by

Yuli Ummu Fatih: 8 Tips Mengelola Keuangan di Tengah Pandemi Ala Keluarga Muslim

-Opini-16 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Sudah lebih dari 4 bulan pandemi covid-19 melanda negeri ini. Dampaknya sangat terasa terutama di bidang ekonomi. Banyak para suami yang notabene merupakan tulang punggung keluarga harus kehilangan pendapatan karena terkena PHK, tempat kerja mereka tutup, atau tempat usahanya berhenti beroperasi untuk sementara waktu. Sehingga tidak sedikit akhirnya dalam pengeluaran sehari-hari mengandalkan tabungan yang semakin menipis.

Di tengah kesulitan keuangan ini kebutuhan terus berjalan, bahkan bertambah karena adanya pandemi mengharuskan semua kegiatan dirumah saja. Stok Cemilan harus selalu ada, makanan lebih dari porsi biasanya, pemakaian listrik meningkat , Kuota harus selalu tersedia karena kegiatan belajar mengajar pun dilakukan secara online dan banyak lagi kebutuhan lainnya.

Pemerintah yang seharusnya bisa menjamin kebutuhan rakyat nya sepertinya hanya sebuah angan. Karena faktanya bantuan itu tak bisa dirasakan semua rakyat. Sehingga mengharuskan kita untuk berjuang sendiri.

Bagaimana pun, kita harus menyadari bahwa terjadinya pandemi ini adalah dengan izin Allah, sebagai musibah, ujian, dan teguran sayangnya Allah untuk kita semua.

Tidak mudah memang menghadapi pandemi ini, tapi sesungguhnya Islam dengan aturan-aturannya yang terperinci telah memberikan rambu-rambu kepada kita bagaimana seharusnya kita menyikapi pandemi ini, sehingga kita tetap bisa maksimal menjalankan peran kita dengan baik. Termasuk ketika kita menghadapi masalah keuangan di saat pandemi ini.

Berikut ini beberapa tuntunan Islam yang bisa kita amalkan ketika kita dihadapkan dengan masalah keuangan di masa pandemi Covid-19 :
‌1) Memahami dan meyakini bahwa rezeki adalah ketetapan Allah SWT.

‌Manajemen keuangan keluarga islami harus dilandasi prinsip keyakinan bahwa penentu dan pemberi rezeki adalah Allah SWT, tugas manusia adalah berusaha dengan niat memenuhi kebutuhan keluarga agar dapat melaksanakan semua kewajiban.

‌Sehingga, memiliki komitmen dan prioritas penghasilan halal yang membawa berkah dan menghindari penghasilan haram yang membawa petaka. Allah telah mengatur rezeki untuk hamba-Nya, dan juga sudah dibagi dengan adil, tidak akan pernah tertukar.

‌Allah SWT berfirman,

‌وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

‌“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS Asy Syuraa: 27)

‌2) Membicarakan kondisi keuangan dengan anggota keluarga.

‌Sebaiknya kita menyampaikan kondisi keuangan kita kepada seluruh anggota keluarga, agar mereka tidak kaget ketika terjadi perubahan pola konsumsi dalam keluarga.

3) Prioritaskan kebutuhan pokok.

Islam mengajarkan agar pengeluaran rumah tangga muslim lebih mengutamakan pembelian kebutuhan-kebutuhan pokok sehingga sesuai dengan tujuan syariat, yaitu memelihara jiwa, akal, agama, keturunan, dan kehormatan.

4) Mengutamakan penunaian kewajiban.

Dalam sistem kapitalis sekuler, tidak ada yang cuma-cuma. Kebutuhan-kebutuhan pokok seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan yang seharusnya menjadi kewajiban negara untuk memenuhinya, dibebankan kepada rakyat.

Rakyat dibebankan biaya-biaya yang tidak sedikit, setiap bulannya kita dituntut untuk membayar listrik, air, uang sekolah anak, bahkan ada sebagian kita yang harus membayar jasa keamanan karena negara tidak menjaminnya.

5) Tidak besar pasak daripada tiang.

Islam telah memberikan bertanggung jawab kepada ayah atau suami untuk mencari nafkah yang halal bagi istri dan anak-anaknya, sedangkan istri bertugas membantu suami mengatur pendapatan suaminya dan tidak boleh membebani suami dengan beban kebutuhan dana di luar kemampuannya.

Terlebih di masa pandemi yang kita belum tahu kapan akan berakhir, seorang istri harus dapat mengatur pengeluaran rumah tangganya seefisien mungkin menurut skala prioritas sesuai dengan penghasilan dan pendapatan suami, jika bisa menyisihkan untuk ditabung atau bersedekah tentu lebih baik.

Abu bakar pernah berkata, “Aku membenci penghuni rumah tangga yang membelanjakan atau menghabiskan bekal untuk beberapa hari dalam satu hari saja.”

Dalam berumah tangga, suami-istri hendaknya memiliki konsep bahwa pembelanjaan hartanya akan berpahala jika dilakukan untuk hal-hal yang baik dan sesuai dengan perintah Allah.

6) Berhemat dan sederhana.

Di masa pandemi saat ini, mau tidak mau kita dituntut untuk bijaksana dalam membelanjakan harta, apalagi jika kita tidak memiliki pendapatan tetap atau bisa jadi saat ini kita mengandalkan tabungan.

Sudah seharusnya kita berhemat dan menerapkan pola hidup sederhana. Kita membelanjakan sesuai dengan kebutuhan, menahan diri dari membelanjakan harta untuk hal-hal yang kurang penting, semata hanya memenuhi keinginan kita.

Rasulullah (Saw.) bersabda, “Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan dengan pertengahan dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga pada hari ia miskin dan membutuhkannya.” (HR Ahmad) “Tidak akan miskin orang yang berhemat dalam pengeluaran.” (HR Ahmad).

7) Membantu pendapatan keluarga.

Tidak dapat dipungkiri, pada faktanya banyak para ayah yang penghasilannya berkurang, bahkan kehilangan pekerjaan di masa pandemi Covid-19 ini. Maka sesungguhnya Islam tidak melarang para istri bekerja, berdagang, atau melakukan aktivitas lainnya yang mendatangkan rezeki untuk membantu suami, asalkan suaminya mengizinkan dan tidak melalaikan kewajiban utamanya sebagai ummu wa rabbatul bait (ibu dan pengelola rumah suaminya) serta kewajiban-kewajiban lainnya.

Hanya saja ia tetap berkewajiban mendorong dan memotivasi suaminya untuk mencari nafkah atau berusaha bersama-sama saling bahu membahu untuk mendatangkan rezeki, misalnya kerja sama dalam berdagang dan sebagainya.

8) Menyisihkan sebagian harta untuk bersedekah.

Pada saat pandemi, banyak sekali kaum muslimin lainnya yang terkena dampaknya, maka alangkah baiknya kita menyisihkan harta kita walaupun sedikit untuk membantu saudara kita yang membutuhkan, apakah berupa makanan ataupun uang.

“Bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya sedekah dapat menambah harta yang banyak. Maka bersedekahlah kalian, niscaya Allah menyayangi kalian.” (Al-Wasail 6: 255, hadis ke-11).

Allah juga menjanjikan untuk menambah harta yang didapat dengan bersedekah. Lewat bersedekah berarti Anda bersyukur atas nikmat yang diperoleh.

Demikianlah tuntunan Islam dalam pengelolaan pendapatan yang kita miliki. Di tengah pandemi Covid-19 sekarang ini, sudah seharusnya kita lebih hati-hati dan bijaksana dalam mengatur dan mengelola harta yang kita miliki, dan tetap dengan keyakinan bahwa Allah Ar-Razaaq, Yang Maha Pemberi Rezeki, yang Maha Mencukupkan Rezeki untuk kita semua.

Semoga Allah senantiasa melapangkan rezeki untuk kita semua serta memberikan kecukupan dengan rezeki yang diberikan-Nya untuk kita. Wallahu a’lam bishshawwab.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine + 8 =

Rekomendasi Berita