RADARINDONESIANEWS.COM, NEW YORK – Pemilihan pendahuluan (primary election) Partai Demokrat di Kota New York pada Selasa, 23 Juni 2026, menunjukkan perubahan signifikan dalam peta politik Partai Demokrat sekaligus menguatnya pengaruh Wali Kota New York, Zohran Mamdani.
Primary election merupakan tahapan seleksi calon yang akan maju dalam pemilu umum November mendatang untuk berbagai jabatan, mulai dari tingkat kota, negara bagian, hingga federal. Karena New York City dikenal sebagai basis kuat Partai Demokrat, pemenang dalam tahapan ini umumnya memiliki peluang besar memenangkan pemilu umum.
Pengamat dan tokoh masyarakat Indonesia di Amerika Serikat, Shamsi Ali, menilai pemilihan kali ini masih dipengaruhi oleh kemenangan Mamdani dalam pemilihan wali kota sebelumnya. Mamdani, imigran Muslim berusia 34 tahun, sebelumnya mengejutkan banyak pihak setelah berhasil memenangkan pemilihan wali kota.
“Kemenangan Mamdani tanpa restu political establishment Demokrat menjadi bukti bahwa zona nyaman para petahana mulai retak,” kata Shamsi Ali melalui selular, Rabu, 24 Juni 2026.
Menurut Shamsi, selama ini banyak politisi mengandalkan dukungan pemilik modal besar dan kelompok pelobi politik untuk mempertahankan kekuasaan. Namun, pola tersebut mulai menghadapi tantangan dari pemilih akar rumput.
“Politik uang dan pengaruh kelompok lobi mulai mendapat tantangan terbuka dari basis pemilih,” ujarnya.
Ia menilai pengaruh Mamdani semakin menguat setelah menjabat wali kota. Popularitasnya meningkat karena dinilai mampu menjaga kepercayaan publik sekaligus merealisasikan sejumlah janji kampanye.
“Popularitas Mamdani justru meningkat setelah menjabat karena dianggap mampu memenuhi sejumlah janji kampanye yang disampaikan kepada publik,” kata Shamsi.
Pengaruh tersebut terlihat dalam hasil primary election. Sejumlah kandidat yang memperoleh dukungan Mamdani berhasil memenangkan persaingan, termasuk menghadapi petahana yang sebelumnya dianggap kuat.
Brad Lander berhasil mengalahkan anggota Kongres petahana Dan Goldman di distrik NY-10 yang meliputi Lower Manhattan dan sebagian Brooklyn Barat. Sementara itu, Claire Valdez memenangkan persaingan untuk kursi NY-7 Brooklyn-Queens.
Kemenangan lain diraih Darializa Avila Chevalier, Muslim mualaf keturunan Hispanic-Haiti, yang berhasil mengalahkan anggota Kongres petahana Adriano Espaillat di distrik NY-13 Harlem-Bronx. Di tingkat Senat Negara Bagian New York, kandidat yang didukung Mamdani, Aber Kawwas, juga berhasil mengalahkan Steven Raga.
“Dugaan bahwa dukungan Mamdani akan menentukan hasil primary terbukti. Sejumlah kandidat yang didukungnya berhasil memenangkan kontestasi,” ujar Shamsi.
Menurut dia, hasil tersebut menunjukkan semakin besarnya pengaruh Mamdani dalam menentukan arah politik Demokrat di New York. Sejumlah media Amerika bahkan menyebut hasil pemilihan kali ini sebagai tanda melemahnya dominasi kelompok establishment di tubuh Partai Demokrat.
Selain faktor figur Mamdani, isu hubungan Amerika Serikat dengan Israel dan konflik Gaza menjadi tema utama dalam kampanye sejumlah kandidat pemenang. Sebagian besar kandidat yang didukung Mamdani menolak menerima dana politik dari kelompok pelobi pro-Israel, termasuk American Israel Public Affairs Committee (AIPAC).
Mereka juga secara terbuka mengkritik kebijakan Israel di Gaza serta menyerukan perubahan kebijakan imigrasi Amerika Serikat.
“Di masa lalu, mengkritik Israel dianggap sebagai bunuh diri politik. Kini, politisi yang menerima dukungan AIPAC justru menghadapi kritik dari sebagian pemilih progresif,” kata Shamsi.
Ia menilai perubahan tersebut menunjukkan adanya pergeseran sikap politik di kalangan pemilih muda dan komunitas imigran yang semakin kritis terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Shamsi memperkirakan sedikitnya ada tiga tren besar yang akan memengaruhi masa depan Partai Demokrat. Pertama, meningkatnya pengaruh kelompok progresif dan Demokrat Sosialis yang mengusung agenda perumahan terjangkau, transportasi publik gratis, reformasi imigrasi, serta pembatasan pengaruh kelompok pelobi dalam politik.
Kedua, konflik Gaza berpotensi menjadi isu yang membelah basis pemilih Demokrat. Ketiga, perkembangan tersebut dapat dimanfaatkan Partai Republik untuk menggambarkan Demokrat sebagai partai yang semakin condong ke arah sosialisme.
“Gaza berpotensi menjadi garis patahan baru di tubuh Partai Demokrat karena muncul perbedaan pandangan yang semakin tajam di kalangan pemilih,” ujarnya.
Shamsi menyimpulkan bahwa primary election New York 2026 menjadi penanda adanya pergeseran politik yang cukup tajam di salah satu basis terkuat Partai Demokrat di Amerika Serikat.
“Primary NYC 2026 menandai belokan penting politik Demokrat di kawasan urban. Mesin akar rumput dan isu ekonomi terbukti mampu menandingi kekuatan dana politik dan petahana,” kata Shamsi.
Meski demikian, ia menilai efektivitas strategi politik tersebut masih akan diuji dalam pemilu umum November mendatang, terutama di daerah-daerah yang memiliki komposisi pemilih lebih beragam.[]









Comment