Tujuh Pelajaran dari Peristiwa 9/11

Opini34 Views

Penulis: Dr. Shamsi Ali, Lc, M.A | Direktur Jamaica Muslim Center New York, Presiden Nusantara Foundation

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Seperempat abad telah berlalu, tetapi 11 September 2001 masih melekat kuat dalam ingatan saya. Saya mengalaminya bukan sebagai berita yang saya saksikan dari kejauhan, melainkan sebagai seorang Muslim, imigran Indonesia, sekaligus warga New York yang pagi itu berada di dalam kereta R.

Sejak peristiwa yang menyakitkan dan memilukan itu, saya banyak merenung. Saya mencoba memahami apa yang terjadi, bagaimana peristiwa itu bisa terjadi, dan mengapa semua itu terjadi.

Pada akhirnya, saya sampai pada kesimpulan bahwa mengingat dan tidak melupakan tragedi tersebut memang penting. Namun, yang jauh lebih penting adalah mengambil pelajaran dan hikmah darinya.

Pelajaran itu semestinya menjadi bekal untuk menjalani kehidupan sekaligus membangun dunia yang lebih baik, hari ini maupun di masa depan.

Berikut tujuh pelajaran yang menurut saya penting untuk kita renungkan.

Pertama, kejahatan tidak mengenal agama, tetapi setiap perbuatan tetap membawa konsekuensi.

Para pembajak pesawat mengatasnamakan Islam. Namun, mereka tidak pernah mewakili umat Islam, Rasulullah SAW, maupun Al-Qur’an.

Ironisnya, setelah tragedi tersebut, setiap Muslim di Amerika seolah-olah menjadi juru bicara Islam secara tidak langsung.

Pelajaran yang saya peroleh adalah bahwa kita tidak boleh pasif dalam menunjukkan nilai-nilai agama. Jika kita tidak memperkenalkan Islam melalui akhlak, pelayanan kepada sesama, kejujuran, dan kebaikan, orang lain akan dengan mudah membentuk persepsi tentang Islam berdasarkan tindakan orang-orang yang melakukan kejahatan atas nama agama.

Kedua, qalu salama bukan sekadar ayat dalam Al-Qur’an, tetapi juga strategi untuk menghadapi kebencian.

Allah SWT berfirman: “Wa idza khathabahumul jahiluna qalu salama.”

“Dan apabila orang-orang yang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang kasar, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63).

Pada jam-jam pertama setelah serangan, seorang pengemudi yang memberikan tumpangan kepada saya dari Manhattan menuju Queens melontarkan kemarahan dengan mengatakan, “Muslim gila,” tanpa mengetahui bahwa saya seorang Muslim.

Di jalan-jalan, sejumlah perempuan Muslim yang mengenakan hijab mengalami kekerasan. Ada yang hijabnya direnggut, ada pula laki-laki Muslim yang diserang. Masjid-masjid juga menjadi sasaran vandalisme.

Dalam situasi seperti itu, kemarahan tentu merupakan reaksi yang manusiawi. Namun, saya belajar bahwa kedamaian justru bisa menjadi kekuatan yang lebih besar.

Menjawab dengan bermartabat, misalnya, “Saudaraku, kita akan baik-baik saja,” terkadang mampu meredakan kebencian dengan cara yang tidak dapat dicapai melalui perdebatan.

Ketiga, isolasi berbahaya, sedangkan keterlibatan adalah bentuk perlindungan.

Sebelum 9/11, sebagian masjid hidup relatif terisolasi: aktif dalam kegiatan internal, tetapi kurang terhubung dengan masyarakat di sekitarnya.

Setelah 9/11, komunitas Muslim yang telah membangun jembatan dengan berbagai kelompok—gereja, sinagoge, pemerintah kota, kepolisian, dan komunitas lainnya—justru menjadi kelompok yang mendapatkan perlindungan dari para tetangganya.

Saya belajar bahwa menjadi warga negara tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai keimanan. Kita harus hadir bukan hanya di masjid, tetapi juga di balai kota, sekolah, ruang redaksi media, pasar, dan berbagai organisasi kemasyarakatan.

Keempat, satu kalimat di media dapat menghancurkan kepercayaan yang dibangun selama puluhan tahun.

Saya masih mengingat pemberitaan Wolf Blitzer di CNN pada pagi itu yang menyebut New York diserang oleh “teroris Islam”, sementara tayangan yang digunakan memperlihatkan perempuan berhijab yang sedang bersorak dalam rekaman lama dan tidak berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Bagi saya, satu pemberitaan dan satu gambar seperti itu dapat memperkuat stigma yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk diluruskan.

Hal tersebut mengingatkan saya bahwa jika kita tidak menceritakan kisah kita sendiri, orang lain akan menceritakannya untuk kita.

Karena itu, umat Islam harus mampu menguasai media, bukan justru takut terhadapnya. Kita perlu membangun platform media sendiri, menyiapkan juru bicara yang kompeten, serta membuka akses kepada media sebelum kamera datang dan membentuk narasi sepihak.

Kelima, sebuah krisis dapat menjadi momentum dakwah.

Ironisnya, masa yang menjadi salah satu periode paling penuh kebencian terhadap umat Islam di Amerika justru menjadi momentum ketika rasa ingin tahu masyarakat terhadap Islam meningkat.

Ribuan orang datang ke masjid untuk pertama kalinya dan meminta Al-Qur’an. Sebagian orang yang sebelumnya membenci Islam kemudian berubah menjadi simpatisan bahkan pembela Islam setelah berinteraksi secara langsung dengan tetangga Muslim mereka.

Allah dapat mengubah mihnah—ujian—menjadi minhah—anugerah. Namun, perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya. Kita harus membuka pintu, melembutkan hati, serta mengubah penderitaan menjadi kesempatan untuk membangun dialog, pendidikan, dan pemahaman.

Keenam, keadilan harus berlaku universal. Jika tidak, ia bukanlah keadilan.

Allah SWT berfirman:

“Wa la yajrimannakum shana’anu qawmin ‘ala alla ta’dilu. I’dilu, huwa aqrabu littaqwa.”

“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”(QS. Al-Ma’idah: 8)

Kita mengecam pembunuhan sekitar 3.000 orang tak berdosa dalam tragedi 9/11 karena kehidupan manusia adalah sesuatu yang sakral.

Namun, kredibilitas moral kita bergantung pada kesediaan untuk mengecam pembunuhan terhadap orang-orang tak berdosa di mana pun mereka berada—baik di New York, Afghanistan, Irak, maupun Palestina.

Keadilan yang hanya berlaku secara selektif pada hakikatnya bukanlah keadilan.

Ketujuh, Amerika lebih besar daripada suara-suara kebencian.

Pada hari itu, saya justru diselamatkan oleh seorang asing yang memberikan tumpangan kepada saya. Saya juga mendapatkan pelukan dari tetangga saya yang sudah lanjut usia, seorang keturunan Irlandia dan beragama Katolik. Mereka memeluk saya dan berkata, “Kami tidak percaya Muslim melakukan ini.”

Hari ini, ketika seorang provokator seperti Jack Lang merobek Al-Qur’an di sebuah gereja kulit hitam di Harlem, tindakannya tidak mewakili Amerika maupun ajaran Yesus Kristus. Sama halnya dengan para teroris yang mengatasnamakan Islam—mereka tidak mewakili Islam.

Amerika dalam wajah terbaiknya adalah pelukan seorang tetangga, bukan aksi provokatif yang menebarkan kebencian.

Pada akhirnya, peringatan tragedi 9/11 seharusnya tidak menjadi ajang untuk mempertandingkan penderitaan, apalagi menjadi panggung bagi kebencian dan perpecahan. Momentum ini semestinya menjadi ruang untuk muhasabah, sebuah kesempatan untuk melakukan introspeksi secara mendalam.

Kita perlu bertanya: bagaimana kita dapat membangun New York dan Amerika yang lebih baik secara bersama-sama?

Pada akhirnya, bersama-sama kita bisa dan akan “Make America Kind Again” (MAKA).

Comment