Tidak Cukup Wujudkan Ketahanan Kesehatan Dengan Vaksin TBC 

Opini1447 Views

 

Penulis: Sania Nabila Afifah !|
Komunitas Muslimah Rindu Jannah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Diketahui bahwa Indonesia termasuk peringkat ke dua penyakit TBC. Vaksin TBC menjadi sorotan setelah Indonesia terlibat dalam uji klinis fase 3 vaksin TBC M72 yang didania oleh Bill Gates. Uji klinis ini diikuti oleh lima negara termasuk Indonesia dengan jumlah 2.095.

Di Indonesia kegiatan ini dilaksanakan diberbagai institusi medis terkemuka termasuk RSUP Persahabatan, RS Islam Cempaka Putih Jakarta, RS Universitas Indonesia RSCII, UNPAD Bandung dan FUI.

Seluruh pelaksanaan uji klinis Vaksin M72 di Indonesia diawasi secara ketat oleh WHO, BPOM, Kementrian RI, serta pera ahli vaksin TBC nasional dan global. (Detik.com)

Upaya menanggulagi atau mempercepat memutus Epidemi TBC menurut Menkes Budi Gunadi Sadikin butuh dukungan politik dan kolaborasi global juga pendanaan secara global untuk vaksin TBC, baik pemerintah, swasta dan organisasi global berkolaborasi melawan TBC.

Jika dilihat secara pendanaan Indonesia termasuk berpendapatan menengah. Maka Presiden Prabowo dalam pertemuannya dengan Bill Gates menyetujui dan bekerjasama dalam uji klinis vaksin TBC M72. Disebutkan, sejak 2009 sudah lebih dari US$159 juta atau sekitar Rp 2,6 triliun dana yang digelontorkan Bill Gates ke Indonesia.

Memutus Rantai Penyakit TBC Tidak Cukup Dengan Vaksin

Penyakit TBC disebabkan oleh bakteri Tubercolocis, yang mana penyebarannya bisa lewat udara atau terjadi kontak langsung dengan pengidap TBC.

Maka pencegahan harus dilakukan dengan cara yakni menjaga kebersihan lingkungan, menjaga pola hidup sehat dengan makan-makanan yang sehat seperti, menu makanan empat sehat lima sempurna.

Menghindari pemicu penyakit batuk seperti merokok. Para pemangku kebijakan atau pemerintah dengan jajarannya, juga perlu memberikan edukasi kepada masyarakat secara luas dan terutama yang sangat awam terhadap bahayanya penyakit TBC, sebab pengetahuan tentang bahaya penyakit TBC yang ditimbulkan oleh bakteri sangat penting bagi masyarakat. Itulah bentuk pencegahan mendasar bagi masyarakat.

Jadi tidak cukup hanya dengan memberikan vaksin saja tanpa adanya pencegahan dan arahan dari pemerintah yang bersifat darurat. Agar benar-benar mewujudkan ketahanan kesehatan.

Masyarakat mungkin bisa sehat dengan tercukupinya makanan yang menyehatkan dengan menu empat sehat lima sempurna. Sebab badan yang sehat tidak akan mudah sakit.

Hal ini membutuhkan peran pemerintah bagaimana caranya agar masyarkat mampu membuat menu makan sehat. Salah satunya dengan menyediakan swasembada pangan dan juga pastinya harga pangan tidak terlalu mahal.

Menjadi Muslim Sehat dan Berdaulat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita agar senantiasa menjaga imunitas atau kekebalan tubuh kita dengan cara mengkonsumi kurma Ajwah.

مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ

“Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir” (HR. al-Bukhari & Muslim).

Begitu juga tuntunan Islam agar menjadi muslim yang kuat adalah lebih Allah cintai dari pada muslim yang lemah. Dari dalil di atas sebagai muslim harus bisa mengamalkan hadits tersebut. Bahwa mencegah dari penyakit sangat dianjurkan.

Dari sini pula harusnya sebagai muslim berupaya untuk membuat vaksin sendiri tanpa harus menggandeng lembaga milik orang kafir. Agar lebih aman, dan pastinya halal, tidak terbuat dari bahan-bahan yang membahayakan badan atau memunculkan efek samping yang membahayakan.

Vaksin harusnya pula diberikan secara cuma-cuma kepada masyarakat, karena kewajiban penguasa adalah pelayan bagi rakyatnya.

Sebagaimana Pada zaman keemasan Islam, Negara mendorong para ilmuwan untuk menciptakan terobosan baru terkait pengobatan.

Dikenal ilmuwan muslim yang bernama Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi. Orang Barat atau Eropa menyebutnya dengan panggilan Rhazes. Syaikh Abu Bakar ar-Razi hidup antara tahun 864 – 930. Ia lahir di Rayy, Teheran Iran pada tahun 251 H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925. Ar-Razi sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesastraan. Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq di Baghdad.

Muhammad bin Zakariya ar-Razi dalam kitabnya Al-Judari wa Al-Hasbah, yang artinya ‘Penyakit Cacar dan Campak’, menulis secara rinci soal penyakit cacar (Smallpox) dan campak (Measles). Satu jenis penyakit atau wabah menular, ganas dan mematikan.

Imam ar-Razi menyebutkan bahwa, “Cacar (smallpox) muncul ketika darah terinfeksi dan mendidih, yang menyebabkan pelepasan uap. Pelepasan uap inilah yang menyebabkan timbulnya gelembung-gelembung kecil berisi cairan darah yang matang.

Penyakit ini bisa menimpa siapa saja, baik pada masa kanak-kanak maupun dewasa. Hal terbaik yang bisa dilakukan pada tahap awal penyakit ini adalah menjauhinya. Jika tidak, maka akan terjadi wabah.

Hanya dengan peran negara, kedaulatan kesehatan yang baik dan benar sesuai tuntunan Islam akan terwujud. Wallahu ‘alam bisshowab.[]

Comment