by

Vikhabie Yolanda Muslim, S.Tr.Keb: Nestapa Rohingya, Siapa Mampu Lindungi Mereka ?

-Opini-19 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA  – Kembali, pengungsi Rohingya ditemukan terombang-ambing tak berdaya di lautan yang terbawa ombak di sebuah kapal kayu. Kali ini pengungsi Rohingya yang berjumlah 99 orang itu diselamatkan di perairan Aceh Utara pada Rabu 24 Juni 2020. Setelah sempat menyatakan untuk tidak menerima pengungsi Rohingya atas alasan penyebaran covid-19 oleh pemerintah daerah Aceh, Kementerian luar negeri menyatakan keputusan untuk menyelamatkan para pengungsi atas dasar kemanusiaan karena kondisi para pengungsi yang sangat memprihatinkan dan membahayakan jiwa mereka. Kini, para pengungsi telah ditampung di eks Kantor Imigrasi Lhoksemauwe, Aceh.

Kemlu menyatakan bahwa Fokus utama sekarang adalah pemenuhan kebutuhan dasar, pemberian penampungan sementara, serta pelayanan kesehatan. Hal-hal tersebut dilakukan dengan tetap memastikan berlakunya protokol kesehatan guna mencegah penularan virus covid-19 di kalangan migran etnis Rohingya.

Masyarakat Aceh pun turut memberikan bantuan kemanusiaan dan dukungan moril untuk para pengungsi Rohingya. Disamping itu, pemerintah Indonesia saat ini tengah menyelidiki dugaan adanya kasus perdagangan manusia terhadap para pengungsi etnis Rohingnya dan bekerja sama dengan Badan Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) terkait upaya ini (detik.com, 27/6/2020).

Lantas, jika kita melihat kasus ini, maka ada beberapa poin yang akan terurai.

Pertama, peristiwa ini pun kembali menjadi pengingat bagi kita, bahwa permasalahan yang dihadapi oleh muslim Rohingya masih belum bertepi. Bertahun-tahun terombang ambing menjadi sasaran kebijakan nasional yang penuh diskriminasi, pencabutan hak, perdagangan manusia, bahkan genosida oleh berbagai lembaga negara di Myanmar. Padahal, mayoritas dari mereka dilahirkan dan dibesarkan serta memiliki kartu identitas resmi serta dokumentasi yang membuktikan kewarganegaraan Myanmar.

Yang kedua, adanya fakta genosida dan pembersihan terhadap etnis Rohingya di Rakhine yang telah berjalan hingga bertahun-tahun lamanya, menunjukkan kurangnya upaya serius dunia internasional menanggapi dan menyelesaikan permasalahan kemanusiaan ini. Sidang Mahkamah Internasional atas kasus Rohingya pada Januari 2020 lalu, yang diajukan oleh negara Gambia dalam menyerukan tindakan darurat terhadap militer Myanmar, hingga saat ini nampaknya belum membuahkan hasil maksimal.

Padahal, fakta yang terjadi di lapangan jauh lebih parah dari yang terlihat di tayangan media maupun televisi. Pemerintah Myanmar selalu berdalih bahwa semua tindakan dilakukan untuk menangani ancaman ekstremisme di negara bagian Rakhine.

Lalu yang ketiga, semua perlakuan tidak manusiawi yang diterima oleh etnis Rohingya ini ialah bentuk upaya militer pemerintah Myanmar untuk membuat negara bagian Rakhine (Myanmar barat) kembali sejalan dengan visi ideologi mereka, yang menurutnya wilayah Rakhine tersebut pernah murni dengan mayoritas beragama Buddha.

Lantas problem utama yang menjadi asal penghancuran berkelanjutan ialah identitas etnis ini sebagai Muslim. Bagi ummat muslim, semua perilaku dan tindakan serta upaya mereka tentu menjadi hal yang tidak mengherankan, mengingat kebencian kaum kafir yang telah tertanam jelas dan disebutkan dalam firman-Nya, “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik (QS. Al-Ma’idah Ayat 82).

Yang keempat ialah, solusi yang dimunculkan oleh para pemimpin dunia termasuk lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ialah hanya solusi ilusi tambal sulam yang tiada bertepi dan tidak pernah menemui jalan akhir.

Hal ini pun akan terus terjadi sepanjang akar masalah tidak diselesaikan secara komprehensif. Menciptakan kondisi kondusif bagi etnis Rohingya sangatlah penting untuk terus dilakukan yang tentu dibutuhkan solusi secara mengakar, bukan hanya solusi yang bisa mengatasi di permukaan.

Oleh karenanya, masalah ini tentu membutuhkan solusi bersama dari semua pihak, utamanya seluruh ummat muslim di dunia. Saat saudara seaqidah ditindas dan diperlakukan sewenang-wenang, sudah menjadi kewajiban kita untuk memberikan pertolongan. Mereka telah lama menjerit meminta pertolongan dunia, tapi tak satupun mampu mengakhiri penderitaannya. Maka, sudah menjadi kewajiban bagi kaum muslim di seluruh dunia termasuk pemerintah Indonesia dengan mayoritas penduduk muslim untuk melindungi mereka terlebih dari ancaman kekufuran yang dipaksakan pada mereka.

Namun sayang, saat ini tak seorang pun pemimpin muslim yang mampu mengirimkan bala tentaranya menuju Rakhine. Alih-alih mengirimkan pertolongan, bahkan sekedar membantu para pengungsi pun berpikir berkali-kali dengan berbagai pertimbangan.

Melihat berbagai realitas yang ada, nasib serupa pun telah dialami oleh muslim Uyghur, Suriah, India, dan lain-lain dibelahan bumi ini. Semua penderitaan ini semakin memperkuat urgensi atas kebutuhan ummat akan adanya pelindung. Bukan sekedar pelindung tapi juga penjaga jiwa dan darah kaum muslim yang seringkali tertumpah dengan semena-mena.

Ummat sejatinya butuh pelindung (Imam) yang dapat menaruh harap. Hal ini jelas dan terang, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Imam itu laksana perisai, kaum muslim akan berperang dan berlindung di belakang dia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka saat ini, berharap banyak pada lembaga dunia hanyalah harapan palsu yang berisi janji manis semata.

Islamlah satu-satunya harapan yang dapat memutus mata rantai ummat di seluruh dunia. Islam pula yang akan menjadi penjaga kesatuan dan persatuan. Jika bukan imam, maka siapa lagi yang akan menjaga jiwa dengan sempurna?[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 − 4 =

Rekomendasi Berita