by

Ummu Firdaus: Harga Nyawa Manusia Sangat Murah

-Berita-11 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Geger dan kaget terhadap kejadian kriminal yang terus berulang. Kasus tindak kriminalitas belakangan ini semakin menyayat hati karena nyawa manusia kini seakan tidak ada harganya lagi.

Masyarakat dihebohkan dengan berita ditemukannya mayat di dalam karung, di sebuah tempat Penginapan Oyo di jalan Sumedang, Kacang Pedang, pada hari Sabtu (14/11) yang kemudian mendadak ramai dikerumuni warga. Pasalnya, belakang kamar nomor 11 didapati sesosok mayat dalam karung oleh salah seorang OB penginapan tersebut.

Maraknya tindak kriminal belakangan ini sudah sangat meresahkan masyarakat sehingga rasa aman dan ketentraman tak lagi dirasakan.

Bertindak tanpa dilandasi proses berfikir yang benar, berbuat tanpa batas, sesuka hati tak peduli merugikan diri sendiri dan orang lain. Standar halal-haram tak lagi dihiraukan.

Gaya hidup masyarakat yang hedonis jelas berpengaruh pada finansial. Bagaimana tidak, kebutuhan hidup semakin banyak dibarengi dengan biaya yang semakin tinggi, lapangan pekerjaan sulit didapat, bekerja gaji tak mencukupi. Hal ini mengakibatkan stop thinking, sementara urusan perut tak bisa distop. Kondisi inilah yang kemudian memicu nalar dan hilangnya akal sehat seseorang.

Tindak kejahatan terus meningkat tak pernah absen di telinga dan media atau pun di sekitar lingkungan kita dengan korban yang tidak pandang bulu.

Miris menyaksikan fakta ini, bagaimana tega seseorang manusia berbuat bengis dan beringas dengan cara memperkosa, merampas harta lalu dibunuh, setelah dibunuh dengan teganya dipotong-potong lalu dimasukkan ke dalam karung. Di mana rasa iba itu? Sudah tak wajar, bukanlah sifat-sifat manusia tetapi sudah menyerupai hewan buas karena diri sudah dikuasai hawa nafsu.

Kebebasan hidup manusia sudah begitu parah yang menempuh segala cara – tanpa berpikir baik dan buruk – untuk mendapatkan sesuatu sesuai yang diinginkan.

Anehnya, meskipun segalanya telah terpenuhi manusia masih belum terpuaskan malah sebaliknya semakin buas. Mereka merampas harta, kehormatan dan nyawa orang lain, mereka ingin agar bisa diakui, bisa bergaya hidup mewah, dianggap gaul atau modis.

Jika nilai nilai agama sudah tercabut dari kehidupan, maka manusia bebas memilih jalan hidup, materi sebagai tolak ukurnya, suka-suka yang penting happy dan kesenangan dunia menjadi prioritas utama dan terpenuhi semua kebutuhan hidup. Kepuasan hiduplah yang diinginkan. Sehingga melupakan jatidiri sebagai hamba Allah SWT

Sikap hedonis, brutal membabi buta yang marak terjadi tidak terlepas dari kurangnya perhatian, pembinaan dan lemahnya hukum di negeri ini sehingga dengan mudahnya menghilangkan nyawa orang lain.

Sekularisme dan liberalisme memberi peluang kebebasan individu sehingga manusia tidak memiliki kendali dan hati nurani.

Seseorang bebas melakukan apa saja termasuk menyuburkan para kapitalis menguasai sumberdaya alam sehingga masyarakat semakin sulit.

Agama tidak dijadikan sebagai pertimbangan dan dasar dalam meniti kehidupan. Kapitalisme melahirkan ekses negatif dengan kehidupan rakyat kecil yang semakin termarginalkan. Kesulitan dan beban hidup yang menghimpit mengakibatkan goncangan jiwa dalam memutus sebuah tindakan. Dari sinilah lahir kriminalitas di tengah kehidupan manusia.

Para kapitalis dengan agen-agennya menggencarkan iklan-iklan, film-film dan termasuk budaya ala barat dalam kehidupan nyata ataupun di media publik lainnya. Dibuat seolah nampak sempurna. Akhirnya masyarakat terbawa arus dan terpengaruh dengan budaya dan sudut pandang kapitalisme yang liberal.

Realitasnya kehidupan masyarakat adalah buah dari sekulerisme yang melahirkan bobroknya kehidupan individu, masyarakat dan negara.

Terjadinya pembunuhan dan praktek kejahatan lainnya, akibat tercampaknya agama dari sistem kehidupan masyarakat yang tidak mau diatur oleh agama dan mau mengatur hidupnya sendiri sesuai keinginan.

Langkah apa yang harus dilakukan?

Sebagai muslim kita patut berbangga karena Islam tak hanya mengatur urusan ibadah semata, lebih dari itu Islam juga sebagai ideologi yang memiliki pandangan hidup yang khas sesuai dengan akidah Islam.

Kebahagian dalam Islam diukur ketika mendapatkan keridhoan dari Allah SWT dengan cara menaati perintah Allah dan menjauhi laranga-Nya.

Memaknai arti kebahagiaan secara benar maka dengan sendirinya kita akan mewujudkan langkah kehidupan kita selaras dengan nilai nilai agama.

Kebahagiaan sejati tidak diukur dari banyaknya harta kita atau mewahnya rumah kita, namun, kebahagiaan itu terasa jika hati kita tentram dengan cara bersyukur atas rejeki yang telah Allah berikan kepada kita. Banyak atau sedikitnya rejeki adalah ketika ridho Allah menyertai dan tentu kita akan merasa cukup sehingga tak terpancing oleh gaya hidup hedonis dengan cara merampas harta, kehormatan bahkan menghilangkan nyawa manusia.

Allah SWT berfirman, “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Neraka Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya”(TQS.An-Nisa:93)

Ketika penjara tak memberi efek jera terhadap pelaku dan korban kejahatan tidak ridha atas hukuman yang diberikan kepada pelaku memicu keraguan masyarakat terhadap hukum.

Tindak kejahatan selalu berulang dan terkadang dilakukan oleh orang yang sama. Keluar penjara berulah lagi dan masuk penjara lagi.

Lantas bagaimana menuntaskan kejahatan kriminal dalam pandangan islam?

Selain dari dosa besar, Islam dengan tegas memberi sanksi kepada pelaku kejahatan yang merugikan orang lain.
Sanksi (‘iqab) disyari’atkan untuk mencegah manusia dari tindak kejahatan. Allah Swt. berfirman:

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاأُولِي اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

‘Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertaqwa.’ (TQS. al-Baqarah 179).

Qishash adalah membunuh si pembunuh. Terdapat hikmah yang sangat besar, yaitu menjaga jiwa (manusia). Sebab, jika pembunuh mengetahui akan dibunuh lagi, maka ia akan merasa takut untuk melakukan pembunuhan. Itu sebabnya, di dalam qishash ada jaminan hidup bagi jiwa.

Pada ghalibnya, jika orang berakal mengetahui bahwa bila ia membunuh akan dibunuh lagi, maka ia tidak akan melakukan pembunuhan tersebut.

Dengan demikian, ‘uqubat (sanksi-sanksi) berfungsi sebagai zawajir (pencegahan). Keberadaannya disebut sebagai zawajir, sebab dapat mencegah manusia dari tindak kejahatan.

Dani bagi orang yang membunuh balasannya adalah azab yang sanggat pedih. Mereka begitu mudahnya membunuh dan menumpahkan darah yang mengalir seperti air.  Nyawa manusia seperti tidak ada artinya lagi

Apabila aturan Islam diterapkan, maka jiwa manusia akan terlindungi. Begitupun dalam penyelesaian semua permasalahan dari berbagai sudut.

Sistem ekonomi Islam berupaya mencukupi segala kebutuhan pokok masyarakat, sehingga motif ekonomi tidak akan memunculkan niat jahat.
Sementara itu, sistem pendidikan yang berbasis akidah Islam memberi pemahaman tentang tanggung jawab individu di hadapan Pencipta, atas semua perilakunya di dunia sehingga mencegah keinginannya untuk bermaksiat.

Semua penyelesaian terkait dengan seluruh sistem kehidupan ini hanya bisa terwujud oleh nilai nilai Islam. Wallahu’alam bish shawwab.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 + fourteen =

Rekomendasi Berita