by

Tidak Menerima Pandangan yang Salah, “Gak Open Minded!”

-Opini-21 views

 

 

Oleh: Yolanda Anjani, Aktivis

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Perkembangan zaman banyak mempengaruhi cara berpikir anak millennials yang digelari sebagai Agent of Change. Pemahaman yang didapat juga bertambah banyak, mengenai ilmu baru, wawasan yang semakin luas, ditambah juga dengan dukungan teknologi yang semakin pesat perkembangannya. Tak luput dari hal kemajuan, cara berpikir para anak milennials juga sudah banyak yang terkikis dengan pemikiran budaya barat.

LGBT (Lesbian Gay Bisexual Transgender) menjadi berita trend belakangan ini. Bukan hanya sekedar menjadi berita, tetapi banyak yang membahas untuk mengarahkan mana yang haq dan bathil atas berita ini. Sudah sangat jelas secara fitrahnya, bahwa laki-laki akan memiliki ketertarikan dengan perempuan, pun sebaliknya. Sebab Allah telah menetapkan dan menciptakan hamba-Nya berpasang-pasangan. Dan Allah melaknat orang-orang yang menyimpang dalam ketertarikan seksualnya, sebagaimana seperti kisah Nabi Luth as.

“Dan, segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).” (QS Adz-Dzariyat [51]: 49)

Selain LGBT, minuman yang haram juga sempat menjadi konsumsi khalayak publik. Banyak yang mulai mencoba meminum minuman keras dengan alasan “alkohol 1%” dan berpendapat minuman tersebut tidak akan memabukkan, dengan arti minuman itu tidak haram.

Ada juga per-FWB-an (Friends With Benefits), berteman tapi melakukan perzinahan yang sangat dilarang dan jauh dari syariat. Perzinahan tetaplah zinah, tidak ada pembatahan atas mau sama mau, atau saling suka tanpa ikatan halal secara syariat. Beberapa waktu lalu, pesan dari dr. Boyke menjadi sorotan khalayak sosial media. Beliau mengatakan, “Paling kita khawatirkan dengan pola hubungan seperti ini (FWB) akan terkena HIV-AIDS. Belum ada obatnya sampai sekarang dan rata-rata hidupnya paling lama 10 tahun.” (detik.com, 19/06/22)

Menurut dr Boyke melakukan seks tidak aman apalagi dengan berganti-ganti pasangan bisa menimbulkan berbagai risiko penyakit seperti: Herpes, Klamidia, Sipilis, HIV-AIDS.

Masih banyak lagi hal-hal yang hukumnya haram, tetapi mulai dipandang menjadi hal biasa dan masyarakat dipaksa untuk menerima keharaman tersebut. Mirisnya, orang-orang yang tidak menerima pandangan itu dan penentangnya akan dianggap tidak “Open Minded”. Tidak Open Minded berarti tidak berpikiran terbuka terhadap gagasan-gagasan baru yang ada.

Padahal seharusnya “Open Minded” adalah pemikiran di mana manusia dapat membedakan mana yang benar dan salah, tidak merasa pemahaman dan kemampuan diri adalah yang paling benar, memiliki pemikiran terbuka atas perbedaan. Jika tidak menerima pandangan orang lain, bahkan mengatakan orang lain tidak open minded, justru merekalah yang sebenarnya orang-orang yang tidak open minded.

Sistem yang masih menerapkan sekulerisme ini akan terus terbawa arus budaya barat jika tidak disegerakan dengan penerapan Islam. Perbuatan yang salah, hal yang berbeda dari yang lain sudah mulai diterima dimasyarakat. Bahkan dijadikan sebagai bahan trend dan mengikuti perkembangan zaman.

Islam akurat menjadi solusi. Karena segala peraturannya telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Yang salah akan dinyatakan salah, begitu pula dengan kebenaran maka tetaplah menjadi kebenaran. Tidak ada hukum yang timpang tindih, termasuk peraturan yang berlandaskan akal manusia.Wallahu’alam bishawab.[]

Comment