pidato pembukanya tersebut.

Dalam video yang beredar di media sosial berdurasi sekitar 10.20 menit itu, Presiden berbicara tentang sense of crisis.

Pilihan diksi ini menjadi menarik bila dikaitkan dengan kinerja para anggota kabinet pemerintahan yang masih sangat lambat dalam merespon perubahan yang terjadi. Seolah terungkap bahwa situasi yang luar biasa akibat pandemi hanya ditanggapi biasa-biasa saja.

Presiden menyebutkan belanja kesehatan yang sudah dianggarkan sekitar Rp 75 triliun ternyata baru cair sebesar 1,53 persen.

Dikutip dari BBC.com, pakar kebijakan publik Universitas Indonesia, Lina Miftahul Jannah, menilai kementerian mengalami kegagapan saat mendapat anggaran khusus Covid-19.

Sungguh miris, di tengah krisis sektor pendidikan karena banyaknya pasien yang butuh penanganan terinfeksi virus, tenaga kesehatan kelelahan dan APD pun langka, namun tidak disupport dengan dana yang memadai.

Sense of Crisis merupakan suatu kepekaan terhadap sebuah suasana, situasi dan kondisi yang sedang dihadapi oleh seseorang, kelompok dan masyarakat, termasuk juga pemerintah dan negara. Sense of crisis terkait dengan dua hal penting.

Pertama, kepekaan untuk mendengar apa yang menjadi keresahan dan permasalahan publik. Kedua, kewaspadaan dalam mempersiapkan pilihan strategi terbaik yang akan dijadikan sebagai solusi atas persoalan krisis yang dihadapi.

Pemerintah kita sebenarnya sangat mengetahui, bagaimana ancaman pandemi Covid-19 tersebut, bahkan punya waktu yang cukup dan pastinya punya langkah antisipatif dalam menghadapinya.

Namun, karena minimnya Sense of Crisis sehingga mereka seakan menganggap remeh dan abai dalam menganalisis prediksi masuknya pandemi Covid-19 ke Indonesia.

Tentu kita masih ingat beberapa ungkapan para pejabat negeri ini beberapa waktu lalu. Mulai dari yang menyatakan bahwa Indonesia satu-satunya negara besar di Asia yang bebas corona.

Ada lagi yang menyatakan bahwa orang terjangkit corona bisa sembuh dengan sendirinya, bisa juga sembuh dengan minum jamu. Bahkan ada yang menyatakan orang Indonesia kebal corona karena terbiasa makan nasi kucing.

Saat dunia melakukan berbagai upaya termasuk kebijakan lockdown, pemerintah justru membuka pintu lebar-lebar untuk para wisatawan dan TKA masuk ke Indonesia. Dengan alasan kepentingan rakyat, pemerintah tidak memberlakukan kebijakan lockdown, karena dianggap akan membawa banyak resiko. Ekonomi akan mandek. Dan ujung-ujungnya, rakyatlah yang akan menderita.

Belum lagi di sisi lain, tiba-tiba keberadaan masker dan sanitizer sebagai piranti tercepat untuk isolasi diri pun menjadi langka. Ketika diusut, ternyata sempat ditemukan bukti ekspor masker besar-besaran ke luar negeri, ke sesama negara terwabah corona.

Dalam kondisi genting ini, tiadakah setetes saja simpati kepada kami? Sampai-sampai rakyat jadi makin jengah hingga harus self-distancing secara mandiri.

Meski Presiden menyatakan akan mempertaruhkan seluruh reputasi politiknya, pandemi memang menjadi ajang pembuktian bagi kekuasaan untuk bekerja secara utuh bagi kepentingan publik dan tidak hanya menyoal aspek politik kekuasaan semata.

Kinerja dari tim kabinet sesungguhnya adalah representasi kerja Presiden, karena para menteri bertindak sebagai pembantu kepentingan kerja Presiden. Pembentukan kabinet adalah hak prerogatif Presiden, meski menempuh jalur kompromi dan akomodasi antara seluruh kekuatan politik, itulah wajah Presiden.

Seiring berjalannya waktu, lemahnya Sense of Crisis dari pemerintah akan berakibat pada hilangnya kemuliaan dan kewibawaan pemerintah dan menimbulkan stigma di tengah rakyat, bahwa para pemimpinnya sudah tidak lagi peduli atas nasib bangsanya.

Warganegara akan menganggap, para pemimpin yang harusnya dapat diandalkan tersebut ternyata lebih memilih kepentingan materi. Hal yang wajar terjadi, ketika sistem kapitalis sekuler mengatur negeri ini. Kebijakan diambil berdasarkan keuntungan para kapital atau pengusaha, yang tega menyengsarakan rakyatnya.

Sepertinya sudah saatnya, pandangan umat mengarah pada Islam. Sebagai sebuah agama yang memiliki aturan yang kaamilan wa syamilan (sempurna dan menyeluruh), Islam mampu menghadirkan sosok pemimpin yang kuat sense of crisis nya.

Kita merindukan sosok pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz yang begitu peka terhadap penderitaan rakyatnya. Beliau menangis di tengah malam, dikarenakan ada seekor keledai yang mati kelaparan di otoritas kekuasaannya. Yang beliau takuti bukan pertanyaan manusia, melainkan pertanggung jawaban di hadapan Allah sebagai sebuah pemaknaan bahwa jabatan adalah amanah.

Walau seekor keledai yang mati, seorang pemimpin menangis . Hari ini bukan seekor keledai yang mati, melainkan ribuan nyawa melayang dan banyak rakyat yang terdampak wabah.

Rasulullah saw. dan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., telah mencontohkan bagaimana kuatnya sense of crisis penguasa dan besarnya tanggung jawab atas segala persoalan yang mendera rakyat, termasuk dalam menghadapi wabah penyakit menular.

Pada masa Rasulullah saw. pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan. Untuk mengatasi wabah tersebut, upaya Rasulullah Saw. adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ini berarti metode karantina untuk mencegah wabah penyakit menular agar tidak menjalar ke wilayah lain, sudah diterapkan sejak jaman Rasulullah saw.

Beliau memperingatkan umatnya, agar tidak mendekati wilayah yang sedang terkena wabah dan melarang keluar dari tempat yang terkena wabah bagi mereka yang sedang berada di tempat wabah. Beliau bersabda:

“Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari).

Pada masa Kekhalifahan Umar bin al-Khaththab juga pernah terjadi wabah penyakit menular. Diriwayatkan:
Khalifah Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam.

Abdurrahman bin Auf kemudian mengabari Umar, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meningggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari).

Dalam buku The Great Leader of Umar bin Khathab, Kisah Kehidupan dan Kepemimpinan Khalifah kedua diceritakan, bahwa pada tahun 18 H orang-orang di Jazirah Arab tertimpa kelaparan hebat dan kemarau. Kelaparan kian menghebat hingga binatang-binatang buas mendatangi orang.

Binatang-binatang ternak mati kelaparan. Tahun itu disebut sebagai tahun kelabu. Angin saat itu menghembuskan debu seperti abu. Kemarau menghebat. Jarang ada makanan. Orang-orang pedalaman pergi ke perkotaan. Mereka mengadu dan meminta solusi dari Amirul Mukminin.

Langkah pertama yang menjadi teladan terbaik Umar ra. adalah dengan mencontohkan tidak bergaya hidup mewah.

Makan seadanya, bahkan kadarnya sama dengan rakyat yang paling miskin atau bahkan lebih rendah lagi. Kemudian beliau memerintahkan membuat posko-posko bantuan, mengajak umat semakin mendekatkan diri kepada Allah, meminta pertolongan pada Allah Swt. Pemilik alam seisinya dan memimpin taubat[an] nasuha. Karena bisa jadi bencana/krisis yang ada akibat kesalahan-kesalahan atau dosa yang telah dilakukan oleh Khalifah dan atau masyarakatnya agar bencana segera berlalu.

Sungguh luar biasa sikap sense of crisis yang telah dicontohkan para pemimpin Islam. Semua dilakukan berlandaskan atas akidah, bukan materi ataupun manfaat. Sosok seperti inilah yang semestinya menjadi panutan para pemimpin negeri ini.

Allah Swt. berfirman :
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. [al-A’râf/7:96].

*Pemerhati politik dan sosial

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × five =

Rekomendasi Berita