by

Ummu Aqila Sakha, SEI*: Menjaga Ketahanan Keluarga Di Tengah Pandemi 

-Opini-33 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM,  JAKARTA – Setiap manusia tentu sangat mengidamkan keluarga yang ideal, harmoni dan penuh ketenangan. Dimana masyarakat biasa menyebutnya sebagai keluarga sakinan, mawaddah, warahmah.

Tetapi untuk mewujudkannya dalam masyarakat yang jauh dari nilai-nilai islam tentu amalah sulit. Terlebih lagi dalam masa pendemi seperti sekarang ini yang memang tidak mudah.

Menjalani karantina wilayah dan tetap berada di rumah bagi sebagian orang akan mempererat kebersamaan dalam keluarga. Namun bagi sebagian lainnya, hal itu justru memperuncing perbedaan dan meningkatkan konflik.

Selama masa covid 19, komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) terhadap perempuan meningkat. Hal ini berdasarkan survei yang menjaring 2.285 responden sepanjang April-Mei 2020. Sebanyak 80 persen responden perempuan dalam kelompok berpenghasilan di bawah Rp.5 juta per bulan mengatakan bahwa kekerasan yang mereka alami cenderung meningkat selama pandemi. Secara umum, survei online itu mencatat kekerasan psikologis dan ekonomi mendominasi bentuk KDRT.

Intensitas pertemuan suami istri naik akibat gaya hidup yang berubah saat pandemi, hal ini ternyata ikut berpengaruh dalam fenomena peningkatan KDRT.

Karena dalam beberapa kasus intensitas pertemuan yang bertambah akan menimbulkan gesekan. Gesekan ini muncul karena anak-anak sekolah dirumah, suami juga bekerja di rumah bahkan ada suami yang tidak bisa menghasilkan uang hingga akhirnya berdampak pada relasi dalam keluarga.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa pandemi ini berpotensi menimbulkan pengaruh terhadap relasi keluarga sebagaimana terjadinya kekerasan dalam keluarga yang berdampak pada ketentraman keluarga.

Hanya saja kalau kita cermati bahwa permasalahan keluarga bukan semata-mata karena pandemi ini, buktinya masalah jumlah konflik dalam keluarga yang akhirnya berujung pada perceraian di Indonesia memang sudah tinggi.

Jadi masalah keluarga ini bukan masalah yang berdiri sendiri tetapi juga berkaitan dengan masalah lain yakni pergaulan, pendidikan dan budaya. Dengan kata lain ini adalah permasalahan sistemik, artinya akar dari permasalahan keluarga ini adalah sistem sekuler kapitalisme yang diterapkan oleh negara.

Dalam sistem sekuler kapitalisme agama tidak boleh mencampuri permasalahan kehidupan termasuk masalah keluarga. Dalam hal ekonomi bisa jadi ada keluarga yang tidak bermasalah. Namun suatu saat pasti muncul masalah yang lain, baik KDRT, perselingkuhan, perceraian, anak salah pergaulan, narkoba dan lain sebagainya.

Inilah buah dari sistem sekuler kapialisme.
Tentu hal ini berbeda dengan Islam. Islam adalah agama yang sempurna, yang tidak hanya mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, namun juga memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi manusia.

Termasuk Islam mampu menjaga ketahanan keluarga. Ketahanan keluarga adalah konsep penjagaan kehidupan rumah tangga islami dari nilai-nilai sekuler kapitalis yang dapat mengancam eksistensi keluarga dalam mengamalkan nilai-nilai yang islami. Dan keluarga merupakan tumpuan yang utama dan pertama dalam mempersiapkan generasi penerus peradaban.

Oleh karena itu ketahanan keluarga harus dijaga kekuatannya. Mulai dari pernikahan yang sah, keluarga juga harus dibangun berdasarkan agama dan diniatkan untuk ibadah.

Sebagimana sabda Rasulullah SAW yang artinya, “Nikah ini adalah Sunnahku, siapa yang membenci sunahku maka ia bukanlah bagian dariku” (HR.Ibnu Majah).

Keluarga yang disebut tahan dan kuat jika setiap anggota keluarga taat dalam agama dan berpegang teguh pada seluruh aturanNya.

Semua anggota keluarga menjalankan peran dan kewajibannya masing-masing sesuai aturan Islam. Ketika menghadapi berbagai masalah seperti terjadi pandemi sekarang ini maka Islam yang akan dijadikan sebagai solusi dalam keluarganya.

Selain itu, keluarga juga harus memiliki kemandirian dari sektor ekonomi, tingginya derajat berfikir dalam keluarga serta memiliki kebiasaan-kebiasaan baik yang harus tetap terjaga sebagimana yang dicontohkan oleh rasulullah SAW, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh budaya luar yang menyesatkan.

Namun demikian, Ketahanan keluarga yang kokoh tidak hanya bergantung pada keluarga itu sendiri tetapi juga sangat tergantung pada sistem hidup yang menaunginya.

Artinya keberadaan keluarga sebagai elemen terkecil dari masyarakat membutuhkan kehadiran negara untuk mengaturnya. Dengan kata lain butuh dukungan sistem untuk mewujudkannya.

Dalam sistem Islam penguasa adalah satu-satunya penanggung jawab untuk mengatur seluruh urusan umat termasuk dalam menjaga ketahanan keluarga. Rasululloh SAW bersabda, “Imam [kepala negara] itu laksana penggembala, dan dialah penanggung jawab rakyat yang digembalakannya.” (HR al Bukhari). Wallohu A’lam.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + 9 =

Rekomendasi Berita