Jurnalisme Antara Tujuan dan Pengakuan Sebuah Berita

Dari Redaksi15 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA- Berita yang beredar di tengah masyarakat memiliki tingkat penerimaan yang beragam. Ada yang sekadar membaca tanpa mempercayainya. Ada yang membaca dengan rasa ingin tahu. Ada pula yang menanggapinya dengan curiga, bahkan menjadikannya bahan olok-olokan.

Namun begitu, tidak sedikit masyarakat yang menjadikan berita sebagai sarana pembelajaran dan sumber pengetahuan. Bahkan sebagian menjadikannya sebagai dasar mengambil keputusan penting dalam kehidupan.

Begitulah hakikat sebuah berita. Ia bukan sekadar rangkaian kata yang tersusun dalam kalimat, melainkan informasi yang mampu memengaruhi cara berpikir, sikap, hingga tindakan seseorang.

Di era teknologi digital saat ini, arus informasi bergerak begitu cepat. Media sosial dan media massa (online news) seolah membaur dalam satu ruang publik yang sulit dibedakan batasnya. Informasi yang muncul dalam hitungan detik dapat menyebar ke jutaan orang hanya melalui satu sentuhan layar.

Fenomena massive and rapid news menjadi ciri utama era digital. Kecepatan menjadi ukuran keberhasilan, sementara kualitas sering kali tertinggal. Capaian klik, tayangan, dan interaksi menjadi target utama sebagian media. Akibatnya, masyarakat dibanjiri informasi yang belum tentu benar, tetapi terlanjur dipercaya karena viral.

Hakikat Sebuah Berita

Pakar komunikasi Amerika, Walter Lippmann, menjelaskan bahwa berita merupakan jendela yang membantu masyarakat memahami realitas yang tidak dapat mereka lihat secara langsung. Karena itu, berita memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi publik.

Sementara itu, Joseph Pulitzer menegaskan bahwa pers harus menjadi alat untuk menerangi masyarakat, bukan menyesatkan mereka. Berita yang baik bukan hanya menarik perhatian, tetapi juga membawa masyarakat pada pemahaman yang benar.

Di Indonesia, Jakob Oetama memandang pers sebagai lembaga pencari dan penyebar kebenaran. Keberhasilan media bukan semata diukur dari banyaknya pembaca, melainkan dari tingkat kepercayaan yang diberikan masyarakat.

Dengan demikian, hakikat berita adalah menyampaikan fakta yang benar, relevan, dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Mengapa Berita Ditulis?

Secara ideal, berita ditulis untuk menyampaikan informasi yang benar kepada publik, menjadi sarana pendidikan masyarakat, menumbuhkan kesadaran sosial, menjadi alat kontrol terhadap kekuasaan, membantu masyarakat mengambil keputusan yang tepat dan merekam peristiwa sejarah sebagai pelajaran bagi generasi berikutnya.

Karena itu, berita tidak boleh dipandang semata sebagai komoditas ekonomi. Ia adalah amanah sosial yang memiliki dampak luas terhadap kehidupan masyarakat.

Prasyarat Berita yang Layak Dijadikan Pegangan

Tidak semua informasi layak dijadikan dasar pengambilan keputusan. Sebuah berita setidaknya harus memenuhi beberapa syarat pokok.

1. Faktual, yaitu berdasarkan peristiwa yang benar-benar terjadi.

2. Ververifikasi, yakni telah melalui proses pengecekan sumber dan data.

3. Akurat, tidak mengandung kesalahan informasi.

4. Berimbang, memberikan ruang kepada pihak-pihak yang terkait.

5. Independen, tidak tunduk pada tekanan kepentingan tertentu.

6. Bermanfaat, memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Prinsip ini sejatinya sejalan dengan ajaran Islam. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 6, Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk melakukan tabayyun (verifikasi) terhadap setiap informasi yang diterima agar tidak menimbulkan kerugian akibat kesalahan berita.

Dengan kata lain, prinsip verifikasi yang menjadi fondasi jurnalisme modern sesungguhnya telah diajarkan Islam lebih dari empat belas abad yang lalu.

Jurnalisme 3B: Baik, Benar, dan Bermanfaat

Di tengah derasnya arus informasi, dunia jurnalistik memerlukan kompas moral yang kokoh. Salah satu prinsip yang patut dijadikan pedoman adalah konsep 3B: Baik, Benar, dan Bermanfaat.

Baik, berarti berita disampaikan dengan etika dan tanggung jawab. Informasi tidak boleh mengandung fitnah, ujaran kebencian, manipulasi, ataupun eksploitasi penderitaan manusia demi sensasi dan keuntungan sesaat.

Benar, berarti berita harus berpijak pada fakta yang telah diverifikasi. Kebenaran tidak boleh dikorbankan demi kecepatan publikasi ataupun tingginya jumlah klik.

Bermanfaat, berarti informasi yang dipublikasikan harus memberi nilai tambah bagi masyarakat. Berita seharusnya mencerdaskan, memberi solusi, memperkuat persatuan, serta membantu masyarakat memahami persoalan secara lebih utuh.

Prinsip 3B menegaskan bahwa media bukanlah alat untuk melayani kepentingan pribadi, kelompok, atau pihak tertentu. Media juga tidak boleh dijadikan instrumen untuk membangun kebencian, mengadu domba masyarakat, ataupun menjadi kendaraan propaganda politik yang mengorbankan objektivitas.

Pers yang sehat harus melahirkan pemikiran konstruktif. Ia harus menjadi ruang dialog, ruang edukasi, dan ruang pencarian solusi. Kritik yang disampaikan media harus bertujuan memperbaiki keadaan, bukan memperkeruh persoalan.

Media yang menjalankan fungsi sosialnya dengan baik akan menjadi perekat bangsa. Sebaliknya, media yang kehilangan integritas dapat berubah menjadi sumber polarisasi yang merusak kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Ketika Viral Lebih Dipercaya daripada Benar

Salah satu ironi terbesar di era digital adalah kecenderungan masyarakat lebih mempercayai berita yang viral dibandingkan berita yang benar.

Informasi yang dibagikan jutaan kali sering dianggap otomatis benar. Sebaliknya, informasi yang akurat tetapi tidak populer sering kali diabaikan. Algoritma media sosial yang mengutamakan keterlibatan (engagement) dibandingkan validitas informasi turut memperkuat fenomena tersebut. Akibatnya, opini publik kerap dibentuk oleh popularitas, bukan oleh fakta.

Padahal sejarah mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu berada di pihak mayoritas. Banyak peristiwa besar menunjukkan bahwa kebenaran sering kali bermula dari sedikit orang yang mampu melihatnya dengan jernih.

Dalam hal ini, kita bisa mengambil contoh terjadinya peristiwa Isra Miraj. Sebuah peristiwa dan berita besar tapi sulit dipercaya.

Peristiwa Isra Miraj merupakan salah satu pelajaran paling menarik dalam memahami hubungan antara kebenaran dan penerimaan publik.

Ketika Rasulullah SAW menyampaikan kabar bahwa beliau melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan kemudian naik ke Sidratul Muntaha hanya dalam satu malam, masyarakat Makkah memberikan beragam respons.

Sebagian menertawakannya. Sebagian menganggapnya mustahil. Sebagian menjadikannya bahan ejekan. Sebagian lagi memilih ragu-ragu bahkan kembali ‘murtad’ dari keyakinan dan aqidah.

Jika menggunakan perspektif komunikasi modern, Isra Miraj dapat disebut sebagai salah satu “berita terbesar” pada zamannya. Informasi tersebut menyebar luas dan menjadi bahan pembicaraan publik di berbagai kalangan.

Namun ada pelajaran penting yang sering terlupakan. Meskipun berita itu benar, tidak semua orang langsung mempercayainya.

Ketika kaum Quraisy mendatangi Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk menggoyahkan keyakinannya, beliau justru menjawab dengan penuh keteguhan: “Jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu benar.”

Jawaban singkat itu kemudian mengantarkan Abu Bakar memperoleh gelar Ash-Shiddiq, yakni orang yang membenarkan kebenaran.

Di sinilah letak pelajaran yang sangat besar bahwa; kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah orang yang mempercayainya. Kebenaran juga tidak ditentukan oleh seberapa viral suatu informasi. Kebenaran ditentukan oleh fakta dan integritas sumber yang menyampaikannya.

Penutup: Dari Ash-Shiddiq Menuju Jurnalisme Berintegritas

Peristiwa Isra Miraj memberikan pelajaran yang sangat relevan bagi dunia jurnalistik modern. Tugas utama media bukanlah mengejar popularitas, melainkan menyampaikan kebenaran.

Demikian pula masyarakat tidak boleh terjebak pada logika bahwa sesuatu dianggap benar hanya karena ramai dibicarakan. Budaya tabayyun, verifikasi, dan berpikir kritis harus terus dikembangkan agar ruang publik tidak dikuasai oleh informasi yang menyesatkan.

Dalam konteks ini, gelar Ash-Shiddiq yang disandang Abu Bakar bukan hanya simbol keimanan, tetapi juga simbol kemampuan mengenali sumber yang kredibel dan dapat dipercaya.

Di tengah banjir informasi digital saat ini, dunia membutuhkan lebih banyak jurnalisme yang berpijak pada prinsip 3B: Baik, Benar, dan Bermanfaat. Sebab tidak semua yang viral adalah benar, dan tidak semua yang benar akan langsung dipercaya.

Maka ukuran utama sebuah berita bukanlah seberapa cepat ia menyebar, seberapa tinggi jumlah klik yang diraih, atau seberapa ramai ia diperbincangkan. Ukuran utama sebuah berita adalah sejauh mana ia menghadirkan kebenaran, mencerdaskan akal, membangun peradaban, serta membawa manfaat bagi kehidupan manusia.

Sebab pada akhirnya, tugas pers bukan sekadar membuat masyarakat mengetahui sesuatu, melainkan membantu masyarakat memahami kebenaran dari sesuatu yang mereka ketahui.

Jurnalisme juga harus memiliki arah dan berperan dalam pembangunan sumber daya manusia dengan 3M, Membaca, Memahami dan Melakukan hal hal positif. []

Comment