Kurikulum Formal Didorong Jadi Benteng Moral Hadapi Risiko Digital dan AI

Pendidikan40 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (IKA UNJ) mendorong penguatan kurikulum formal agar tidak hanya membekali peserta didik dengan keterampilan digital, tetapi juga membentuk karakter dalam menghadapi perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Dorongan itu mengemuka dalam Forum Diskusi Pedagogik (FDP) #1 IKA UNJ yang digelar secara hybrid di Ruang Sidang Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Gedung Hasjim Asjari Lantai 6, Universitas Negeri Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Forum mengangkat tema “Bagaimana Kurikulum Formal Merespons Bahaya Dunia Digital Secara Preventif: Pendidik sebagai Kompas Moral di Era Digital.” Kegiatan tersebut diikuti guru, pendidik, akademisi, praktisi pendidikan, dan pemerhati pendidikan dari sejumlah daerah di Indonesia secara luring maupun daring.

FDP #1 sekaligus menandai kembali digelarnya forum pedagogik IKA UNJ setelah sempat terhenti selama sekitar tiga tahun.

Ancaman Digital Makin Nyata

Ketua Bidang Pedagogik PP IKA UNJ Aan Harinurdin mengatakan perkembangan teknologi menghadirkan tantangan yang tidak sederhana bagi dunia pendidikan.

Menurut dia, akselerasi digital harus berjalan beriringan dengan penguatan moral dan karakter peserta didik.
“Bahaya digital bukan lagi sekadar potensi risiko, tetapi sudah menjadi tantangan nyata yang harus diantisipasi oleh dunia pendidikan,” ujar Aan.

Aan menyebut sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian, antara lain cyberbullying, kekerasan verbal, phishing, judi online, kecanduan gawai dan gim, hingga persoalan integritas akademik akibat penggunaan AI secara tidak etis.

Menurut dia, peserta didik sebagai generasi digital native tidak cukup hanya mampu mengoperasikan teknologi. Mereka juga perlu memahami konsekuensi dari setiap aktivitas di ruang digital.

Karena itu, pendidikan perlu bergeser dari sekadar membangun digital skill menuju pembentukan digital character. Aan mengusulkan penguatan empat pilar literasi digital, yakni digital skill, digital safety, digital ethics, dan digital culture.

Ia juga mendorong penguatan karakter, penyusunan standar operasional penggunaan teknologi di sekolah, serta sinergi sekolah, keluarga, dan masyarakat. Peran orang tua, menurut dia, dapat diperkuat melalui parental digital class agar pendampingan penggunaan teknologi di lingkungan keluarga semakin efektif.

Literasi Digital Tak Cukup

Dekan FMIPA UNJ Dr. Hadi Nasbey yang mewakili Rektor UNJ Prof. Dr. Komarudin dalam forum tersebut mengatakan transformasi digital telah mengubah cara peserta didik belajar, berkomunikasi, membangun identitas, dan berinteraksi.

Menurut Hadi, persoalan pendidikan saat ini bukan lagi sebatas menyediakan akses terhadap teknologi. Tantangan yang lebih penting adalah membangun kesadaran dan karakter dalam menggunakan teknologi.

“Karakter tidak cukup hanya diajarkan. Karakter harus dilatihkan melalui pengalaman dan interaksi,” kata Hadi dalam paparannya.

Ia menilai peserta didik perlu memiliki kemampuan mengevaluasi informasi, menggunakan teknologi secara aman, memahami konsekuensi perilaku digital, menghormati hak orang lain, serta mengambil keputusan secara etis.

Konsep digital citizenship, kata Hadi, juga perlu diperkuat. Peserta didik harus memahami hak, tanggung jawab, norma, dan kewajiban ketika beraktivitas di ruang digital.

Karakter tersebut, menurut dia, mencakup empati, tanggung jawab, penghormatan terhadap orang lain, keberanian moral, pengendalian diri, dan kebijaksanaan.

Disinformasi hingga Cyberbullying

Hadi mengatakan disinformasi dan krisis pengetahuan menjadi tantangan lain yang perlu direspons kurikulum. Di era digital, guru dan dosen bukan lagi satu-satunya sumber informasi bagi peserta didik.

Peserta didik kini memiliki akses terhadap informasi dalam jumlah besar melalui internet dan berbagai platform digital. Karena itu, mereka perlu memiliki kemampuan searching, evaluating, dan verifying, serta kemampuan menilai validitas suatu informasi.

Kurikulum, menurut Hadi, perlu membekali peserta didik agar mampu mengenali bias, memahami konteks, dan menilai validitas informasi.

Ia juga menyoroti cyberbullying. Komunikasi melalui ruang digital, kata dia, memiliki risiko salah tafsir karena ekspresi wajah dan emosi tidak selalu terlihat.

Karena itu, empati dan tanggung jawab dalam berkomunikasi perlu menjadi bagian dari pendidikan karakter digital.

AI dan Integritas Akademik

Perkembangan AI juga menjadi perhatian dalam forum tersebut. Hadi mengatakan teknologi AI memiliki peluang untuk mendukung pembelajaran yang adaptif dan interaktif, tetapi juga membawa risiko berupa bias, misinformasi, ketergantungan, dan persoalan integritas akademik.

Menurut Hadi, persoalan utama bukan semata-mata pada penggunaan AI, melainkan bagaimana teknologi itu digunakan. Penggunaan AI untuk membantu pekerjaan akademik dapat dilakukan sepanjang transparan dan bertanggung jawab.

“AI adalah alat bantu. Yang harus tetap dikendalikan adalah manusia yang menggunakan alat tersebut,” ujarnya.

Hadi juga mengingatkan pentingnya perlindungan data pribadi. Berbagai aktivitas digital, mulai dari pencarian informasi hingga penggunaan aplikasi dan layanan berbasis lokasi, dapat meninggalkan jejak digital.

Karena itu, peserta didik perlu memahami bahwa data pribadi memiliki nilai dan harus dilindungi.

Lima Arah Kebijakan

Hadi menawarkan lima arah perubahan dalam kebijakan pendidikan digital.
Pertama, menggeser orientasi dari digital skill menuju digital character. Kedua, menerapkan pendekatan lintas kurikulum atau cross-curriculum approach untuk merespons persoalan digital dan STEM.
Ketiga, mengubah pendekatan content based menjadi competency based, sehingga peserta didik tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan.

Keempat, menggeser pendekatan reaktif menuju kurikulum yang preventif dan visioner. Kelima, mengubah kontrol eksternal menuju self-regulation, sehingga peserta didik mampu mengambil keputusan yang benar bukan hanya karena diawasi, melainkan karena memiliki kesadaran.

Untuk mendukung arah tersebut, Hadi menawarkan kompetensi karakter digital yang meliputi digital integrity, digital empathy, digital responsibility, critical digital literacy, digital safety, privacy, digital self-regulation, AI literacy, digital ethics, dan digital civic participation.

Ia juga mendorong perubahan metode pembelajaran. Proses belajar tidak cukup bertumpu pada listening dan memorizing, tetapi perlu bergerak melalui tahapan experience, questioning, discussion, decide, act, dan reflect.

Dalam kerangka itu, guru ditempatkan sebagai digital moral compass yang memberikan arah moral kepada peserta didik dalam menggunakan teknologi.

AI sebagai Alat Bantu

Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kota Jakarta Utara Samsurial mengatakan dunia pendidikan tidak mungkin menutup diri dari perkembangan AI.

Menurut Samsurial, perkembangan AI yang semakin luas di sektor bisnis, ekonomi, industri, dan kesehatan membuat dunia pendidikan harus mempercepat kesiapan guru dan peserta didik.

Ia menekankan AI harus ditempatkan sebagai alat bantu kognitif, bukan pengganti proses berpikir.

Samsurial menyebut kebijakan Kementerian Agama melalui KMA Nomor 1503 Tahun 2025 telah memberikan ruang bagi pemanfaatan teknologi adaptif, AI, dan media digital sebagai alat bantu pembelajaran.

Pemanfaatan teknologi tersebut diarahkan untuk mendukung pembelajaran adaptif, interaktif, dan personal dengan tetap menempatkan konten kurikulum sebagai inti pembelajaran.

Dalam konteks madrasah, penguatan karakter juga dilakukan melalui Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang menekankan cinta ilmu, integritas, etika, humanisme, dan nilai ketuhanan.

Samsurial mengingatkan guru harus menjadi teladan dalam penggunaan teknologi. Tantangan etika digital, kata dia, tidak hanya berlaku bagi peserta didik, tetapi juga bagi guru dan seluruh warga pendidikan.

TPACK untuk Kompetensi Guru
Materi Kepala Seksi Pendidik Dinas Pendidikan DKI Jakarta Juwarto dipaparkan Staf Teknik PTK Dinas Pendidikan DKI Jakarta Willi Aditama.

Willi memperkenalkan konsep Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) sebagai salah satu kerangka pengembangan kompetensi guru di era digital.

TPACK merupakan integrasi tiga pengetahuan utama, yakni content knowledge, pedagogical knowledge, dan technological knowledge.

Menurut Willi, kompetensi guru selama ini mencakup aspek pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Namun, perkembangan teknologi yang semakin cepat membuat kemampuan tersebut perlu diperkuat dengan kecakapan mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran.

Ia mengatakan penguatan TPACK perlu berjalan bersama literasi data, komunikasi, kolaborasi, keamanan digital, dan kemampuan memecahkan masalah.

Willi mengusulkan pelatihan guru yang lebih praktis dan berkelanjutan. Strateginya mencakup pelatihan berbasis praktik dan konteks, integrasi TPACK dalam perancangan pembelajaran, pembentukan Professional Learning Community (PLC), pelatihan AI secara berkelanjutan, serta evaluasi kompetensi secara berkala.

Menurut dia, kemampuan menggunakan AI tidak berhenti pada keterampilan membuat prompt. Guru juga harus mampu mengendalikan teknologi agar hasil yang diperoleh sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Guru dan Orang Tua Perlu Mendampingi
Dewan Pembina IKA UNJ Budiarti mengatakan AI tidak dapat dihindari dalam dunia pendidikan. Ia menceritakan pengalamannya menemukan tugas mahasiswa dengan pola kalimat yang hampir seragam.

Setelah mahasiswa diminta mempresentasikan tugas secara individual, penggunaan AI mulai terlihat.

Menurut Budiarti, pengalaman tersebut menunjukkan AI memberikan kemudahan sekaligus membutuhkan pengawasan.
Ia menilai peserta didik tingkat sekolah dasar hingga menengah dapat diperkenalkan dengan AI, tetapi harus mendapat pendampingan guru dan orang tua.

“AI tidak bisa kita tolak. Kita harus memahami tantangannya, terus memperbarui pengetahuan, dan mengambil manfaatnya,” ujar Budiarti.

Menurut dia, penggunaan teknologi perlu dilatih, bukan sekadar diperkenalkan secara teoritis. Guru perlu memahami manfaat sekaligus risiko AI agar teknologi tersebut dapat digunakan secara tepat.

Budiarti juga menyinggung penggunaan telepon pintar oleh masyarakat Baduy sebagai contoh bahwa perkembangan teknologi dapat berlangsung lebih cepat daripada kemampuan literasi dasar.

Karena itu, menurut dia, pengembangan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan literasi dan karakter.

IKA UNJ Dorong FDP Berkelanjutan
Ketua Umum IKA UNJ Sugeng Suparwoto yang diwakili Zaky Mahendra mengapresiasi kembali digelarnya Forum Diskusi Pedagogik.

Menurut Sugeng, FDP merupakan bagian dari tradisi intelektual IKA UNJ yang perlu dikembangkan sebagai ruang kajian pendidikan.

Ia berharap forum tersebut dapat dilanjutkan dalam bentuk FDP Series dengan pembahasan yang lebih mendalam mengenai kurikulum, teknologi, AI, kompetensi guru, dan karakter digital.

Forum tersebut juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara IKA UNJ, komunitas alumni, dan berbagai bidang keilmuan. Pendekatan multidisiplin dinilai diperlukan karena persoalan pendidikan digital dan STEM tidak dapat diselesaikan hanya dari satu perspektif.

Pendidik sebagai Kompas Moral
Forum Diskusi Pedagogik #1 IKA UNJ menyimpulkan transformasi digital perlu diikuti transformasi karakter.

Pendidikan tidak cukup hanya memberikan akses dan keterampilan teknologi. Peserta didik perlu dibentuk agar mampu menggunakan teknologi secara kritis, etis, aman, sehat, dan bertanggung jawab.

Literasi digital juga perlu diperkuat dengan etika digital, karakter digital, dan digital citizenship. Sementara guru tidak hanya dituntut menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi kompas moral bagi peserta didik.

Sekolah, keluarga, pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat perlu membangun ekosistem pendidikan secara bersama.
FDP #1 IKA UNJ diharapkan menjadi awal rangkaian diskusi mengenai tantangan pendidikan di tengah perkembangan teknologi.

Pesan utama forum tersebut adalah teknologi akan terus berkembang, tetapi manusia harus tetap menjadi pusat pendidikan.

AI dapat membantu manusia berpikir, tetapi tidak seharusnya menggantikan proses berpikir manusia. Teknologi semestinya memperkuat karakter, bukan melemahkannya. Dalam situasi tersebut, pendidik dituntut tetap menjadi kompas moral di era digital.[]

Comment